Sikap Apolitis Hanya Memberi Jalan Buat Para Koruptor

Ilustrasi

Oleh : Mohammad Guntur Romli

Laporan Laboratorium Ilmu Ekonomi UGM (2016) menyatakan, sepanjang 2001-2015, Indonesia menderita kerugian akibat korupsi sebesar Rp 203,9 triliun.

Nilai kerugian tersebut setara dengan menggratiskan premi BPJS untuk 261 juta rakyat, membangun 600 rumah sakit berstandar internasional, membangun lebih dari 10 ribu km jalan tol, membangun MRT sepanjang 202 km, meluluskan 182 ribu master, atau 45 ribu lebih doktor dari universitas papan atas luar negeri, serta meluluskan 546 ribu sarjana dengan standar PTN terbaik di Indonesia.

Luar biasa! Makin menyakitkan ketika mengingat total pengembalian uang HANYA Rp 21,26 triliun atau 10,42% dari total kerugian.

Pertanyaannya adalah makhluk sial macam apa yang menanggung sisa kerugian Rp 182,64 triliun? Tentunya, kita semua, para pembayar pajak. Pajak Bro dan Sis yang mensubsidi koruptor di Indonesia.

Selanjutnya, sepanjang 2016, ICW menyatakan kerugian negara akibat korupsi sebesar Rp 3,85 triliun. Lalu, pada Januari hingga Juni 2017, ICW mencatat kerugian negara Rp 1,83 triliun. Tidak penting berapa pengembalian uangnya, namun pajak kita selalu “siap” menanggung sisa kerugian.

Dampak buruk korupsi banyak. Salah satunya membentuk anggapan bahwa politik sekadar ajang pertarungan kekuasaan untuk meraih posisi jabatan publik, kemudian mencuri duit rakyat!

Dunia politik Indonesia lantas diidentikkan dengan “licik”, “kotor”, atau “curang”.

Bagi PSI, jika hanya mencemooh dan ogah menyentuh politik, sama saja dengan membiarkan korupsi makin ganas.

Tidak ada acara lain untuk melawannya kecuali berperan sebagai alternatif kekuatan politik nasional. Ganti para koruptor itu! Isi ranah politik dengan mereka yang kompeten, jujur, dan bersih.

Sumber : Status Facebook Mohammad Guntur Romli

Thursday, November 16, 2017 - 20:15
Kategori Rubrik: