SK Hutan Adat dan Wujud Keberpihakan Jokowi

Oleh : Myrna Safitri
 
Perjalanan menuju Istana Negara pagi ini diliputi perasaan yang campur-aduk. Terharu, bahagia dan bersyukur. Sangat personal dan emosional memang. Tapi toh ini tak bisa terelakkan. Saya membiarkan air mata ini meleleh. Penyerahan SK Hutan Adat dalam beberapa jam ke depan memberikan banyak arti bagi sahabat dan kerabat masyarakat adat di negeri ini. Pula kami yang dengan segenap keterbatasan mendampingi mereka. Ini adalah perjuangan puluhan tahun, atau bisa jadi ratusan tahun jika ditarik mundur dari masa kolonial. 
 
Pembelajaran penting adalah beragamnya jalur dan strategi yang telah dilakukan semua pihak untuk ini. Perjuangan di ranah yudisial membuahkan Putusan MK 35/2012. Perjuangan politik membawa agenda ini ke dalam Nawa Cita. Di ranah teknokratik hukum dapat disebut Permen LHK 32/2015 tentang Hutan Hak. Inilah yang menjadi jembatan regulasi operasional untuk menjadikan SK Penetapan itu lahir. Dan jangan lupa, secara sosio-kultural penguatan komunitas menjadi basis pentingnya.
 
Tidak ada satu jalan menuju keberhasilan. Demikian pula tidak ada satu orang, kelompok atau lembaga yang dapat menyatakan berdiri di atas keberhasilan ini. Perubahan besar terjadi karena semua orang bekerja secara konsisten pada peran dan arenanya masing-masing. 
 
Ke depan tantangan akan lebih besar. Hutan Adat adalah pertaruhan untuk menunjukkan tanggungjawab pada lingkungan, komunitas dan pada bangsa ini. Mari terus menguatkan dan menyatukan langkah. Mari bekerja secara efektif. Mungkin saatnya untuk tidak lagi memperbanyak seminar, lokakarya dan apapun yang semacamnya. 
 
Kepada para periset dan analis, fahamilah konteks perubahan ini dengan utuh. Bahwa masih ada kekurangan itu pasti. Tetapi, bagi kami ini adalah seni membuat pilihan di tengah berbagai keterbatasan. Kepada para donor, tolong mengerti bahwa membuat perubahan yang nyata itu memerlukan waktu dan fleksibilitas, yang melampaui berbagai instrumen program yang kalian desain. Kepada para pengajar hukum adat dan kehutanan, mari jadikan peristiwa ini sebagai materi pembelajaran di kelas-kelas kalian.
 
Terima kasih kepada Bapak Presiden Joko Widodo, Ibu Menteri LHK Siti Nurbaya, kawan-kawan di Ditjen PSKL, Pak Hadi Daryanto, Pak Eka, Mb Rosa Vivien, Mas Prasetyo, Nelson Perdy, dan mengingat secara khusus almarhum Bang Jonny Purba. Salut kepada Epistema Inst, Harpulia dan LTA. Bahwa 4 dari 8 penetapan yang akan dilakukan adalah dari Kerinci, tidak lepas dari kerja keras kalian. Demikian pula untuk kawan-kawan RMI, Huma, BRWA dan AMAN. Kerja bareng di Kasepuhan Karang dan DPRD Lebak itu sungguh berkesan. Semoga Sang Ilahi, penguasa semesta memberkahi!**

Sumber : grup WA

Sunday, January 1, 2017 - 19:15
Kategori Rubrik: