Soal Al Liwa dan Ar Rayyan Hanya Motif Politik

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Syarwat

Tidak semua pertanyaan bagus perlu dijawab. Kalau saya, tergantung motif dan kepentingannya. Kalau motifnya baik tidak neko-neko, ya wajar untuk ditanggapi. Tidak sedikit orang bertanya dengan polos tanpa ada motif tertentu.

Namun ada juga yang bertanya sekedar untuk dapat dukungan saja. Misalnya, rebutan harta waris dengan keluarganya. Lalu untuk menguatkan pendapatnya, datang ke saya tanya masalah waris.

Seakan saya ini dijadikan lawyer atau pengacara bayaran. "Pokoknya kalau menang dalam perkara ini, beres lah Ustadz". Begitu dia menjanjikan bagai makelar kasus.

Padahal yang saya sampaikan adalah ilmu fiqih, bukan keberpihakan dan bukan dukungan secara hukum.

Maka saya kurang suka menjawab masalah warisan, kalau sudah sampai urusan dukung mendukung dan urusan menang kalah. Sebab dalam pandangan saya, masalah waris adalah perkara ilmu syariah. Belajar dulu ilmunya sampai paham betul dan jalankan dengan benar.

Kalau semua pihak sudah paham, seharusnya tidak perlu ada rebutan harta. Kalau pun ada perbedaan pendapat secara fiqih, mudah diselesaikan dalam musyawarah se kelas makan malam bersama. Tidak butuh lawyer, pengacara, apalagi sidang pengadilan berjilid-jilid.

Yang terbaru pada banyak tanya tentang bendera, liwa dan royah. Saya dari awal tutup mulut, sebab saya merasa bahwa yang bertanya rata-rata cuma ikutan tranding topik saja.

Ada dua kubu politik lagi ribut, apa saja diributkan. Kadang saya merasa lucu saja. Kok jadi saya yang dimintai pendapat dari sisi hukum syariahnya?

Ini ibarat dua anak kecil doyan berantem. Apa saja bisa jadi sebab keributan. Urusan sepele, seupil, sekutil, selalu siap dijadikan ajang debat dan jadi status postingan yang tidak ada habis-habisnya.

Dalam pandangan saya, percuma saja menjawab, malah jadi ikut-ikutan meramaikan perdebatan.

Saya sih melihat bahwa membahas urusan liwa royah malah cuma buang-buang umur dan menyia-nyiakan waktu. Dijawab benar pun tetap tidak menyelesaikan masalah. Justru jawaban saya malah akan jadi bensin yang akan semakin membesarkan kebakaran.

Dan saya merasa kurang pas kalau malah jadi sumber keributan, atau malah jadi bahan amunisi menghabisi sesama saudara muslim.

Perang yang tidak ada habis-habisnya, urusannya sih lebih kental urusan dunia tapi bawa-bawa agama. Kapan sih kita bisa damai saja, tidak usah saling menyakiti dan mencaci? Masak hidup yang sebentar ini cuma diisi dengan saling benci?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

 

Monday, November 12, 2018 - 17:45
Kategori Rubrik: