Siapa Menteri yang Bisa Dicopot di Tengah jalan?

Oleh: Prayitno Wongsodidjojo Ramelan

(Pengamat Intelijen)

Pada term kedua ini, Presiden Jokowi akan membuktikan bahwa dalam memimpin Indonesia dirinya akan lebih tegas. Pada term pertama, yg menjadi masalah adalah lemahnya kordinasi antar pejabat dan berbelitnya birokrasi, tidak lancarnya ngurus perijinan usaha serta kurang efektif dan efisiennya cara kerja kabinet. 

 

Dalam menyusun Kabinet Indonesia Maju, Presiden memilih menterinya
dengan orientasi sebagai problem solver, pengabdi agar Indonesia bisa lebih maju. Mampu meningkatkan kinerja kementerian yg dipimpinnya dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman dimana ruang pembatas lenyap sebagai dampak kemajuan teknologi dan komunikasi internet. Teknologi terus berkembang semakin maju bahkan kini memasuki generasi ke lima (G-5).Pejabat harus faham dan menyesuaikan ke era digital, bukan orangtr terkenal dan top tapi gaptek.

Falsafah dan Fokus Presiden

Presiden Jokowi berasal dari Jawa, dan umumnya suku Jawa itu mempunyai falsafah sebagai pegangan hidup. Nah dalam sebuah wawancara, saat presenter Retno Pinasti menanyakan apa pegangan hidup Pak Jokowi disebutkan ada tiga yaitu :

"Lamun Siro Sekti Ojo Mateni". (Meskipun kamu sakti atau kuat, jangan suka menjatuhkan). 

Lamun Siro banter, Ojo Ndhisiki: Meskipun Kamu Cepat Jangan Suka Mendahului."

"Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri" Meskipun Kamu Pandai Jangan Sok Pintar' itu aja," ungkap Jokowi.

Selain falsafah yang demikian penting, Presiden Jokowi juga memberikan penekanan untuk para menterinya. Inti stresing adalah, Jangan korupsi, ciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi. Tidak ada visi menteri, tetapi yang ada adalah visi misi presiden dan wakil presiden. Para pembantu beserta jajaran agar bekerja cepat, keras, dan produktif.

Jangan terjebak rutinitas yang monoton, bekerja harus berorientasi pada hasil nyata. Selalu cek masalah di lapangan dan temukan solusinya . Semua harus serius dalam bekerja.

Presiden Jokowi menegaskan
dan memastikan bagi para pembantunya yang tidak bersungguh-sungguh, tidak serius, bisa di copot di tengah jalan, itulah janjinya. Pray percaya ini kata orang Jawa, Sabdo Pandito Ratu.

Siapa Berpeluang Dicopot?

Sebenarnya kalau ditanya siapa yg berpeluang dicopot, ukuran utamanya apakah mereka tidak melaksanakan dan melanggar perintah presiden Menteri akan dicopot kapanpun apabila dia ketahuan korupsi, ataupun ada stafnya yg korupsi, ini masalah fatal dan mematikan karier siapapun dia.

Soal visi dan misi, kalau sang menteri semaunya sendiri, tidak ikut alur yg ditetapkan pimpinan nasional bisa terancam jabatannya. Menurut penulis, pejabat yg berasal dari TNI dan Polri harus hati2, bisa2 karena pangkatnya tinggi, walau purn, bisa tanpa terasa memandang enteng presiden, saat berada di wilayah kekuasaannya.

Bagi pejabat yg lelet, tdk produktif, monoton, malas turun ke lapangan, hasil tdk nyata, ya siap2 dicopot. Presiden Jokowi menurut Pray akan melakukan penilaian tiap tiga bulan, karena situasi dan kondisi perkembangan dunia sangat dinamis, kurang baik saat ini, terutama menghadapi ancaman resesi ekokomi. 

Presiden faham, kedepan akan terjadi perebutan ruang hidup di dunia. Mereka mengincar Indonesia sbg gadis cantik untuk dikuasai atau paling tidak di bawah pengaruhnya. Karena itu masalah integritas, kapabilitas dan kompetensi pejabat akan terus dimonitor presiden.

Presiden mengambil langkah berani, menempatkan beberapa tokoh yang relatif muda sbg Menteri. Ada pandangan sinis, mereka blm berpengalaman di birokrasi. Justru Pray menilai ini tantangan bagi yg muda utk membuktikan mereka bisa. Meneg BUMN Erick Tohir mulai melakukan reformasi, berani mengganti pejabat lama, membentuk kekuatan agar mesin perusahaan negara bekerja lebih efektif.

Mendikbud Nadiem juga melakukan inovasi, walau hambatan pasti ada, kita percaya akan ada gebrakan dan jalan keluar dari kebodohan. Selain itu presiden mengangkat staf khusus milenial. Arah presiden jelas, kita harus berani memanfaatkan para pemikir muda yg terdidik menyongsong persaingan tingkat dunia. Mereka sudah di era G-5 kalau kita masih di G-3 ya jelas akan terseok- seok.

Nah, yg fatal lainnya dalam beberapa bulan mendatang, apabila pejabat tidak memahami falsafah itu, kemudian menjadi ceroboh, tidak loyal bisa saja dicopot. Umumnya mereka yg sudah senior, sudah di usia senja, kemudian bak lalat, teman2 lama, pendukung di parpol, keluarga ikutan ngatur2. Maka siap2 puting beliung akan mengangkatnya dari rumah jabatan, bablas bersama koper2nya. Orang Jawa bilang "kintir", kira2 begitu.

Bagi mereka yg merasa super, merasa lebih hebat dari pak Jokowi, bisa saja tanpa disadari arogansinya cepat atau lambat bisa keluar . Terlebih lagi apabila di LN dia merasa dihormati, disanjung. Umumnya orang akan lupa bahwa jabatan itu seperti memakai baju, mudah dipakaikan tapi juga mudah dilepas. Baju itu dipakaikan oleh dan bisa dilepas juga oleh hak prerogatif presiden, bukan oleh siapa2.

Jangan sekali2 mencoba menjatuhkan nama presiden. Jangan ambil keputusan prinsip yg bisa berdampak besar dan merugikan negara tanpa lapor presiden. Jangan keminter, merasa paling pintar dan jangan mendahului pimpinan nasional.

Dengan demikian, sebenarnya para pejabat itu duduk di kursi panas, tiap saat anda bisa terbakar karena ulah sendiri. Pray berani menyatakan bahwa Presiden dengan hak prerogatifnya akan mencopot mereka yg dinilainya tidak mencapai target dan tdk memenuhi syarat. Tidak ada satupun menteri yg mempunyai pelindung yg namanya manusia atau partai sekalipun. Tidak ada yang kebal.

Pada term lima tahun pertama saja, Menko Polhukam hingga tiga kali diganti. Kita lihat juga dahulu Rizal Ramli dicopot dari Menko Maritim ke TAA (Tidak ada apa2nya), posisinya diganti LBP, Andi Wijayanto juga dilepas dari Mensekab Dengan demikian, maka para menteri2 kabinet Indonesia Maju harus giat bekerja dengan jujur. 

Jangan belum apa2 sudah gegeran dengan Wamennya, lebih2 kalau berebut proyek, orang Jawa mengatakan "asor". Jangan berfikir dengan pola lama dan yg paling penting jangan sekali2 ingin jadi matahari kembar di Galaxy Tata Surya Indonesia Raya, maaf maksudnya Indonesia Jaya. 

Presiden hanya ingin pembantu2nya bekerja dengan giat dalam memangku amanah, dan dengan niat yang baik demi bangsa dan negara.
Hati2, siapapun itu menteri, bisa hangus terbakar oleh matahari JKW dan anda akan back to basic jadi TAA. Salam 

 

(Sumber: Facebook  Marsekal Muda TNI Purn. Prayitno Ramelan)

Thursday, November 28, 2019 - 20:45
Kategori Rubrik: