Skandal Pesohor, Absurditas Selera dan Industri Rasa Sakit

Oleh : S Aji

Dalam banyak ukuran, bagi saya, pesohor serupa Saipul Jamil adalah produk yang tidak seharusnya laku dalam industri tontonan. Di mata saya, ia tidak memiliki ciri dan karakter karya yang membuatnya pantas disebut sebagai penghibur terbaik yang pernah dilahirkan musik dangdut. Ia juga tidak memiliki latar riwayat bermusik yang tumbuh merayap dalam tekanan represi cita rasa oleh rezim politik otoriter. Tapi faktualnya, yang serupa ini, bisa bertahan dan terus memiliki “massa”. Jadi apa bedanya produk seperti ini dengan politisi yang sudah jelas tersangkut kasus korupsi namun tetap memiliki pendukung yang mengeluk-elukannya?

Maaf, saya bukan haters Ipul karena pernah jatuh hati pada Dewi Persik. Sorry, saya tidak punya cukup hati untuk memberi rasa benci pada para pesohor. Acuan idola dalam industri tontonan tanah air saya biarlah selalu untuk Vonny Cornelia. Huuks.

Saya hanya bertanya, jika para pesohor yang tidak menonjol dalam karya dan sejarah bermusik terus bisa bertahan dalam industri tontonan seperti politisi gagal merealisasi mandat namun selalu bisa menang pemilu, maka, masalahnya ada dimana?

Pada para pesohor itu? Atau pada kita yang selalu menyediakan diri untuk terus menabung pesona semu mereka di depan televisi dan merelakan para remaja pergi berjejer menjadi penonton alay di depan panggung?

Pertanyaan ini sepertinya harus terus diajukan mengingat satu logika berikut : jika industri pesohor-tontonan memosisikan masyarakat penonton sebagai pembeli dan para pesohor adalah barang dagangan, maka kita perlu melihat ke diri sendiri secara lebih dalam lagi. Jangan menyalahkan pasar, jangan mendoakannya akan berubah dengan mantra yang bersumber pada moralisme yang basi atau malah kemarahan yang munafik.

Lupakanlah, pasar adalah pasar Cooi, negara (baca: KPI) saja dipukulnya mundur berkali-kali, apalagi sekedar kecemasan moral penonton yang seperti gelembung sabun di kala mencuci itu, hiks hiks hiks. Palsuu!

Saya percaya, ketika negara kalah, pasar hanya berhenti jumawa jika kita berani menolak dikolonisasi oleh simulasi kebohongan dalam iklan. Kita sepertinya memang harus lebih tegas menilai mana kebutuhan dengan keinginan. Pada ujungnya, berhadapan dengan pasar, keputusan berada di tangan individu.

Artinya, secara terbalik, kita juga semestinya tegas menduga bahwa ketika para pesohor yang “ecek-ecek” bahkan terpapar skandal itu boleh terus bertahan memenuhi waktu-waktu tayang utama dan industri tontonan menjadi penuh sesak dengan yang sejenis ini, maka dalam realitas masyarakat tontonan ada ruang batin yang sesungguhnya "sedang sakit".

Setuju?

Ruang batin yang sakit mungkin bisa disebut sebagai permisivitas yang absurd. Atau juga boleh disebut sebagai pemujaan yang ganjil. Atau juga boleh dijuduli sebagai perayaan kebodohan yang banal. Tapi apakah dengan mengutuk seperti ini, maka masalahnya selesai?  Tidak, selalu pasti tidak selesai.

Maaf sekali lagi, ini bukan evaluasi moral individual. Ketika skandal terjadi karena alasan khilaf, lalu kemarahan penonton meledak kemana-mana dan negara segera bertindak atas nama hukum, maka kita sebaiknya jangan merasa sedang menegakkan yang benar. Bagi saya, reaksi seperti ini seolah memadam kebakaran di pemukiman yang sama setiap tahun.

Mengapa moralisme tidak relevan?

Karena pertikaian moralisme berhadapan skandal pesohor dalam hukum pasar hanya akan menjadi lelucon yang gagal faham. Ketika kita memilih bergemuruh dalam polemik moral skandal pesohor, kita justru menafikan pergeseran dalam logika kapitalisme mutakhir: pergeseran nilai guna-nilai tukar-nilai citra yang melahirkan pergeseran sistem budaya dari masyarakat post-industrial ke masyarakat konsumen. Dalam pergeseran begini, moralisme yang cemas atas skandal pesohor itu sering seperti melihat celana yang kotor di tengah pesta selebriti. Tinggal ganti, habis cemohan.

Oleh sebab itu, barangkali masalahnya dalam industri tontonan yang bertahan dalam pengulangan keganjilan pemujaan, antara lain: karena memuja produk yang tidak layak laku lantas tersandung skandal yang menginjak nalar-moral resmi konvensional, bukankah karena para penononton telah menjadi omnivora-dalam-selera : memakan citra apa saja?

Penonton mungkin telah menjadi "black hole", menelan apa saja yang diberaki televisi melalui akting para pesohor, seperti yang rasanya pernah disimpulkan Hikmat Budiman (dalam Lubang Hitam Kebudayaan) manakala ia membalik tesis McLuhan tentang media dan pembaca. Jika media menjadi lubang hitam, maka era sekarang, pembacalah sang lubang hitam tersebut.

Dalam lubang hitam, kegelapan adalah ketiadaan pencerahan. Kegelapan adalah ketiadaan batas kejenuhan. Dalam lubang hitam, tak ada moral, tak ada nalar juga "tak ada tuhan". Satu-satunya yang ada dalam lubang hitam ialah gerak menyedot terus menerus yang melampaui batasan ruang dan waktu. Maka, bila lubang hitam memiliki jejak dalam penciptaan sistem tata surya, tidakkah dalam industri pesohor-tontonan, ia pertanda dari matinya manusia di depan altar absurditas selera? Mungkin lho ya.

Maka mari membentang tanya yang melampuai kecemasan moral.

Absurditas Selera dan Industri Rasa Sakit?

Para pegiat (penulis naskah plus pemodal) yang bekerja dibalik industri pesohor-tontonan itu tahu jika era sekarang adalah era yang miskin dengan tauladan, bukan saja sarat pencampuran sekaligus ketercerabutan dimana-mana. Beberapa dari mereka tahu situasi ini adalah peringatan bahaya, beberapa yang lain tahu jika ini adalah kesempatan.

Bagi mereka yang berdiri-melihat ini sebagai kesempatan, ketika Baudillard memunculkan narasi tentang simulakra, maka itu adalah gambaran dari potensi pasar yang sangat mendukung pelahiran tontonan dan idola-idola yang tidak membutuhkan permenungan penonton, seperti ketika menyimak humor-humor bisu Chaplin atau senandung irama jenius bermusik seperti Kurt Cobain. Mereka hanya perlu menangkap kekosongan dari jiwa-jiwa yang miskin acuan dalam keseharian dalam permainan simulakra.

Mereka ini juga menguasai teknik menunggangi daya pengaruh televisi. Mereka juga tahu sekali, jiwa-jiwa alay yang terpuruk mencari keteguhan hatinya itu datang dari lembah-lembah pinggiran, miskin, dan juga mudah bermutasi menjadi jiwa-jiwa kerumunan. Jiwa-jiwa seperti ini mungkin juga adalah kehadiran dari hidup yang terbuang, yang bersesak ria di pinggiran pusat-pusat pertumbuhan kapitalisme dan hidup dalam mimpi yang sering tidak dilayani oleh negara dan ditertawakan lingkungan sekitar.

Dus, mereka membangun satu relasi kepatuhan yang tak tampak dalam industri pesohor-tontonan itu sebagai sebuah siasat pemanfaatan ekonomi atas kegersangan jiwa-jiwa alay yang terseok-seok setiap hari untuk menjawab sejuta tanya dalam mimpinya, mengusir sejuta getir dalam miskinnya (?). Mereka, the invisible hand ini, merawat kekosongan acuan dengan menemukan-menyusun-menyebarkan sejenis sistem selera yang absurd sebagai ritus pemujaan. Sistem selera absurd yang menjadi hegemoni, canggih bukan?

Tidakkah ini berarti, tentu jika benar adanya, di balik gemerlap industri pesohor, relasi kepatuhan yang bekerja adalah mengawetkan perayaan ruang batin yang sakit dari mereka yang berada di pinggir, miskin, dan jungkir balik mencari realisasi mimpinya sendiri? Mungkinkah yang sedang dirawat di balik absurditas selera itu adalah industri rasa sakit yang tumbuh diam-diam pada bagian tertentu masyarakat kita yang mengalami hari-hari bersama mimpi yang tidak terpenuhi?

Entahlah. Saya sungguh hanya bertanya. ***

Sumber : Kompasiana

Monday, February 22, 2016 - 10:15
Kategori Rubrik: