Skema Cari Uang Gaya Monyet

Oleh: Erizeli Jely bandaro

 

Saya akan menggambarkan skema cari uang mudah. Tapi ini hanya pengetahuan. Tulisan ini berlaku bagi orang dewasa saja. Usia diatas 20 lebih. Jadi saya tidak bertanggung jawab atas konten yang ada. Di minta kedewasaan dan kebijakan anda membacanya***

 

Katakanlah ada pemilik tanah seluas 1000 hektar menemui anda.

“ Apakah anda tertarik membeli tanah ini “ kata pemilik tanah.
“ Berapa harga per M2?
“ Rp. 100.000 “ Kata pemilik tanah. Anda tahu pasaran tanah itu hanya Rp. 50.000 pe M2. Wajarlah kalau ditawarkan mahal. Agar ada ruang untuk negosiasi. Pasti alot negoasiasinya. Jadi gimana bisa menang dalam negosiasi?
“ Gimana kalau saya beli dengan harga Rp. 200.000. “ Kata anda kepada Pemilik Lahan. Ya, ingat, bahwa yang datang kepada anda itu bukan orang miskin. Mereka orang kaya. Kalau engga kaya engga mungkin dia punya tanah 1000 hektar.
“ Nah gimana dealnya? “ kata pemilik lahan. Tawaran anda tidak akan dianggap becanda. Pasti serius.
“ Kita kerjasama. Saya akan create value agar tanah anda berharga dua kali lipat dari harga yang anda mau..“ 
“ Dananya darimana ?
“ Dari pasar modal. “
“ Caranya gimana? kan perlu perusahaan yang sudah IPO. Emang perusahaan kamu udah IPO?
“ Kita akan akuisisi perusahaan yang sudah IPO yang sahamnya sudah tidak lagi bergerak. Kita take over melalui bursa. Uang untuk akuisisi saya siapkan.”
“ Terus”
“ Setelah kita akuisisi, perusahaan itu kita restruktur pemodalan dengan nyemplungkan tanah anda kedalam perusahaan. Modal jadi naik. “
“ Terus..”
“ Kita buat studi kelayakan untuk membangun proyek property. Kita lengkapi izin ini dan itu. Kita kampanyekan proyek itu. Nilai proyek akan mencapai 100 kali dari harga tanah. Karena dengan adanya studi kelayakan yang legitimate, nilai future bisa dihitung. Tanah yang tadinya Rp. 200.000 jadi Rp. 2 juta. Gimana ? 
“ Saya setuju. Apakah saya bisa dapat uang Rp. 200.000 sebelum proyek dibangun? “ Kata pemilik tanah. Perhatikan. Cara berpikirnya yang memang cerdas. Dia tidak tertarik dengan future. Dia hanya tertarik kapan anda bayar tanahnya. 
“ Setuju. Kalau begitu kita buat perjanjian kerjasama pembangunan proyek. Karena saya butuh perjanjian itu untuk mempersiapkan uang membiayai proses sampai bisa jual saham di bursa. “ 

***
Darimana anda dapakan uang untuk memproses kerjasama itu sampai target jual saham di bursa terlaksana? Gampang aja. Anda datangi asset manager yang pegang saham perusahaan yang udah mati suri itu. Tawarkan skema itu dan harga pembelian yang bagus agar dia dapat fee lebih besar dalam proses akuisisi. Dia pasti tertarik. Apalagi anda perlihatkan kerjasama dengan pemilik lahan, yang lahannya memang ada. Dia akan carikan investor yang mau biayai proses itu. Dan anda tunjuk asset manager itu sebagai penasehat investasi anda. Complete kan. Saling kendali.

Selanjutnya proses dilaksanakan, dari sejak pengambil alihan perusahaan lewat bursa, sampai kepada restruktur permodalan, pembuatan studi kelayakan, proses perizinan proyek, dan lain sebagainya. Setelah semua lengkap. Anda ajukan izin kepada OJK untuk melakukan right issue ( penerbitan saham baru). 

Siapa pembeli sahamnya? Anda tawarkan kepada Dana pensiun, atau perusahaan Asuransi yang kelola dana investasi. Pasti dana pensiun dan Asuransi tertarik. Mengapa? Karena saham anda punya underlying lahan yang sudah dikuasai. Ada izin yang melengkapi, Ada studi kelayakan. Andaikan proyek tidak jalan, asset tanah tidak hilang. Bagaimana proses jual beli saham sehingga harga pasar nampak wajar, itu urusan asset manager yang atur.

Dari hasil penjualan saham di bursa itu, anda bayar kepada pemilik lahan Rp. 200.000/M2. Agar neraca nampak bagus dan tidak keliatan pengambilan modal oleh pemegang saham, itu bisa diatur sebagai transaksi dengan konsultant dan EPC. Toh uang keluar itu hanya 10% dari value tanah yang ditetapkan dalam rencana bisnis.

Apakah cukup? masih ada phase berikutnya. Setelah melepas saham di bursa, anda terbitkan MTN (obligasi) untuk mendapatkan dana dari bursa. Siapa pembeli MTN itu? ya dana pensiun, atau perusahaan Asuransi. Mereka senang deal dengan anda. Karena underlying nya berupa tanah yang sudah dikuasai.

Nah dari transaksi itu, anda dapat uang dari bursa lewat lepas saham (right issue). Dari penjualan saham ini anda dapat uang untuk bayar tanah. Kemudian dari jual MTN anda dapat uang untuk membangun proyek. Tapi karena dari awal modus nya main tanah, maka tujuan hanya berhenti setelah dapat uang dari bursa. Katakanlah dari harga tanah yang melekat pada saham Rp. 2 juta per M2, anda dapat Rp. 500.000. Selebihnya dipakai untuk goreng saham. Agar lama baru ketahun boongnya. Tapi dari tanah saja anda udah untung Rp. 300.000. 

Kemudian masih ada lagi untung dari jual MTN. Gimana bayar MTN ketika jatuh tempo? Uang dari hasil jual MTN itu anda gunakan untuk beli tanah di lokasi lain dengan harga murah. Kemudian buat appraisal yang dilengkapi business plan. Tanah anda jual kepada Dapen atau Asuransi untuk bayar MTN anda yang jatuh tempo. Artinya utang MNTN bayar pakai hasil jual tanah dengan harga mark up lagi. Anda untung lagi dari jual tanah lewat MTN. Dana pensiun atau asuransi senang. Karena mereka dapat fee lagi.

Dengan bisnis monkey seperti cerita diatas, anda bisa kaya raya, tanpa ada resiko apapun. Kalau akhirnya kasus itu menimbulkan masalah dengan investor yang beli saham karena harga saham terjun bebas. Menimbulkan masalah dengan investor yang beli MTN, karena jaminan lebih rendah dari value MTN. Anda tetap aman. 

Karena semua dilakukan secara legal oleh lembaga yang legitimit dan disetujui oleh pemerintah lewat OJK. Apalagi dengan kekayaan itu anda berlaku sebagai filantropi. Dekati ormas, dan politisi, partai. Bagi bagi uang. Everybody happy. 

Mereka akan jaga anda kalau terjadi kasus.

 

(Sumber: Facebook DDB)

Sunday, January 12, 2020 - 16:30
Kategori Rubrik: