Simpul Astra Connection

ilustrasi

Oleh : Prasetyo BoediFrast

Berawal dari ASTRA. Boss ASTRA adalah William Soeryadjaya alias Tjia Kian Liong yang awalnya memulai bisnis dari perdgangan hasil bumi di Bandung. Thn 1957 Nama Perusahaan ASTRA mulai bergerak.

Akan tetapi ASTRA menapaki jalan kesussesanya jadi sangat besar adalah terjadi di-era Orde Baru - Pasca Pertarungan Ali Moertopo Versus Jenderal Soemitro yang meledak di peristiwa Malari 1974 yang kemudian menjadikan Jenderal Soemitro tersisih dan saat itu isu yang di pakai Mahasiswa adalah memepersoalkan masuknya Investasi dari Jepang yang ternyata berimbas pasca peristiwa Malari adalah masuknya barang2 jepang terutama dari industri otomotif.
PT ASTRA kejatuhan durian runtuh karena mendapat proyek memasok kebutuhan Logistik KOSTRAD. , ASTRA kejatuhan hoki setelah jadi pemasok Truk-truk Toyota untuk keperluan militer pada tahun 1977 kembali mendapat hoki jadi pemasok kendaraan bermotor untuk keperluan pemilihan Umum . Sejak saat itu berkat kedekatanya dengan militer laju ASTRA tak terbendung lagi.

William Soeryadjaya & Sudono Salim adalah dua orang yang beruntung dapat jatah dari orde Baru dan Arsitek ekonomi CSIS di dukung untuk jadi "besar" jika om liem di besarkan lewat bantuan gandum Amerika Serikat yang kemudian menjadi PT Indofood sementara om William dapat jatah dari Industri Otomotif yang saat itu di menangkan oleh Jepang.

Terus apa hubunganya om William dengan keluarga Thohir?
Teddy Thohir, salah satu pemilik (co-owner) dari grup Astra International bersama William Soeryadjaya.

Teddy Thohir asalnya dari Lampung, setelah lulus SMP, dia merantau ke Solo dengan untuk melanjutkan studinya di SMEA. Modal sekolahnya di Solo didapat lewat bantuan seorang pedagang di Metro Lampung. Di Solo pun dia bekerja sambil sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan seorang gadis keturunan Tionghoa Sunda yang kelak menjadi istrinya, Edna.
Sempat berkarier di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang kimia, Union Carbide. Namun kemudian, Teddy memutuskan untuk resign dan bergabung dengan Astra yang kala itu dipimpin oleh William Soeryadjaya. Kariernya di Astra mulai dari bawah, ia mulai dari menjabat sebagai staf hingga berhasil menjadi direktur dan pemegang saham perusahaan tersebut.

Lambat laun, Astra menjadi raksasa otomotif di Tanah Air, dan memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan & Pengelolaan Hutan. ASTRA Group ada sekitara 235 anak Perusahaan -- selain perusahaan Jasa Keuangan banyak Industri lain di kuasai semisal Industri kayulapis, Agro bisnis dll. Bahkan ASTRA group ini juga disebut2 jadi salah satu perusahaan yang terlibat langsung dalam pengadaan tanah untu ternak sapi Pak Harto yakni Tapos.

ASTRA Agrobisnis juga jadi salah satu perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari Proyek "Revolusi Hijau Soeharto" yang lebih kita kenal sebagai program SWASEMBADA PANGAN -- ada puluhan ASTRA Group yang terlibat dalam proyek Swasembada Beras ini al PT ASTRAPT Bunga Sari Indahh, PT Multi Agro dll (Mantan Menteri BUMN Rini Soemarno adalah salah seorang yg berasal dan di besarkan di Agrobisnis ASTRA ini).

Setelah sukses di Astra, Teddy pun mendirikan perusahaannya sendiri, yakni PT Trinugraha Thohir (TNT Group). Namun, informasi mengenai kisah Teddy mendirikan TNT Group sangatlah minim.

Yang jelas, perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, media, hingga restoran. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy, PT Surya Essa Perkasa, PT Wahanaartha Harsaka, Restoran Hanamasa, Pronto, dan Yakun Kaya Toast.

Di sektor properti, TNT dikabarkan memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Sementara itu di bidang media, ada PT Mahaka Media.

Berkat kesuksesannya di dunia bisnis, Teddy Thohir pun sempat merasakan duduk di jajaran orang terkaya di Indonesia.

Setelah meninggal 2016, titel orang terkaya di dunia tetap disandang oleh salah satu anggota keluarga Thohir, yaitu Garibaldi. Pada tahun 2017, Garibaldi atau yang akrab disapa Boy menduduki posisi ke- 23 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Jejak "Politik" Keluarga Thohir.

Dulu saat SBY mau maju ke gelanggang Pilpres 2004 di bentuklah sebuah Tim (nama tim itu Tim Sekoci) tim ini menjalankan fungsi Inteljen dengan mendata tokoh masyarakat, pengusaha , tokoh agama, tokoh perempuan, petani, nelayan dll. Tim ini di gunakan sepenuhnya untuk kepentingan SBY jelang pemilu Legislatif 2004.
Hampi 90% personil tim ini adalah pensiunan tentara, di antaranya Letjen (purn) T.B. Silalahi, Mayjen (Purn) Soeprapto (Komisaris Utama Indosat), Mayjen (Purn) Djali Yususf, Amir sembiring, Irvan Edison, dan Max Tamaela (Komisaris Hutama Karya). Di Luar Pensiunan Tentara --ada nama2 sejumlah pelaku Bisnis daiantaranya Teddy Thohir (Pendiri ASTRA) dan anaknya Boy Garibaldi Thohir (Adaro), Robbyanto Budiman (Wahana Makmur Sejati(,Patrick Waluyo (Northstar Pasifik), Frans Kansil(Unilever)--ada juga Yahya Ombara (Komisaris PT KAI waktu itu).

Tahun 2006, tim ini berubah wujud jadi Lembaga Swadaya Masyarakat dengan nama Sekoci IndoRatu--kependekan dari Indonesia Raya Bersatu. Lembaga ini menempati gedung lantai tiga di Kompleks Otoritas Asahan jalan Gatot Subroto. Kemudian pada juni 2009, Soeprapto, Max Tamaela dan yahya Ombara ditarik jadi timses Timkannas SBY-Boediono (periode 2 SBY) yang di ketuai Hatta Rajasa yang kemudian ramai di kecam oleh Bawaslu dan masuyarakat karena Tim Pemenangan itu ternyata merekrut Komisaris2 BUMN2 jadi anggota Timses pimpinan Hatta Rajasa.

Bagaimana keluarga Thohir yang sebelumnya pendukung berat SBY mengalihkan dukunganya kepada Jokowi dari PDI-P?

Yups itu karena Batu bara--LBP-lah pintu masuknya. setelah mendapatkan gelar MBA dari Northrop University, Amerika Serikat, ia bergabung dengan Astra yang saat itu dipimpin oleh ayahnya. Setelah merasa cukup belajar di Astra, ia mencoba peruntungannya dengan mendirikan perusahaan property dengan membangun aparteman di kawasan Casablanca, Jakarta. Tetapi usaha ini tidak berjalan dengan mulus dan masalah pembebasan lahan menjadi kendala utama, akhirnya perusahaan ini dijual ke ayahnya. Pada tahun 1992, ia bergabung dengan perusahaan tambang di Sawah Lunto Sumatera Barat yaitu PT. Allied Indo Coal. Tahun 1997, Ia juga memulai bisnisnya di bidang keuangan dengan mengakusisi perusahaan multi finansial PT. Wahana Ottomitra Multiartha atau dikenal dengan sebutan PT. WOM Finance. Perusahaan ini bergerak dalam bidang penyedia pembiayaan publik khusunya pembelian sepeda motor Honda.

Pada tahun 2005, bersama Theodore Permadi Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Benny Soebianto, ia membentuk konsorsium baru membeli saham Adaro Energy dari New Hope, perusahaan asal Australia. Ini menjadi titik balik dari bisnisnya, ia berhasil menjadikan Adaro Energy sebagai terbesar kedua di Indonesia setelah PT Kaltim Prima Coal dan salah satu produsen batubara terbesar kelima di dunia. Tahun 2008, Adaro Energy melakukan penjualan saham perdana ke publik (initial public offering/IPO). Adaro mengusung produk batubara dengan brand Envirocoal, batubara yang ditambang dengan konsep ramah lingkungan. Pada akhir tahun 2011, Forbes menempatkan Adaro sebagai satu dari 50 Perusahaan Terbaik di Asia.

Pada 30 Mei 2013 dengan tujuan memperkuat investasinya, Garibaldi Thohir memborong saham perusahaan yang dipimpinnya sendiri. Ia membeli 2 juta lembar saham ADRO di harga Rp 950/lembar saham atau sekitar Rp 1,9 miliar. Pada 2014, PT Adaro Power dengan anak usaha Korea East-West Power Co. Ltd.membentuk perusahaan patungan, PT Tanjung Power Indonesia yang rencananya akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2 X 100 megawatt (MW) di Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Selain PLTU PT ADARO juga terlibat di proyek Pembangkit Listrik Geo-Thermal Gunung Slamet yang menuai banyak kontroversi. Proyek ini dijalankan oleh PT Sejahtera Alam Energi (PT SAE) dan STEAG GmbH (Jerman). Dengan nilai saham 75% dipegang oleh STEAG GmbH dan 25% oleh PT SAE. PT SAE sendiri sebelumnya bernama PT Trinergy yang kemudian diakuisisi oleh PT Adaro Power. Adaro Power merupakan salah satu perusahaan batubara swasta terbesar ke-2 nasional dan ke-4 dunia. (di sini kita akan temukan irisan kepentingan dengan Ganjar Pranowo) ---- sampe sini dulu sebetulnya masih banyak cerita2 lain yang berkaitan dengan simpul oligarki di Republik kita ini (termasuk irisan kepentingan dengan Gus dur, Megawati dengan ASTRA Group tapi untuk saat ini cukup sampai sini dulu).

Sumber : Status Facebook Prasetyo BoediFrast

Wednesday, July 29, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: