Slilit Sang Munafik

Oleh: Biakto

 

Sahdan ramai hajatan pilkades di satu wilayah, pendukung saling menghujat, caci maki bersemburan saling membalas, kadang sudah tak ada lagi adab sbg manusia pada umumnya.

Ada banyak kelompok opportunis yg saling menunjukkan mulut manis kelimis utk ngemis, dan mengambil kesempatan kepada salah satu kontestan utk sekedar cari makan karena mereka tau si calon bermuka balon banyak duitnya utk di poroti dgn menyanjung dan membuatnya limbung, serta dijanjikan menang sbg lurah desa yg pantas dgn gaya yg pas.

 

Tak kurang hebatnya kelompok jadi-jadian sbg ulama, penggiat agama, sampai yg munafik berjubah segalanya. Dia mengerti budaya, tau agama, ngerti politik, tukang kritik, tak mau bersalaman dgn penguasa bahkan katanya tidak akan mencium bau istana, bila ada undangan kesana, karena dia bukan penjilat penguasa, itu katanya, bukan fakta dan kenyataannya. Karena orang semua tau dia siapa, bgmn sepak terjangnya. Ah andai saja dia punya kaca dirumah, dan berkaca dgn sejujurnya, maka hatinya akan berkata, bahwa dia sejatinya adalah orang yg mencintai dunia bukan berlagak seperti ecek-eceknya membela rakyat dan pengeritik pemerintah, menyatakan semua tak benar, hanya dia yg membenar-benarkan diri, tapi sejatinya kelakuannya ngeri kali.

Siapa yg tak tau pendukung salah satu calon kepala desa ini, dia membaluti diri seperti orang bersahaja, tapi mampirlah kerumahnya, lihat gaya hidupnya. Saya jadi ingat kelakar orang Yahudi, 90% orang kaya didunia adalah Yahudi, mereka tidak kemaruk harta, suka pamer didunia, uang mereka ditanam pada saham, diputar sebagai usaha, pajaknya dibayarkan kenegara, membantu orang kerja melalui usaha yg mereka bangun via saham yg dijalankan. Siapa yg punya istana dimana-mana, orang Arab sbg lambang superioritas islam dibidang kekayaan, tapi 1.000 km disebelah negaranya ada jutaan rakyat Yaman yg berlomba dgn kematian krn kekurangan makan. Raja Brunei punya 7.000 unit mobil, istana kubah emas, disebelah istananya ada masyarakat Dayak yg masih berburu monyet utk dimakan dan tak bisa baca tulis. Ironis, tapi kalau kita ingatkan mereka cuma meringis bengis.

Ingat sang pendukung cakades yg teriak netral gak taunya viral karena orang kampung semua tau tercium bau sesajen bahwa kenetralannya cuma mainan, luar biasa memang magnit dunia dan kekuasaan. Sang kiayipun dibalut kemunafikan yg memilukan, sayang rakyat masih setengah siuman, ada orang pakai sorban mereka mencium tangan, mereka gak tau yg dicium itu tangan setan. Ada yg teriak pembela wong cilik semuanya mendelik, mereka gak terasa diumpankan utk kemudian sang kiayi menikmati hasil kemaksiatan melalui tindakan yg memalukan. Dia itu bukan kiayi mas, dia cuma belagak jd kiayi utk gampang ngakali orang cilik yg cuma dikasi gimik berupa iming-iming simpatik. Hehe kalian belum tau ya, tapi sebenarnya kalian sudah terasa, hanya saja, kalian terpesona oleh retorikanya yg menggema, siumanlah kawan agar kalian tidak jadi korban dijadikan umpan, kalian masuk keperut ikan, sementara kailnya dia yg menarik dan mendapat ikan sekaligus kalian yg ada didalam perut ikan. Bedanya ikan akan dinikmatinya, sementara kalian yg jd isi perut ikan akan dibuang keselokan.

Selilit, adalah sisa makanan diselah gigi yg tak tertelan, berupa apa saja kalau kelihatan akan mengganggu penampilan, atau kalau dibiarkan bisa menimbulkan bau mulut yg memualkan. Sayang mereka lupa setiap gigitan akan meninggalkan bekas, hanya kedalaman gigitan yg membedakan, dan setiap gigitan akan meninggalkan sisanya disela gigi, dan dari sisanya orang tau sang kiayi baru makan apa, dimana, dgn siapa, dan mungkin saja baru makan siapa. Bisa juga bini kawanpun tak lepas utk disapa, ahai nikmatnya dunia.. Tapi jangan lupa ada selilit yg tinggal disana.

(Sumber: Facebook Biakto)

Monday, May 13, 2019 - 00:15
Kategori Rubrik: