Siapa Saja Korban Rizieq?

ilustrasi

Oleh : Dwijo Cawa

Sejak kepulangan Rizieq pada Selasa (10/11) minggu lalu, kedatangan Rizieq Shibab sudah menimbulkan banyak korban. Bukan hanya rakyat biasa namun juga para pejabat di Indonesia. Baru seminggu, entah berapa energi masyarakat terbuang untuk berpolemik pada pria yang diidolakan fans Front Pembela Islam ini. Sejak mulai menginjakkan kaki di Bandara Soetta, perjalanan ke Petamburan, kunjungan ke Bogor, peringatan Maulid Nabi dan pernikahan anaknya hingga sehari sesudahnya. Kerugian bukan hanya material, immaterial bahkan nyawa manusia taruhannya.

Sewaktu menginjakkan kaki di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, puluhan taman maupun fasilitas umum hancur didesak atau terinjak orang yang sengaja datang menemui Rizieq. Belum lagi kemacetan yang ditimbulkan akibat berjejalnya kendaraan menuju bandara. Bahkan Nampak kendaraan roda dua menerobos jalur tol dengan harapan cepat sampai bandara. Tercatat 15 penerbangan terganggu dengan kembalinya pria yang membuat rekor umroh terlama itu. Bahkan ada satu keluarga yang hendak hadir dalam pemakaman terpaksa menunda sehari. Ratusan warga yang lain tertinggal pesawat dan agenda berantakan.

Pun dalam perjalanan menuju rumah tinggal Rizieq di Petamburan. Sotong seorang pria di Slipi ambruk akibat padatnya orang dijalanan melihat Rizieq. Nyawa terbuang sia-sia hanya karena kedatangan seseorang bukan untuk memperjuangkan sesuatu. Pun demikian dengan warga lain yang harus mencari jalan lain agar tidak terjebak kemacetan.

Belum lagi arah Petamburan dan sebaliknya sulit diakses sehingga warga sekitar aktivitasnya sangat terbatas. Pada Rabu, sehari setelah kedatangan Rizieq menuju Mega Mendung Kabupaten Bogor. Selama perjalanan, banyak masyarakat membludak dan memadati jalan. Aktivitas rutin masyarakat menjadi terganggu. Kemudian pada Sabtu, sehari sejak pagi hingga malam bukan hanya warga yang tinggal di Petamburan bahkan pengguna di KS Tubun ikut mengalami kendala karena ada acara persiapan dan acara Maulid Nabi serta pernikahan putri keempat tokoh FPI tersebut. BNPB yang mendistribusikan masker sebelum acara sebanyak 20.000 masker tidak terlihat bantuan itu tersebar.

Bisa kita lihat sepanjang acara mayoritas yang hadir tanpa masker. Tidak ada petugas yang rutin berkeliling mengingatkan memakai masker, duduk tidak terlalu dekat, tidak bersentuhan maupun menjaga diri dari potensi penyebaran covid 19. Paska acara, Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat dicopot dari jabatannya oleh Kapolri. Anies sebagai penanggungjawab wilayah juga dipanggil Polda Metro untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya membiarkan kegiatan berlangsung tanpa protokol kesehatan. Meski Satgas Covid DKI memberi denda kepada Rizieq, namun pemaknaan denda sejatinya jika kegiatan bersifat diam-diam. Bukankah kegiatan Maulid Nabi dan Pernikahan sudah diketahui sebelumnya?

Banyak pemberitaan kepulangan Rizieq memang salah satu agendanya menikahkan anaknya. Sudah selayaknya Satgas Covid, Gubernur DKI bahkan Polda Metro Jaya bersama-sama melarang kegiatan tersebut. Atau jika kesulitan melarang, ada penjagaan ketat agar penyebaran Covid 19 di DKI tidak makin meluas. Seperti kita tahu DKI merupakan titik penyebaran tertinggi Covid, apalagi status DKI hingga hari ini masih memberlakukan PSBB. Keputusan Gubernur tentang PSBB semestinya menjadi landasan untuk melarang atau minimal membatasi.

Dari keseluruhan aktivitas Rizieq, banyak orang yang datang sama sekali mengabaikan protocol kesehatan. Baik tidak menggunakan masker, berkerumun, tidak menjaga jarak maupun tidak cek kesehatan. Tidak ada pengukuran suhu, semprot hand sanitizer maupun yang rutin cuci tangan memakai sabun. Petugas yang standby pun diam saja melihat masyarakat yang hadir tidak melakukan kegiatan bersih diri.

Belum lagi di media sosial, banyak orang meributkan seputar kegiatan Rizieq hingga ekses dari aktivitas yang dilakukannya. Kita tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Rizieq, FPI, PA 212 dan gerombolan itu mengabaikan apa yang sedang terjadi didunia. Tidakkah mereka punya akal pikiran dan hati nurani? Setidaknya patuh pada hukum untuk selalu tertib mentaati kebijakan yang dikeluarkan baik oleh pemerintah pusat, daerah dan organisasi profesi. Harus berapa puluh atau ratusan hingga ribuan korban lagi agar mereka tahu diri, sadar diri bahwa segala aktivitas mereka sudah merugikan banyak pihak.

Thursday, November 19, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: