Siasat "Perang" TNI VS FPI (1)

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Ada apa dengan imam besar yang terkenal pemberani dan selalu bicara keras tapi gak jelas itu? Setelah menawarkan rekonsiliasi kepada Jokowi, kini mengajak dialog istana, juga berjanji tidak akan membuat kegiatan berkerumun lagi. Apa boleh buat, istana tidak menanggapi karena merasa tidak ada yang perlu dibahas. Proses hukum jalan terus...

Para beking mulai dari organisasi internasional, silahkan saja TNI sudah siap, hingga Bohir lokal silahkan hadapi Polri (mau pakai Densus, Gegana, Brimob atau apa manut). Mau disebut TNI rasa dwi fungsi, tapi ingat, minumnya tetap 'NKRI HARGA MATI'. Jangan harap ada yang berani coba-coba membuat onar dan perpecahan di bumi Pertiwi ini (baik oleh unsur luar maupun dari dalam negeri sendiri).

Tidak juga dari Petamburan yang disinyalir akan dijadikan markas gerakan radikal oleh organisasi Islam internasional. Saatnya majority tidak lagi silent. Saatnya pula TNI-Polri bersatu melawan musuh bersama: faham radikalisme berkedok agama. FPI dkk tidak perlu berkelit mengalihkan isu, karena memang dijadikan sebagai target utama.

Kejahatan kemanusiaan dengan kekerasan harus dihadapi dengan extra ordinary. Btw, harusnya kita berterima kasih kepada orang atau pihak-pihak yang berhasil memulangkan Rizieq. Dengan kepulangan Rizieq tentu lebih mudah diproses hukum. Tapi bisa jadi oknum yang memulangkan justru tidak pernah menyangka bakal seperti ini jadinya.

Into the trap. Menyesal pulang? Terlambat. Hal yang menarik ketika TNI terlihat turut dalam penertiban kelompok Rizieq. Sejak era reformasi, musuh yang kerap dihadapi TNI adalah kaum separatis yang ingin memberontak serta memisahkan diri dari NKRI. Kelompok Separatis bersenjata itu kini masih ada di Papua (OPM).

Ada pula kelompok lain kini yang kerap merongrong wibawa pemerintah dan negara. Tidak hanya itu, mereka juga punya agenda politik mengganti Pancasila dengan Syariat Islam, meneriakkan sistem Khilafah serta mendirikan Negara Islam. Langkah pemerintah yakni dengan menolak kepulangan mantan WNI yang menjadi anggota ISIS.

Langkah berikut, menyatakan HTI sebagai ormas terlarang juga tidak memperpanjang izin keberadaan FPI. Namun kelompok Islam Radikal ini dapat tetap eksis dengan melakukan beberapa adaptasi dengan tidak merubah visi misi mereka yakni menegakkan khilafah di bumi Indonesia. Mereka terus menyebarkan kebencian kepada presiden Jokowi juga kepada aparat kepolisian.

Pemerintah dibilang toghut, kafir dan dajjal, sementara polisi disebut sebagai 'monyet berseragam coklat'. TNI justru mereka sanjung dan banggakan. Disinyalir di dalam tubuh corps TNI juga banyak kader dan anggota pengikut pengajian kelompok Rizieq. Salah satunya lihat petinggi TNI yang mantan Panglima, Gatot Nur.

Mereka ingin menyusup ke tubuh TNI serta menguasainya, seperti juga kepada lembaga-lembaga lain selama ini. Praktis gerak TNI hanya terlihat di Papua. Sesekali saja TNI muncul di Jakarta guna membantu tugas pengamanan Polri seperti saat menjelang Pemilu, Aksi Sidang MK, serta kegiatan sosial saat terjadi bencana nasional.

Kini, Presiden Jokowi dengan cerdik secara sengaja melibatkan TNI dalam lembaga penanggulangan pandemi covid 19. Jokowi tahu kelompok Rizieq yang kerap melakukan aksi massa akan tetap sulit ditertibkan meski menggunakan kekuatan Polri. Untuk itu TNI diberi peran berhadapan langsung terutama dengan kelompok Rizieq yang membandel.

Sebelumnya, FPI coba mendekati dan 'berteman" dengan TNI sebagai lawan dari Polisi. Bahkan kerap terjadi perselisihan antara TNI-Polri akibat berita hoax yang mereka lakukan. Seorang pengamat memang merasa curiga FPI sengaja membenturkan antara TNI dengan Polri, karena Polri selama ini mereka anggap musuh. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawatnto

Monday, November 23, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: