Skandal Ratna Sarumpaet, Penjahatnya Hanya RS atau Berkomplot?

Oleh: Niken Satyawati

 
Setelah kebohongannya terbongkar, Ratna Sarumpaet akhirnya terpaksa mengaku. Dia memproklamasikan dirinya sebagai pencipta hoax. Itu dilakukannya setelah segala bukti yang dikumpulkan polisi dibantu masyarakat menunjukkan informasi penganiayaan yang digembar-gemborkan gerombolannya ternyata palsu.
 
 
Sebenarnya ada dua kemungkinan dari kasus ini. Kemungkinan pertama: Ratna Sarumpet seorang diri yang berbohong, kemudian di luar itu seluruh timses dan capres hanya korban kebohongannya. Kemungkinan kedua adalah sejak awal sebenarnya mereka berkomplot. Ini bisa dilihat dari begitu massifnya informasi yang beredar tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet. RS sendiri tidak pernah bicara ke publik tentang penganiayaan dirinya. Ini aneg sekali karena dia tipe orang yang emosional dan frontal. Orang yang dikit-dikit teriak dan mengancam akan memakai kekuasaan untuk menyelesaikan hal kecil. Contoh kecil seperti ketika dia kena tilang, dia ancam petugas katanya mau dilaporkan Anies Baswedan. Apalagi ini penganiayaan, yang skalanya jauh melebihi kasus tilang. 
Ratna bungkam. Tapi tim Prabowo yang koar-koar. Ada Rachel Maryam, Fadli Zon, Mardani Ali Sera, Benny Harman, Rocky Gerung. Mereka menggonggong sambil menuding pihak Presiden Jokowi sebagai pelakunya. Tak lupa dimasukkan unsur PKI untuk membangkitkan ketakutan masyarakat. Jangan lupakan peran Hanun Rais yang menyatakan dia dokter (gigi) dan bisa membedakan mana leban karena dipukul dan dioperasi. Hanum di video juga sempat bikin drama nangis-nangis  sambil menggandeng RS, menyebutnya sebagai Tjoet Nja’ Dien dan Kartini masa kini. 
Kemungkinan kedua ini sangat masuk akal apalagi kalau melihat bagaimana mesin politik Prabowo ini begitu massif menjadikan kasus penganiayaan palsu ini sebagai panggung mereka. Prabowo sendiri tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Tak perlu menunggu lama. Setelah Fadli Zon muncul dengan foto bareng RS yang lebab, lalu Prabowo datang menjenguk dan membuat konferensi pers khusus terkait penganiayaan RS. 
Kalau yang ada adalah kemungkinan pertama,  Prabowo tidak berdaya dan kehilangan kendali atas timsesnya sendiri dengan membiarkan dirinya ditipu mentah-mentah. Hal ini bertolak belakang dengan citra dia yang sedang dia bangun. Bila kemungkinan kedua, berarti Indonesia sedang terancam oleh kejahatan kolektif, dan orang-orang itu ingin berkuasa atas negeri ini.
Apapun kemungkinannya, Prabowo dan kelompoknya itu jelas-jelan merupakan gerombolan yang tidak punya empati, pengkhianat, tidak loyal, tidak peduli, tidak ada empati, dan tidak peka terhadap puluhan ribu saudara kita yang kini sedang menderita karena gempa dan tsunami di Palu. RS, seperti biasa juga hanya bisa cari panggung dari bencana-bencana namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Apa yang dilakukan Prabowo dan gerombolan ini adalah hal yang memalukan dan tidak mencerminkan sikap pemimpin. Dalam kondisi bencana, mereka masih mau memainkan berita palsu dan membela seorang pembohong. Semua hal tersebut menujukkan Prabowo tidak layak sebagai penyambung lidah rakyat. Sudah selayaknya dia mengundurkan diri saja dari kontestasi Pilpres. 
 
Skandal penganiayaan Ratna Sarumpaet  ini juga cuma salah satu dari banyak kebohongan yang mereka buat dan simpan selama ini. Cepat atau lambat akan bocor dan muncul kembali kebohongan-kebohongan lainnya lagi. 
Bagaimana jika kelak kelompok ini berkuasa dan Prabowo menjadi presiden, apa yang akan dilakukan pada rakyat? Bagaimana mau menjaga negara kalau mereka sendiri penjahatnya.
Friday, October 5, 2018 - 03:30
Kategori Rubrik: