Sisi Lain Rezim Tiongkok, Pembungkaman Dokter Coronavirus

ilustrasi

Oleh : Meilanie Buitenzorgy

Hari-hari ini, para influencer dan buzzer tanah air sibuk memberitakan proyek2 Loro Jonggrang ala RRT: membangun rumah2 sakit dan pabrik2 masker hanya dalam hitungan hari. Sungguh epic dan harus diakui sekaligus diberi jempol, RRT belum ada lawan dalam soal kecepatan membangun.

Namun belum banyak netizen negara berflower yang tau bahwa hari-hari ini juga, rakyat Tiongkok sedang marah pada pemerintahnya, dipicu oleh meninggalnya Dokter Li Wenliang akibat infeksi Coronavirus Jumat lalu.

Li Wenliang adalah satu dari 8 orang pertama yang menemukan dan memperingatkan resiko wabah Coronavirus melalui media sosial, namun justru dibungkam oleh polisi setempat. Li malah dituduh sebagai penyebar hoax.

Andai Li tidak dibungkam, penyebaran wabah Coronavirus seharusnya bisa dicegah lebih awal hingga dampaknya tidak sampai mengglobal berkali lipat seperti sekarang.

Nasib 7 orang whistleblower lainnya belum diketahui.

Begitulah, ketika kebebasan berpendapat direpresi, akibatnya bisa mematikan.

Pembungkam kebebasan berpendapat bukan cuma ranah pemerintah/otoritas/pihak berwenang. Di Indonesia, ada tuh kelompok yang gemar merepresi para figure yang tidak sependapat dengan mereka. Walaupun saya pernah jadi korban kelompok ini, saya perlu katakan bahwa SAYA TIDAK TAKUT.

Saat ini, ekspresi kemarahan rakyat RRT yang ditumpahkan ke media sosial, tagar-tagaran dlsb langsung sigap dihapus otoritas setempat.

So hyuklah gaes, jangan pernah lelah berjuang untuk kedigdayaan DEMOKRASI. Jangan pernah biarkan paham dan kaum anti-demokrasi meracuni pemikiran generasi penerus Bangsa. **You Know What I Mean**

Selamat jalan Dr. Li Wenliang. Semoga kematian Anda mampu menggelorakan "the wind of change" ke "negeri satu suara" itu….

Sumber : Status Facebook Meilanie Buitenzorgy

Friday, February 14, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: