Siapakah Si Kala?

ilustrasi

Oleh : Ali Mutasowifin

** Tiap ada Upacara Hari Kemerdekaan di Istana Negara, siapa 'sosok' yg gak mau hormat pada Sang Saka Merah Putih?
** Jadi Pimpinan DMI, tapi saat tempat Ibadah dipakai buat kampanye, dia mlh diam. Siapa dia?
** Zakir Naik,diusir dr India, tapi disambut di Indonesia.. Siapa yg nyambut ZN lalu foto bersama??
** Siapa yang kemarin menyambut rombongan Taliban waktu di Indonesia??

Tidak dapat dipungkiri, pengakuan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan soal peran Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang disebut-sebut telah mengintervensi proses pencalonan calon gubernur dengan menyorongkan nama Anies Baswedan saat pilkada lalu masih menyisakan kekecewaan bagi banyak orang.

Banyak yang berpandangan bahwa sebagai wakil presiden yang seharusnyalah berdiri di atas semua golongan, Jusuf Kalla dianggap telah berlaku tidak etis kala mendorong-dorong dicalonkannya Anies Baswedan untuk melawan petahana Basuki Tjahaja Purnama. Banyak yang meyakini, sebagai wakil presiden ia seharusnyalah tidak menunjukkan keberpihakan, sebagaimana sikap yang selalu ditunjukkan oleh Presiden Joko Widodo.

Terkait hal ini, Jusuf Kalla tidak merasa telah melakukan kesalahan. Ia berargumen bahwa ia boleh melakukan itu, sembari menyebutkan bahwa Anies Baswedan adalah orang yang sangat dekat dengan Presiden Jokowi. Sayang, ia tidak menyebutkan, mengapa ia tidak mengambil sikap tak memihak dan cawe-cawe sebagaimana ditunjukkan oleh sang Presiden.

Banyak yang kemudian juga mengkaitkan preferensi Jusuf Kalla kepada Anies Baswedan ini dengan maraknya beragam intimidasi kepada para pendukung Ahok melalui masjid-masjid, misalnya ancaman untuk tidak mensholatkan jenazah, larangan memilih pemimpin nonmuslim melalui khotbah-khotbah, pemasangan spanduk-spanduk provokatif, dan beragam aksi sejenisnya. Padahal, sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia, sekaligus wakil presiden, seharusnyalah ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk mencegah praktik kotor yang telah membuat pilkada DKI Jakarta lalu disebut-sebut sebagai sebuah kemunduran besar praktik demokrasi di Tanah Air.

Kemarahan terhadap apa yang dilakukan Jusuf Kalla saat pilkada DKI Jakarta ini tampaknya terus berlanjut. Mereka yang kecewa juga mencoba mencari jawab apa yang melatari langkah Jusuf Kalla itu. Entah siapa yang memulai, akhir-akhir ini di media sosial beredar disertasi Mujiburrahman di International Institute for the Study of Islam in the Modern World (ISIM), Leiden, Belanda. Disertasi yang bertajuk FEELING THREATENED: MUSLIM-CHRISTIAN RELATIONS IN INDONESIA’S NEW ORDER ini dapat diakses bebas di internet di sini : https://openaccess.leidenuniv.nl/…/Dissertation%20Mujiburra…

Di antara lebih dari empat ratus halaman disertasi itulah terselip cerita waktu Jusuf Kalla masih muda. Diceritakan di sana, bagaimana sebuah konflik melibatkan umat beragama terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, saat seorang guru sekolah menengah ekonomi bernama H.K.Mangunbahan dianggap menghina Nabi Muhammad. Penghinaan ini kemudian memicu amuk massa yang menyebabkan rusaknya belasan gereja, asrama biarawati, dan sekolah-sekolah kristen.

Menariknya, pada 1 Oktober 1967 itu, disebutkan jelas dalam disertasi itu bagaimana peran Jusuf Kalla yang menginstruksikan seluruh anggota HMI dan organisasi muslim lainnya untuk berkumpul di masjid terdekat pada pukul 20.00. Segera setelah shalat isya, mulailah massa melakukan perusakan bangunan-bangunan milik organisasi-organisasi kristen. Dituliskan pula, bagaimana loud-speaker di masjid-masjid juga turut serta membakar semangat massa.

Entah mengapa, disertasi yang telah diterbitkan oleh Amsterdam University Press pada 2006 itu baru heboh sekarang. Belum ada tanggapan dari Wakil Presiden tentang hal ini, namun Husain Abdullah, juru bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla telah membantah kisah Jusuf Kalla masa muda itu. Ia menganggap cerita itu hanyalah hoax, sembari berargumen bahwa Jusuf Kalla menjadi Ketua Cabang HMI Makassar 1965-1966 saat terjadi G30S/PKI.

JK meminta pihak kementerian mengganti istilah yang menggunakan Bahasa Sanskerta menjadi Bahasa Indonesia. Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu punya pandangan lain.

Berbeda dengan Wapres JK, Ryamizard mengusulkan agar tidak ada perubahan istilah yang memakai Bahasa Sanskerta. Alasannya banyak tempat di Indonesia yang masih melestarikan bahasa Hindu kuno tersebut.

"Nanti jangan dipelintir-pelintir. Kalau menurut saya tetap sajalah, ada Bahasa Indonesia, ada (Bahasa) Sanskerta," ujar Ryamizard usai ziarah di Makam Taman Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta.

Sumber : Status Facebook Danz Suchamda

Thursday, August 8, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: