Soal 10 WNI, Tidak Ada Uang Tebusan, Hanya Al Quran, Kopiah, Kopi, Bakpia dan Peyek

Oleh : Suci Handayani

Setelah lebih dari sebulan di tahan, akhirnya 10 WNI yang disandera kelompok garis keras yang berafiliasi dengan Abu Sayyaf dibebaskan. Penyanderaan ABK dari kapal Brahma 12 tersebut terjadi sejak 26 Maret 2016.

Sejak mendapatkan kabar penyanderaan WNI tersebut, pemerintah Indonesia langsung mengambil sikap. Salah satunya upaya diplomasi untuk memastikan langkah pemerintah Filipina dalam menyelamatkan sandera tersebut. Meskipun pemerintah harus menahan diri karena tidak bisa mengirimkan tentara untuk menyelamatkan sandera karena penolakan Filipina yang akan berupaya membebaskan sendiri 10 WNI yang di sandera di negaranya.

Kita semua patut bersyukur dan mengapresiasi pemerintahan Jokowi yang berhasil melaksanakan misi membebaskan 10 WNI tersebut. Tidak hanya keluarga 10 WNI yang merasa senang dan bahagia, tentunya kita se-Indonesia juga merasakan hal yang sama.

Meskipun pada perkembangannya ada sejumlah hal yang menjadi tanya dan terus bergulir dalam tanya. Setidaknya ada dua hal yang menjadi perdebatan.

Pertama, soal pihak yang terlibat dan berjasa dalam upaya pembebasan.

Sangat disayangkan jika pasca pembebasan tersebut, ada pihak-pihak yang mengklaim paling berjasa dan berperan. Sebutlah kelompok Surya Paloh dengan Yayasan Sukma-nya dan Mayor Jenderal Purnawirawan Kivlan Zen, salah satu anggota tim negosiator. Masing-masing pihak terus membuat statement tentang peran mereka dan sepertinya mengabaikan peran yang lain.

Kivlan Zein, seperti dikutip dari beberapa media, mengatakan bahwa tidak yayasan atau partai mana pun yang terlibat dalam upaya penyelamatan ini.

Sementara dari pihak sebelah, yang saat itu menjemput 10 WNI dengan pesawat pribadinya, mengklaim bahwa pembebasan tawanan berkat campur tangan Yayasan Sukma yang notabene lembaga yang berafiliasi dengan Partai Nasdem.

Kalau menyimak pernyataan kedua belah pihak, saya jadi teringat akan masa Pilpres yang lalu. Di mana Kivlan Zen adalah pendukung setia Prabowo sementara Surya Paloh adalah pendukung Jokowi. Apakah kedua pihak masih terus mempertahankan pernyataanya tentang keterlibatan masing-masing sebagai upaya untuk memperlihatkan kekuatannya? Sebagai kelanjutan hubungan panas, rivalitas di masa lalu? Ah entahlah.

Rasanya itu tidak penting. Terlepas dari siapa yang berjasa dalam membebaskan 10 WNI, yang jelas terbebasnya WNI tersebut karena campur tangan banyak pihak. Jokowi dengan cepat merespon dan mengambi langkah-langkah untuk pembebasan 10 WNI salah satunya upaya diplomasi, dengan membentuk tim negoisator, sementara pihak lain juga berupaya untuk terlibat dan membantu. Tak lepas juga dari campur tangan pemerintah Filipina, salah satunya melalui Gubernur Sulu Abdusakut Toto Tan II yang merupakan keponakan pemimpin Moro National Liberation Front (MNLF), Nur Misuari.

Gotong royong antar banyak pihak rasanya kalimat yang pas untuk menjawab siapa yang berjasa dalam pembebasan 10 WNI tersebut. Artinya kerjasama dan diplomasi total dari tim negoisator yang terdiri dari banyak pihak adalah kunci dari keberhasilan misi tersebut.

Kedua, perihal uang tebusan.

Seperti diketahui, kelompok yang menyandera 10 WNI meminta uang tebusan sebesar 50 juta peso atau setara dengan Rp 14,2 miliar. Pada awalnya mereka mengancam agar pemerintah Indonesia memberikan uang tebusan dengan tegat waktu. Tetapi saat uang tebusan tidak diberikan, toh 10 WNI tetap selamat.

Yang menarik, saat kesepuluh WNI dibebasakan, beredar rumor yang semakin hangat dan terus diperdebatkan. Bahkan mantan Presiden RI, Megawati sempat kelepasan bicara bahwa jelas saja sandera dilepas karena telah dibayar, diberikan uang tebusan.

Sementara pihak-pihak yang mengaku terlibat di dalam upaya pembebasan mengatakan tidak ada uang tebusan. Kivlan Zen menjadi satu dari sejumlah negosiator menyebutkan bahwa bebasnya 10 WNI murni dari hasil negosiasi. Saat itu memang uang tebusan telah disiapkan, tetapi uang tersebut kembali dibawa pulang.

Senada dengan tim negoisator, pemerintah melalui Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengakui sama sekali tidak ada uang tebusan dalam pembebasan 10 WNI tersebut.

Kemarin sore (3/5/2016), di Metro TV, Dessy Fitriani, jurnalis Metro TV yang saat itu berada di TKP dan ikut meliput langsung proses pembebasan 10 WNI, juga mengatakan bahwa tidak ada uang tebusan. Alih-alih ada uang, mahar yang diberikan hanya Al Quran sebanyak 40 kg, kopiah Aceh, keripik tempe, peyek, dan bakpia pathuk.

Jika menyimak dari penjelasan banyak pihak tersebut, saya kira cukup jelas bahwa WNI bebas tanpa uang tebusan yang bermilyar-milyar tetapi dengan sedikit uang untuk membeli kopiah, al quran, kopi, bakpia, peyek dan kripik tempe.

Jadi sudahlah, yang sudah jelas biarkah terus jelas dan semakin terang benderang. Pihak-pihak yang telah berperan dalam misi pembebasan 10 WNI tersebut tetap kita apresiasi . Sekali lagi pihak-pihak yang terlibat, jadi bukan hanya satu pihak saja.

Semoga PR satu lagi untuk membebaskan 4 WNI yang ditawan belakangan juga bisa diselesaikan secara mulus. Amin YRA. ** (ak)

Sumber : Facebook Suci Handayani

 

Thursday, May 5, 2016 - 06:30
Kategori Rubrik: