Silaturahmi Tanpa Mudik? Bisa Kok...

Oleh: Ricky Apriansyah

 

Larangan mudik terus digaungkan pemerintah dari pusat hingga daerah. Presiden Joko Widodo secara gambling bahkan melarang mudik Lebaran masyarakat. Larangan ini adalah perkembangan baru dari larangan mudik bagi ASN, TNI, Polri dan pegawai BUMN yang sudah ditetapkan sebelumnya.

 

Presiden berulang kali juga menekankan pentingnya disiplin menjalankan kebiasaan cuci tangan, pakai masker, physical distancing serta  mengingatkan agar masyarakat selalu menjaga daya tahan tubuh dalam menghadapi wabah COVID-19. Inilah kunci menghentikan penyebaran wabah COVID-19.

 

 

Tahun 2019 lalu, 19,5 juta warga Indonesia melakukan tradisi mudik. Mereka mudik ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Tujuan mudik adalah silaturahmi dengan sanak kerabat di kampung asal. Biasanya dilanjutkan agenda wisata ke kampung halaman. Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, stasiun  kereta di mana-mana penuh sesak oleh penumpang. Bandara padat, orang-orang juga berjejal di terminal bis. Jalan tol macet, apalagi jalan biasa. 

Sementara survey Balitbang Kementerian Perhubungan baru-baru ini menyebutkan, meski sudah ada anjuran tidak mudik, sekarang ini masih ada 25% warga yang ingin mudik di hari Lebaran. Meski berkurang drastis dari tahun lalu, angka 25% warga ini masih akan menyebabkan pergerakan manusia yang masif, memunculkan titik-titik keramaian yang tidak bisa dikontrol. Tentu saja ini rawan menimbulkan penyebaran wabah COVID-19.

Warga yang mudik sangat kecil kemungkinannya akan melakukan isolasi mandiri selama 14 sebagaimana protokol yang dijalankan bagi mereka yang pulang kampung karena kehilangan pekerjaan di kota-kota besar. Karena mudik ini dilakukan untuk silaturahmi, mengungjungi dan saling bertemu. Pertemuan orang-orang inilah yang bisa memperluas penyebaran COVID-19 secara  luas dengan. Ini tentu sangat berbahaya.

Taka da pilihan. Kalau mau bangsa ini selamat, sebaiknya memang menunda mudik. Mudiknya nanti kalau wabah Covid-19 sudah reda. Pertanyaannya, apakah tanpa mudik bisa silaturahmi? Bisa, bisa sekali. Kenapa tidak? Sekarang zaman sudah maju. Teknologi telekomunikasi sudah sangat canggih. Setiap orang memegang ponsel. Jaringan Wifi di mana-mana.  Maka silaturahmi tetap bisa dilakukan walau tanpa mudik. Caranya dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi, yaitu silaturahmi secara digital. 

Silaturahmi digital bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tinggal pilih mau pakai aplikasi yang mana. Tentu harus pilih aplikasi yang kompatibel dengan ponsel yang dimiliki. Tapi sekarang semua smartphone sudah memungkinkan untuk melakukan video call. Dengan video call orang bisa saling berbicara, saling bertatap muka walau berjauhan. Mungkin tak bisa bersalaman. Namun apa gunanya salaman bila risikonya  akan saling menularkan penyakit yang mematikan?

 

Tidak mudik memang berat. Tentu ada rasa rindu kampung halaman dan keluarga besar yang sudah ditinggal demikian lama. Masyarakat kita juga dikenal erat rasa kekeluargaannya, suka kumpul-kumpul. Setiap Lebaran biasanya menjadi ajang kumpul keluarga besar dan reuni dengan kawan sekolah. 

 

Di masa Pandemi COVID-19, perlu ada formulasi ulang kebiasaan sangat baik yang sudah mengakar ini. Salah satu caranya melalui video call tadi. Bila banyak orang, bisa lakukan conference dengan aplikasi Google Meeting ataupun zoom. Taka da sentuhan memang, namun akan sedikit bisa mengobati rasa kangen. Bukan tidak mungkin, orang bisa menemukan keseruan baru dalam kebiasaan video call atau online conference.

 

Larangan mudik, terdengar kejam. Namun ini yang terbaik agar bangsa ini selamat. Presiden Jokowi sudah sangat hati-hati dan penuh kepedulian dalam memutuskan segala hal terkait wabah COVID-19 ini. Beliau tidak grasa-grusu, tidak panik, tidak gegabah dalam memutuskan penutupan suatu wilayah. Semua dihitung matang, ada standarnya. Dan, yang terpenting, semua dipersiapkan terlebih dahulu sehingga masyarakat tidak terhantam masalah besar dan panik saat kebijakan diterapkan.

Memang, saat ini, pelaksanaan di lapangan belum sempurna, namun terus diperbaiki. Dalam kondisi yang serba tidak pasti ini, sepatutnya kita, semua warga negara, mengikuti arahan-arahan pemerintah. Di tengah simpang-siur berita, berita-berita bohong, kecemasan, dsb, di saat serba susah ini, di waktu pergerakan kita sangat terbatas, pada akhirnya yang paling bisa kita pegang adalah arahan pemerintah. Kita harus ikuti arahan Presiden. Khususnya dalam hal disiplin protokol kesehatan dan menunda mudik.

 
Thursday, May 7, 2020 - 22:30
Kategori Rubrik: