Siapa di Belakang Anies dan ISIS?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Viralnya kelakuan Gubernur Jakarta dari sejak menjabat sampai kasus revitalisasi Monas, tapi dia bak manusia yg punya nyawa serap. 

Kelakuan lucunya membelanjakan uang negara seolah tak tersentuh oleh siapa saja, dia melenggang, menantang, bahkan petentengan bak preman. Yang jelas kasus Monas, dia melanggar hukum, dia mengacak-acak lokasi Monas yg diluar tanggung jawabnya, dia tebangi pohon yg sdh berumur 30 thn, katanya pohonnya di sehatkan, sekarang dia datangkan pohon Pule utk ganti Mahoni. Orang bodoh saja bisa menghitung berapa duit Mahoni di jual, di ganti Pule. Siapa Anies ini sebenarnya, selain JK yg kita tau sbg bekingnya, belakangan SP juga mulai jatuh hati kepada manusia tak berbudi ini, apa jangan2 Amerika juga yg menjaganya. Daya rusaknya luar biasa utk Jakarta, negara seolah lepas tulangnya tak mampu menghadapinya. 

 

Panas hati kita sebagai rakyat akhirnya seperti menghadapi ibu tiri, mau di lawan istrinya bapak, gak di lawan hati kita palak.

Belum selesai urusan orang bebal ini, sekarang bekingnya FPI yg menjabat Menag malah mau membawa pulang koloni ISIS yg sdh lama mendesis di luar sana, membakar paspor Indonesia, mereka memposisikan sbg musuh Indonesia, lha kok mudahnya atas nama kemanusiaan mau di bawa pulang, coba tanya mereka bgmn perasaannya saat kelompoknya menggorok leher manusia tak berdosa, apa dia pakai rasa, apa mereka manusia yg perlu dimanusiakan juga. Sekarang Komnas HAM ikut angkat bicara bahwa orang yg sinis kepada Indonesia itu seperti wajib kita terima. 

Komnas yg tak ada gunanya ini selalu hadir bak musuh negara, kalau pas ada rumah Ibadah di gusur atau IMB nya di batalkan mereka pura-pura budek semua, sementara yg membahayakan negara mereka hadir bak orang pandir. Coba tanya kenapa hukum orang yg memotong satu batang Mahoni dari lahan Perhutani di masukkan penjara, sementara didepan mata ada orang membabat 205 batang Mahoni di depan istana, dia bebas cengengesan dan hanya mengganti dgn batang pohon Pule yg kelasnya seperti Salmon dan Lele.

Kita adalah bagian dari Indonesia, walau hanya satu suara, tapi akhirnya kita sadar kita berhadapan dgn begitu banyak manusia yg punya kepentingan dgn menjual dan mengorbankan ke Indonesiaannya, kadang kita sampai bertanya, apa Indonesia masih ada, apa kita masih punya hak yg sama, atau kita hanya pelengkap penderita yg pura2 bahagia, entahlah, kawan saya bilang, nikmati saja yg ada walau kadang kita tau banyak manusia bak pedang bermata dua.

Selamat melanjutkan revitalisasi Anies, jangankan pohon yg kau tebang, bahkan Monas kalau kau rubuhkan kau masih dibela oleh manusia pemakan bangkai dari jasad kawannya yg benar-benar Indonesia. Selamat datang ISIS, pulanglah dgn berpura-pura Indonesia, kelak ada kesempatan kalian memgincar leher kami utk kalian pisahkan antara badan dan kepala, walau kami tak rela tapi kami tetap Indonesia, bukan YAMAN yg jadi preman di Indonesia dgn dibekingi orang yg bermain pada dua kaki. Dia mengaku Indonesia, namun sejatinya dia pencuri.

JAKARTA DAN INDONESIA DARURAT HUKUM, RAKYATNYA CUMA BISA NGGUMUN.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, February 5, 2020 - 20:00
Kategori Rubrik: