Siapa Menebar Dia Menuai

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Kalau tidak mau dicaci-maki orang, sebaiknya kita juga tidak mencaci-maki orang. Itu nasehat usang, tapi sampai sekarang masih berlaku. Malah di dalam Al-Quran kita menemukan ayat yang intinya sejalan dengan itu.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al-Anam : 108)

Tidak suka pada sembahan pada berhala itu memang harus, karena itu perbuatan syirik yang harus ditumpas. Namun kenapa kita dilarang untuk mencaci-makinya?

Disini uniknya. Tidak suka pada suatu pilihan, itu hak masing-masing. Tapi kalau sampai menghina, mencaci-maki dan tidak beradab, maka itu bab lain lagi yang hukumnya malah jadi haram.

Oleh karena itu kalau tidak mau orang tua kita dihina oleh orang lain, maka jangan lah kita menghina orang tua mereka.

 

Kalau kita tidak mau agama kita dilecehkan orang, jangan kita lecehkan agama mereka.

Kalau nggak mau punya pejabat pujaan hati dihina dan dimaki orang, jangan lah pejabat yang diseberang sana anda hina dan anda maki. Sebab otomatis mereka pasti akan membalas dengan cara anda memperlakukan mereka.

Banyak orang menyebutnya hukum karma, tapi kayak gitu itu sebenarnya sunnatullah. Ngebuli ya dibuli. Menghina ya dihina.

Lagian jadi muslim, kenapa kok malah mengajarkan akhlaq yang tidak baik? Dakwah kok pakai ngebuli dan menghina orang? Apakah Rasulullah SAW pernah mengajarkan ngebuli dan menghina orang?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Monday, January 6, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: