Soal Capres dan Cawapres 2019: Mari kita ukur, siapa nilainya berapa?

Oleh : Arya Hadi Dharmawan

Para netizen mungkin sulit menilai seseorang yang kini namanya bersliweran di medsos untuk menjadi Capres maupun Cawapres. Lalu sulit memberikan penilaian, mana dari nama-nama itu yang sejatinya layak memimpin negeri ini. Saya berikan beberapa kriteria (parameter) penilaian.

Caranya mudah. Tentukan nama Capres (katakanlah: Jokowi atau Prabowo atau siapapun) lalu berikan nilai 1 yang terendah sampai 10 yang tertinggi pada setiap parameter di bawah ini. Lalu berikan nilai untuk semua parameter.

Setelah itu jumlahkan semua nilai sejak parameter no 1 hingga parameter no 10. Bila angkanya mendekati 100 itulah yang paling baik.

Lakukan hal yang sama, untuk Cawapres yang bersliweran namanya seperti Cak Imin, pak Moeldoko, Din Syamsuddin, bu Sri Mulyani, bu Susi Pudjiastuti, mas Rommy, mas Airlangga Hartarto, AHY, Ustadz Abdul Somad, Salim Segaf, Maruf Amin, Anies Baswedan, Machfud MD, Chaerul Tanjung, dst.

Silakan berikan berapa nilainya...

Saya punya 10 Parameter (the magic ten) untuk menilai Capres/Cawapres tersebut sebagai berikut:

1. Partai (ada atau tidaknya partai pendukung) 
2. Penampilan fisik & mental plus kesehatan.
3. Panggung publik (seringnya tampil di publik)
4. Perbekalan (dukungan dana) 
5. Pengalaman (luasnya pengalaman hidup) 
6. Prestasi (pengakuan dari dunia), 
7. Pengetahuan (intelektualitas yg dimiliki), 
8. Program Kerja (konkretnya program),
9. Pilar Kebangsaan (tingkat komitmen pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945)
10. Personality (ketaqwaan pada Tuhan YME, kerendahan hati, tutur kata, konsistensi, track record pernah/tudaknya berurusan dengan hukum, kejujuran, kesederhanaan hidup, dst).

Monggo siapa mau menilai Capres atau Cawapres yang mana dengan nilai berapa. Ingat ya. Hanya menggunakan 10 parameter/kriteria di atas.

Saya menyimak...

Salam hangat
Arya Hadi Dharmawan

*Mari tunjukkan kepada netizen, tentang bagaimana cara memilih Capres/Cawapres yang baik melalui penilaian rasional. Bukan emosional*

Sumber : facebook Damar Wicaksono

Monday, July 30, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: