Soal Adzan Jihad, Kami Memaafkan Tapi Mereka Harus Tetap Dipidanakan

Ilustrasi
Oleh : Vinanda Febriani
 
Saya ikut prihatin beberapa waktu lalu beredar video lantunan azan yang diubah teksnya "Hayya 'alash sholah" menjadi "Hayya 'alal Jihad". Pengubahan ini dimaksudkan untuk mengajak umat Islam bersatu membela seseorang yang pada kenyataannya memiliki masalah terhadap hukum di Indonesia, mengajak umat Islam untuk berbuat makar, menentang hukum yang telah disepakati bersama, serta berbuat kerusuhan dan adu-domba antar sesama anak bangsa. Tentu ini ajakan yang sangat bertentangan dengan teladan Rasulullah SAW.
Dalam salah satu video yang beredar, terlihat jelas beberapa orang menenteng senjata tajam seperti pedang dan clurit. Logika saya, ini tak mungkin tidak disengaja. Sebelum men-take video, tentu orang-orang ini telah merencanakan beragam teknisnya. Seperti membawa senjata tajam hingga pengubahan teks Azan, tentu bukanlah sebuah spontanitas. Apalagi, ajakan ini tidak hanya di satu tempat, namun setidaknya ada enam tempat yang berbeda. Salah satunya berada di sebuah masjid di kawasan Petamburan, Jakarta.
Saya pikir, ini berbahaya sekali. Seperti apa yang disampaikan oleh Ketua MUI Jabar bahwa azan ini adalah bentuk penistaan terhadap agama. Beberapa tokoh dari kalangan Habib, NU, serta Muhammadiyah juga turut mengecam keras serta meminta Polri mengusut tuntas kasus ini.
Para pelaku ini, mereka berada di tengah dukungan masa yang cukup besar. Pengaruhnya juga demikian. Mereka adalah golongan yang fanatik dengan agama, fanatik dengan seorang tokoh yang mereka elu-elukan sebagai "Imam Besar". Apabila masalah ini berhenti pada tahap Klarifikasi dan permohonan maaf saja, tentu kedepan akan banyak orang yang dengan seenaknya berbicara provokatif karena toh nanti hukumannya hanya bikin klarifikasi dan minta maaf saja.
Kalau sudah begini, keberadaan hukum seolah-olah hanya buat pencitraan dan untuk menindas mereka yang lemah saja, kelompok minoritas Ahmadiyah misalnya.
Saya berharap Polri benar-benar serius mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi serentak ini. Siapakah yang menjadi provokator di balik pengubahan lafadz azan yang mulia, menjadi lafadz untuk mengadu domba seperti ini. Penting untuk kasus ini segera dituntaskan dan dalang utamanya segera dijerat hukuman.
Sebab bagaimanapun, itu upaya provokasi untuk melawan hukum, memecah-belah keutuhan dan persatuan NKRI, serta tentu saja ajakan untuk berbuat makar terhadap pemerintah yang sah. Saya rasa Undang-undang di Indonesia melarang tindakan makar ini.
Semoga negara dan aparat penegak hukum tidak mengalah dengan siapapun dan dari ormas manapun. Negara harus berdiri di atas semua kepentingan, semua agama dan kepercayaan.
Tenang saja, kami sudah memaafkan prilaku para pelakunya. Tetapi, kami tetap menuntut Polri agar berlaku tegas terhadap kaum bughot seperti ini. Bukan hanya pada kasus ini saja. Tetapi kasus yang lain pun demikian.
Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Jangan sampai hukum runcing ke bawah, namun tumpul ke atas. Jangan sampai hukum di Indonesia runcing ke minoritas, namun tumpul saat berhadapan dengan arogansi mayoritas.
Jangan sampai. Memangnya, mereka ini siapa??
Sekali lagi, hukum tetaplah hukum. NEGARA TIDAK BOLEH KALAH DENGAN SIAPAPUN DAN ORMAS MANAPUN!!
-Vinanda Febriani
=================
Sumber berita:
1. Pelaku Adzan Jihad Minta Maaf, MUI Jabar: Itu Pelecehan Agama (https://www.google.com/.../pelaku-adzan-jihad-minta-maaf...)
2. Warga Majalengka Penyeru Azan Jihad yang Viral di Medsos Minta Maaf (https://www.google.com/.../warga-majalengka-penyeru-azan...)
3. Polisi Pastikan Usut Ajakan Jihad di Majalengka (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qkr4o5328)
 
Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani
Saturday, December 5, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: