Soal Afi, Apakah Anda Tak Pernah Jadi Remaja?

Oleh: Birgaldo Sinaga
 

Sebenarnya enggan saya menulis soal Afi. Apalagi soal postingan terbarunya yang membuat banyak orang terperanjat tidak percaya. Afi memposting video singkat dirinya sedang berbicara mengeluhkan orang-orang yang membully dirinya pasca tulisannya diketahui publik berasal dari karya tulisan orang lain.

Afi kali ini merekam dirinya sendiri berlakon seperti Amanda Todd, gadis remaja korban bullian yang nasibnya tragis mati bunuh diri. Sulit mengingkari rasanya Afi bukan saja ingin meniru gaya Amanda seperti Norman Kamaru meniru Sahrukh Khan menyanyikan lagu India itu, tapi saya bisa merasakan Afi hendak menyampaikan isi hatinya. Perasaannya yang terluka. Kegundahan pikirannya. Jiwanya yang tertekan. Hatinya yang rapuh.

Melihat Afi dengan kacamata orang dewasa tentu keliru. Mencoba memahami Afi dengan kebatinan orang dewasa tentu tidak pas. Apa yang terjadi dengan Afi hanya bisa kita mengerti jika kita orang dewasa kembali pada diri kita saat seumuran dengan Afi. Saat kita remaja seusianya.

 

 

Ini penting agar kandungan isi hati, jeritan Afi, keinginan Afi, hasrat Afi, ambisi Afi atau apapun isi hati pikirannya bisa kita mengerti karena kita juga pernah remaja seperti Afi. Kehidupan remaja yang kompleks dengan emosi, jiwa dan pikiran yang labil dinamis.

Bayangkan kehidupan masa remaja kita sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Apa yang kamu alami?

Saya termasuk remaja introvert masa 90an. Rasa rendah diri menyelimuti pikiran perasaanku. Di saat teman2ku punya cerita heboh riang gembira, saya malah sibuk dengan dunia sepiku. Saya punya dunia sendiri yang saya tidak ingin teman2 ku tahu.

Sepulang sekolah SMP hingga masa SMA harus bekerja paruh waktu di pabrik perabot dan bengkel truk. Saat teman2ku sibuk bimbingan belajar, saya malah asik membuat sofa kursi di pabrik perabot Ko Tau. Atau mengamplas body truck yang penyok di Bengkel Ko Abun. Semuanya untuk keseimbangan hidup. Hidup perlu makan, makan untuk hidup.

Dalam dunia introvert yang asing itu, Ia membentuk kepribadian yang menjauhkanku dari dunia remaja yang sejatinya penuh gelak tawa canda gembira. Maklum kata Lupus masa remaja itu masa paling indah. Semua serba enak. Proses mencari jati diri membentuk genk pertemanan sealiran. Bisa genk olahraga Genk musik atau genk hobby yang sama seperti nakal suka tawuran.

Setiap remaja pasti punya keinginan ingin menjadi seseorang yang diidolakannya. Dalam pencarian jati diri itu, saya suka dengan sosok pembaca berita TVRI dan RRI. Saya ingin seperti pembaca berita seperti om Yasir Denhas, Hasan Ashari Oramahi dan Yan Partawijaya.

Mereka pembaca acara Dunia Dalam Berita favorit saya. Sejak kelas satu SMP saya belajar meniru mereka. Saya meniru intonasi Yasir Denhas saat membaca berita. Suaranya yang berat dengan aksen khas menarik perhatianku. Saya berusaha bisa seperti mereka. Caranya meniru dan mengulang ulang intonasi, artikulasi hingga penekanan kata utama pada kalimat berita yang dibacakan.

Saat teman2ku membaca dengan intonasi datar dgn jeda penggalan kata yang tidak pas, saya sudah mahir membaca seperti pembaca dunia dalam berita itu. Saya masih ingat saat kelas 3 SMP, kemampuan saya membaca sudah mirip pembaca berita Dunia Dalam Berita.

Saat kelas 1 SMA, saya sering didapuk teman2 untuk membaca essai. Setelah selesai membaca, teman2 dengan spontan koor bersama menyanyikan jingle slogan TVRI " TVRI Menjalin Persatuan dan Persatuan". Seisi ruangan tertawa tergelak. Persis banget kayak Dunia Dalam Berita. Begitu teman2 saya memuji.

Teman saya, Iyus lain lagi. Ia terobsesi menjadi Michael Jackson. Ia ingin menjadi idolanya Michael. Setiap hari Ia berlatih gaya Michael. Setiap gerakan Michael ditiru habis. Tarian Black or White benar2 dikuasainya.

Pernak pernik asesoris Michael dikoleksinya. Sepatu, topi, baju, celana, kaos kaki, gelang hingga kalung semua dimilikinya. Kadang kami dibuat terkejut dengan tingkahnya.

Bayangkan saat kami rombongan anak kampung sedang berjalan kaki, tiba2 dia berhenti. Lalu dengan sigap Ia pasang kuda2 menari ala Michael Jackson sambil mulutnya teriak uhh...yeahh..Black or White. Setiap hari dunianya adalah dunia Michael Jackson. Mungkin suara kentut Michael jika ada akan ditirunya.

Lain lagi kawanku Harry. Ia senang pembalap Formula One Aryton Senna. Lagaknya sungguh menjengkelkan. Bayangkan saat kami main kejar-kejaran, Ia berlari sambil meniru Aryton Senna membalap. Mulutnya dimonyongkannya dengan mengeluarkan suara..brummmm..brummmmmnn...persis suara knalpot mobil formula one. Tingkahnya menyebalkan. Saban hari membalap padahal sedang berjalan kaki. Uhhh.

Begitulah dunia remaja. Sejatinya anak remaja punya dunia sendiri yang sulit dimengerti orang dewasa. Remaja sering dinilai orang dewasa dunia labil yang sedang mencari jati diri. Mencari bentuk. Mudah goyang. Rapuh.

Apa yang dialami Afi saat ini bisa saya selami dengan pengukuran dunia remaja. Dunia yang sedang mencari jati diri. Sayangnya masa remaja Afi ini Afi hidup dalam dunia jejaring sosial yang terkoneksi dengan semua orang.

Berbeda dengan masa remaja saya yang terbatas hanya pada teman2 sekolah dan sepermainan tempat tinggal saja. Dunia remaja Afi sekarang bak dunia hutan buas di mana semua penghuni hutan belantara adalah makhluk buas yang siap menerkam dan mencabik jika berbeda habitat dan selera.

Membayangkan tekanan batin seorang gadis muda seperti Afi hanya bisa kita rasakan jika kita orang dewasa kembali mengingat dan menjadi remaja kembali. Punya daya tahan bermental baja menghadapi ejekan kawan2 sepermainan itu saja tidak mudah apalagi menerima ejekan dan cacian dari puluhan ribu orang.

Saya masih ingat pernah diejek karena di wajahku tumbuh penuh jerawat. Ejekan itu saja sudah bikin muka merah dan kepala tertunduk, bagaimana lagi dengan kondisi psikis Afi yang menerima hujaman bullian sadis tanpa perasaan itu. Sungguh mengerikan. Saya bisa merasakan tekanan batin Afi.

Jika kita punya hati dan perasaan pernah menjadi remaja yang sedang mencari jati diri, apa yang dilakukan Afi dengan imajinasinya tidaklah perlu kita hakimi dengan nada sumbang penuh kebencian.

Orang dewasa yang pernah menjadi remaja pasti tahu bahwa apa yang dilakukan Afi sedikit banyak pernah kita lakukan. Kecuali kita tidak pernah hidup sebagai remaja. Tiba2 melompat dari kanak2 menjadi orang dewasa. Begitulah kumur-kumur.

Salam perjuangan

(Sumber: Facebook Birgaldo Sinaga)

Tuesday, July 11, 2017 - 13:45
Kategori Rubrik: