Siapakah Idolamu?

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Ketika seseorang mengidolakan figur tertentu, biasanya ia akan berusaha semirip mungkin dengan idolanya. Entah itu sekedar penampilannya atau bahkan sampai pada sikap dan pemikirannya.

Contohnya, ada orang-orang yang mengidolakan figur Rhoma Irama. Kenyataannya, diantara para penggemar sosok Raja Dangdut ini malah banyak yang tidak memiliki kemampuan bermusik apalagi mencipta lagu. Sehingga kebanyakan dari mereka akhirnya hanya meniru kulitnya saja. Cara berpakaiannya, model brewoknya atau bahkan naada bicaaranya. Terrlaalu! Hehehe..

Ada juga pada tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu orang-orang yang mengidolakan para pemikir sekaligus pemimpin besar seperti Bung Karno dan Gus Dur. Kebanyakan para penggemar sosok seperti ini bukan meniru kulitnya (penampilan dsb). Justru lebih kepada mempelajari dan menerapkan pemikirannya. Mereka yang mengidolakan Bung Karno biasanya memiliki semangat Nasionalisme yang tinggi. Begitu pula dengan para Gusdurian kebanyakan memiliki sikap dan pemikiran yang Humanis.

Dan puncaknya, hari ini yang bertepatan dengan Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW, jika kita bertanya kepada Umat Muslim sedunia, siapakah idola mereka? Pasti jawabannya adalah Rasululullah SAW! Dan pertanyaan yang sama untuk kita semua, sejauh mana kita akan menirunya? Apakah kulitnya saja sebagaimana para penggemar Rhoma Irama? Ataukah sampai pada pemikirannya sebagaimana para pemimpin besar dunia?

Ironisnya, banyak diantara kita yang meniru Nabi Muhammad SAW hanya sebatas kulitnya saja tanpa menyentuh essensinya. Misalnya dari pakaiannya saja. Hanya dengan memakai jubah, lantas sudah merasa pantas sebagai peniru dan meneladani Nabi Muhammad SAW. Padahal musuh-musuh Beliau, Abu Jahal dan Abu Lahab juga memakai jubah. Dan jika hanya pakaian yang menjadi tolok ukur meneladani Beliau, apa bedanya dengan para peniru Bang Haji Rhoma?

Lantas, apakah kita juga harus mengikuti pemikiran Rasulullah SAW? Bisa ya dan bisa juga tidak. Karena ada beberapa hal yang tidak mampu dan tak mungkin bisa ditiru. Yaitu saat Beliau berpikir dan bertindak sebagai seorang Rasul atau Utusan Allah. Berbicara dengan Malaikat Jibril dan sebagainya.

Ada satu hal yang menjadi essensi dan bisa ditiru oleh kita, yaitu Akhlaqnya. Sebagaimana Sabda Beliau: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq yang Mulia". Itulah kenapa Beliau dikatakan sebagai Uswatun Hasanah atau teladan yang sebaik-baiknya. Dan pada peringatan Maulid kali ini, setidaknya menjadi refleksi bagi kita semua agar kita terus belajar menjadi "penggemar" dan "peniru" terbaik terhadap Baginda Rasulullah SAW. Bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti ramah pada sesama. Bukan mudah marah pada sesama.

Ya Nabi Salam Alaika! Ya Rasul Salam Alaika! Sholawatullah Alaika!

*Foto Makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah al Munawaroh.

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, November 9, 2019 - 15:45
Kategori Rubrik: