Siapa Saja Yang Pernah Dibenci Prabowo?

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Calon Presiden nomor urut 02 menjadi pribadi yang suka atau hobi membenci profesi atau sekelompok orang. Entah itu yang jadi lawan politiknya maupun yang mengganggu kepentingannya. Bahkan ada yang tidak punya kepentingan apapun juga direndahkan, tidak diangkat derajatnya. Prabowo memang tipologinya begitu, baik sejak masih menjadi menantu Soeharto maupun paska bercerai hingga kini menjadi calon Presiden.

Saat masih aktif dimiliter misalnya, rasa benci ke kelompok mahasiswa termasuk yang kritis atau memprotes kebijakan orde baru. Mereka diculik oleh Tim Mawar yang dalam pengadilan mengaku diperintah oleh Prabowo. Bahkan dari beberapa yang diculik, ada yang ditemukan meninggal dunia dan hingga sekarang masih ada 13 orang yang belum ditemukan atau belum kembali.

Paska turunnya rezim Orde Baru, Prabowo meninggalkan tidak hanya Indonesia namun juga pernikahannya dengan Titik Soeharto. Bahkan era 1999 sempat disebutkan Prabowo tidak akan kembali lagi. Padahal karir militer prabowo jelas-jelas dilancarkan karena menjadi menantu Soeharto. Waktu itu siapa yang berani menentang kebijakan Soeharto? Pun Titik yang sudah memberikan anak, tak dipedulikannya hingga mereka berpisah.

Nah saat proses Pilpres 2014 atau saat ini, giliran wartawan yang tidak disukai Prabowo. Dia pernah menyatakan bahwa gaji wartawan itu rendah dan marah-marah karena acara yang dihadirinya yakni reuni 212 tidak diliput sama sekali oleh wartawan. Pernyataan itu sontak membuat kaget, tidak hanya kalangan pers namun juga masyarakat umum. Harusnya sekelas Prabowo itu faham bagaimana media menetapkan kebijakan untuk meliput atau tidak meliput sebuah kegiatan. Dalam berbagai media disebutkan acara reuni 212 hanya ajang kampanye, ditambah menyeret-nyeret Islam. Bagi beberapa media aksi 212 mungkin dimaknai sebagai reuni kelompok intoleran. Makanya tidak ada gunanya memberitakan hal itu. Justru ketika diberitakan malah mengancam disintegrasi bangsa atau dampaknya lebih besar merugikan.

Yang juga sempat memantik reaksi besar yaitu pernyataannya mengenai tampang Boyolali yang tidak biasa masuk hotel mewah. Akibatnya orang-orang kelahiran Boyolali memprotes keras bahkan terjadi demo besar-besaran di kota susu itu. Tak lama dari pernyataan tentang tampang Boyolali, Prabowo lagi-lagi membuat blunder dengan tidak menghargai profesi ojek. Baginya, lulusan SMA yang hanya jadi tukang ojek tidak memiliki masa depan cerah. Sesat fikir soal ini adalah, bahwa tukang ojek sulit kaya tapi bahwa kehidupan sehari-hari masih bisa mereka dapatkan. Pun relawannya sendiri juga sempat kena tudingan tidak berduit.  Jika memang tidak berduit mengapa Prabowo berupaya meminta sumbangan ke relawan?

Yang paling menohok, Prabowo sebut 99 persen masyarakat Indonesia hidup pas-pasan. Padahal tanpa perlu survey atau penelitian kita bisa crosscek di kota kita masing-masing. Indikatornya tidak perlu soal rumah atau mobil namun motor roda dua. Saat ini mayoritas orang Indonesia minimal punya 1 motor dengan keluaran tahun setidaknya 2008. Dengan demikian, dia masih memiliki asset yang bisa digunakan untuk kebutuhan konsumsi mendesak 3 bulan hidup untuk 3 orang. Apakah seseorang ketika memiliki asset yang bisa untuk makan 3 bulan termasuk miskin? Nah dari berbagai pihak yang dinyinyiri Prabowo itu, kelompok masyarakat mana yang pernah disanjung? Apa dibenarkan tuh Capres bersikap begitu? Jika masih mencalonkan saja selalu pesimis, bagaimana cara dia bangun Negara?

 

Friday, December 7, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: