Simsalabim Rumah Tahfidz atau Ma'had Mewah

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Hari ini saya didatangi keponakan yang baru menjadi CPNS dosen di sebuah kampus. Sebagai dosen baru, tentu perlu menata hidup, termasuk mencari kontrakan. Di antara pembicaaran selain masalah harga rumah sederhana yang mahal, dia juga cerita hal-hal berikut:

1. Pengalaman dia selama keliling di beberapa kota, banyak ditemui ma'had-ma'had baru yang mewah. Mewah dalam arti lux, megah, dan ada sarana-sarana yang disebut mereka syar'i, seperti panahan, kuda-kudaan dll. Juga mewah dalam arti mepet sawah. Ma'had-ma'had itu dibangun di pelosok desa yang sekitarnya adalah sawah dengan jalannya belum beraspal, tapi para pengunjungnya banyak yang memakai mobil mewah.

2. Dia juga bercerita bagaimana di beberapa kota banyak tempat hafalan Qur'an yang disebut dengan rumah tahfidz atau griya tahfidz. Dia punya teman S2 yang saat kuliah katagori kehidupan gak punya, tapi ujug-ujug di suatu desa yang dingin sudah mengelola bangunan megah berupa rumah tahfidz.

3. Keponakan saya ini berkulit putih dan jenggot tipis, pokoknya mirip kelompok hehe (tapi warga NU tulen dan Gus)... Suatu saat dia naik ojol untuk survei kontrakan. Si ojol malah nawari ada rumah syar'i yang bayarnya mudah dan di perumahan syar'i itu ada masjid yang disebutnya masjid sunnah (entah gimana ya masjid yang gak sunnah). Si ojol masih nyerocos bahwa perumahan syar'inya ini gak kayak di kampung-kampung yg ada tradisi yang menurutnya tidak syari. Masih kurang, si ojol juga bilang bahwa rumah syar'i itu bayarnya bisa nyicil dan kalau terpaksa bisa semampunya, serta non riba.

4. Lalu si ponakan bilang bahwa teman-teman dosennya berkata atas kisah-kisah di atas yang juga pernah mereka ketahui, bahwa nampaknya ada pasokan dana besar dari donatur Timur-Tengah atau ada pengusaha yang "mendiversifikasi" usahanya dengan merambah ke bisnis per-ma'had-an. Buktinya bayarnya sangat mahal sekali. Atau juga ada franchise ma'had...

5. Saya memungkasi, seorang profesor dari non-NU yang akrab dan baik dengan saya pernah bilang, memang di Timur Tengah ada donatur yang menyumbangkan uangnya ke Indonesia. Ada muatan ideologi?

Saya juga berkata kepada keponakan, "Nampaknya memang ada juga pengusaha yang jeli melihat peluang bisnis di ma'had dengan fasilitas mewah yang pangsa pasarnya ditujukan ke muslim kaya dengan biaya mahal. Memang kapitalis yang jeli, apapun bisa dimanfaatkan untuk bisnisnya. Lalu pikiran saya berkelebat si Donald sang kapitalis yang perang pun juga bisa dibisniskan.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Sunday, January 12, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: