Siapa Yang Berani Hancurkan Islam Di Indonesia?

ilustrasi

Oleh : Meicky Shoreamanis Panggabean

Siapa sih di Indonesia yang berani menghancurkan Islam? Kami? Orang-orang kafir kayak saya? Ya nggak mungkinlah berani. Mengeluh soal volume suara mesjid aja masuk penjara, kok. Nggak ngapa-ngapain aja gereja kami dibom.

Ahok bantu satu Jakarta termasuk yang bukan pemilihnya. Hasilnya? Dia dikutuk supaya cepat mati. Termasuk oleh anak-anak umur 10an tahun yang minta dia digantung.

Tuh. Gimana mau ngancurin, nyenggol aja serem.

4 tahunan yang lalu gue bikin surat, mengeluh soal rasa tidak percaya diri sebagian kecil umat Islam terhadap imannya. Gue kasih liat surat itu ke satu Muslim yang demokratis dan pemberani. Dia bilang jangan diposting.

3 tahun yang lalu, gue telpon seorang tokoh, Muslim juga, ngeluh 15 menitan soal betapa nggak betahnya gue menghadapi Muslim-Muslim yang nggak pede ini. Waktu itu gue berkali-kali mengadakan program dengan teman-teman dan akhirnya bubar. Ada kursus bahasa Inggris gratis di pesantren, anak-anaknya hepi trus dibubarkan orang tua mereka.

Katanya kristenisasi.

Haelah. Gimana mau ngekristenin mereka. Lha gua ngekristenin kakak-kakak gua sendiri aja kagak bisa.

Trus nawarin program training gratisan.Ditolak semua. Padahal itu trainingnya soal pendidikan, ditawarkan karena gelisah liat kualitas pendidikan kita yang ancur.

Yang terlibat emang kristen semua. Ada bulenya. Sisanya kayak gue.Istilah Ahok "muka minyak babi."

Gue yakin teman Muslim sudah banyak yang menghadang kelompok semacam 212 agar mereka nggak bisa agresif. Di grup WA, beberapa teman cerita bahwa mereka udah mulai bereaksi terhadap khotbah Jumat yang provokatif.

Sebagai 'minoritas', gue berharap ada lebih banyak Muslim yang berani menegur. Tolong bilang deh sama mereka, rugi lho musuhin kaum 'minoritas.' Sumber daya kami berlimpah. Ada banyak hal bagus yang mau kami bagikan tapi terhalang karena mereka nggak pede menerima kami.

Jangan cuma duit kami yang ditrima. Kami diajarin buat menolong sesama tapi banyak yang ngga kaya.Kalo ilmu mah selalu ada.

Sekolah kami mutunya bagus-bagus. Banyak guru yang takut berbagi ilmu ke mereka. Sikap anti orang kafir yang dimiliki sebagian Muslim, telah mendirikan tembok pemisah.

Pada takut banget masuk kristen, kenapa sih?Kami banyak yang tinggal dekat mesjid dari lahir dan sampe mati ya tetep kristen.

Gue 25 tahunan tinggal di rumah yang diķelilingi musholla. Kakak-kakak gue Muslim. Tiap hari gue dengar suara adzan. Mbak di rumah gue beliin mukena. Temen yang Islam ultah, gue beliin pajangan bertema Islam. Gue bahkan beli kaset (iya kaset, ini jaman batu) khotbahnya AA Gym.

Minggu gue tetap ke gereja.Pas susah ngadunya tetap ke Yesus.

Gue minta Susy Rizky Wiyantini buat kasih makanan ke aparat yang dari daerah tempat Jokowi kalah. Sepertinya gak ada atau sangat sedikit yang memperhatikan mereka. Ntar pas nganterin ya mustahil gue yang anter, daripada gue emosi. Tentara sama polisinya sih nasionalis semua tapi netizensnya banyak yang sektarian,"Itu yang anter mukanya muka minyak babi.Makanannya halal gak tuh?"

Gile.Orang udah pada ngurusin genetics engineering, neuroplasticity, mobil amphibi, mereka ngurusin muka gue. Plis deh.

Agamaku ya agamaku.Agamamu ya agamamu. Idealnya begitu kayaknya.Kenyataan ya beda.

Di Tangerang dan 1 kota lainnya (lupa, apa ya...), temen gue berhenti kasih bimbel gratis. Dekat Jakarta, temen gue yang lain program perpustakaan kelilingnya berhenti juga.

Karena?

Ya karena mereka kristen.

Jadi, untuk temen-temen Muslim yang pede dalam beriman, tolong ya. Sebagian dari kami (gue yakin hanya sebagian, nggak semua, kok) sulit dapat akses untuk bekerja sama dengan mereka. Kami ngajarin anak-anak kami dengan nilai-nilai yang kami pegang:Kalo mau kerja sama apalagi membantu orang, jangan liat agama.

Kemanusiaan melampaui ideologi dan doktrin. Membangun negara idealnya berdasarkan minat dan kemampuan, bukan agama.

Cukup gue aja deh yang mengalami. Anak cucu gue jangan.

Terima kasih banyak. Salam damai.

#MerryllP19

Sumber : Status Facebook Meicky Shoreamanis Panggabean

Saturday, June 15, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: