Siapa Bilang PS Sudah Habis?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Banyak komentar karir politik dan ambisi PS selesai pd 2019. Menurut saya tidak demikian, karena bagi seorang PS kekalahan adalah kehinaan, dan hanya bisa dihentikan oleh kematian, karena kekuasaan adalah birahinya yg tak pernah pupus. Hal itu bisa dimaklumi karena disanalah dia bisa melampiaskan segalanya segala rupa pembalasan dari kegagalan karir, perkawinan dan bahkan, maaf, tentang keturunan?..

PS bukan tipe pengabdi, dia tipe penguasa, dia suka kekuasaan, dia gemar puja puji, dia gila sanjungan, dia maniak pujian yg tak bisa dihentikan. Dan jangan lupa dia dikelilingi orang yg punya kepentingan sekaligus ancaman, karena mereka saling memanfaatkan, mereka para bajingan, yg mau merubah pancasila sbg ideologi bangsa.

 

Dalam pidatonya menerima keputusan MK, tapi dia tetap tidak mengakui kekalahan, makanya dari awal mereka membuat setingan dikalahkan oleh kecurangan, DIKSI ini dibuat sekaligus untuk merawat komunikasi kepada pendukungnya seolah junjungannya di zolimi, dicurangi, bahkan dikerjai oleh lembaga sekelas MK yg didalamnya duduk hakim pilihan yg bertanggung jawab kepada Tuhan dgn kesungguhan, bukan marah seperti Neno Warisman dan mengancam Tuhan.

Selain ada statement akan berdiskusi kepada kuasa hukumnya ttg kemungkinan ada jalan lain utk menuntut ulang, ada tambahan ucapan bahwa dia belum selesai tugasnya. Ini artinya dia seolah masih punya beban kepada bangsa. Seperti orasinya dimana-mana bahwa dia bgt mencintai rakyatnya, sekaligus memaki-maki ulama, dan siapa saja yg tak selaras dgn nya. Kalau yg sehati dia akan puji walau HTI, FPI, bahkan kroninya ISIS dia rangkul karena mendukungnya.

2024, usianya akan memasuki 73 thn, apakah dia tua, akan menjadi relatif selama dia sehat, walau cuma raganya, kalau batinnya biar orang yg menerawangnya. 2019 dia mendapat dukungan 68 juta suara, itu bukan suara lalat, jumlah itu menjadi modal kuat utk dia bertarung kembali, kecuali Jokowi bisa dimajukan lagi, karena hanya Jokowi yg bisa mengimbangi dan hal itu sdh terbukti, Prabowo kalah dua kali.

Menghentikannya dgn menyiapkan lawan yg seimbang, belum kelihatan kekuatan yg bisa dipasang, kalau cuma muda tapi belum jelas karyanya, ya percuma saja. Yang muda boleh maju bersama, tapi kalau Prabowo tak ada, kalau dia msh ikut juga, bisa dia habisi semua.

Cara menghentikannya hanya bisa dilakukan dgn mengubah UU pemilu dgn membatasi usianya, atau berapa kali maks keikutertaannya. Kalau presiden bisa dibatasi dua kali kenapa yg nyapres bisa berkali-kali. Atau presiden bisa ditambah jadi 3 atau 4 kali, agar Jokowi bisa menghalangi. Kalau tidak haqul yakin dia akan ikut lagi, kecuali kematian yg menjemputnya duluan. 

Harapan lain yg bisa diacadangkan memberi giliran kepada angkatan, karena disana ada Andika Pangkostrad yg mungkin akan dijadikan Panglima, usianya muda, pensiunnya bersamaan dgn selesainya masa tugas Jokowi. Kalau ini yg terjadi jgn ada perdebatan antara Civil dan TNI, yg penting PS bisa dihindari demi negeri. Dan kedepan tinggal disepakati arisan pimpinan, gantian civil dan angkatan, yg penting teruji sebagai pengabdi, bukan memperkaya diri dan menyuburkan kolusi para kroni.

Jadi hal itu serius harus dipikirkan, jangan dianggap sekilas jalan, karena akan sangat mengerikan bila PS jadi beneran, Indonesia bisa jadi barang dagangan yg bisa dia barter sembarangan yg penting menguntungkan.

2024 INDONESIA DIPERSIMPANGAN, JANGAN CUMA MEMASANG YG MUDA TANPA KARYA, BISA DIMAMAH PS SEMUA. SAAT ITU KITA CUMA BISA BILANG LHO, LHA, LHA, BLA, BLA BASBLAS ANGINNYA. INDONESIA BALIK KE ZAMAN ORBA. KITA CUMA BISA NANGIS BOMBAY, LEBAAAYY....

 

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, June 30, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: