Siapa Berani Membubarkan FPI?

Oleh: Kajitow Elkayeni

Radikalisme memiliki akar yang kuat di negeri ini. Kita tak bisa menampik sejarah kebrutalan. Kejahatan kemanusiaan yang justru dimotori oleh aparat, menyisakan catatan kotor di mana-mana. Di masa lalu, aksi banal itu mendapatkan restu dari sang diktator. Atau, justru dialah dalang dari banyak kasus tersebut. Maka teriakan HAM saat itu hanya membentur dinding.

Kini, di beberapa wilayah, kesewenangan aparat masih terlihat. Kasus beking aparat dalam perebutan tanah, atau justru mereka sendiri yang bersengketa dengan penduduk, masih ada. Bedanya, sekarang orang-orang lebih berani melawan.

Sekarang ini ada tren baru anarkisme. Para begundal yang membuat keonaran itu membawa-bawa label agama. Sebut saja FPI, HTI, FUI, dan beberapa ormas anarkis lain. Yang menarik, para aparat seolah-olah tak perduli. Mereka lebih mirip polisi India, datang ketika kejadian telah selesai. Atau yang lebih mencengangkan, mereka jadi pengawal aksi sweeping dan penggrebekan. Dalihnya untuk mengamankan. Mengamankan siapa? Pembuat onar atau korban keonaran?

Biasanya, para pelaku anarkisme berkedok agama itu berafiliasi dengan wahabisme, atau ikhwanul muslimin. Doktrin keras mereka tidak menghendaki negara dengan asas Pancasila. Sebagai gantinya, doktrin khilafah dan syariat islam dijadikan jargon. FPI berbeda. Ia tidak ada kaitannya dengan dua bibit keonaran di dunia islam itu secara langsung. Tapi jika dilacak lebih teliti, Rizieq Syihab itu ternyata pernah sekolah di Saudi Arabia.

Bagi orang yang pernah menempuh pendidikan di Saudi, ada dua kemungkinan yang akan didapatkannya. Pertama ia akan jadi moderat, yang ke dua ia akan jadi anarkis. Wahabi mengajarkan reformasi keagamaan dalam segala aspeknya. Kata reformasi ini terdengar manis, hakikatnya tidak demikian. Banyak hal menyimpang telah dilakukan wahabi dalam menyebarkan ajarannya. Bahkan ulama kita, Imam Nawawi Albantani jadi salah satu korban pembunuhan. Itu terjadi saat Wahabi memulai menganeksasi wilayah Makah dan Madinah kali pertama.

FPI begitu digdaya. Seolah tak satupun kekuatan di negara ini yang mampu mencegah aksi mereka. Di sini ada misteri besar, siapa di belakang mereka?

Menurut bocoran wikileaks, FPI diduga adalah ormas ciptaan aparat. Ia attack dog yang disiapkan untuk menerobos serangkaian batasan hukum dan HAM. Jika aparat langsung yang berbuat arogan, rakyat akan memberikan perlawanan. Langkah ini tentu membuat buruk citra aparat, yang kebetulan memang sudah buruk. Tapi jika ormas keagamaan yang berbuat, siapa berani melawan Tuhan? Ormas anarkis itu merasa mewakili Tuhan. FPI contohnya, bahkan berani menyebut dirinya mewakili islam, Front Pembela Islam.

Lasykar FPI itu riilnya hanya beberapa gelintir saja. Itu termasuk pasukan nasi bungkus yang menerima bayaran saat demo. Tapi siapa yang memberikan mandat kepada Rizieq untuk menjadi pembela islam? Tuhan? Mana surat tugasnya?

FPI memang membuka cabang di mana-mana, persis rumah makan padang. Untuk memobilisasi masa di daerah-daerah itu biaya operasionalnya tentu besar sekali. Patut dipertanyakan bagaimana FPI membiayai dirinya. Padahal Rizieq bukanlah pengusaha. Dan jika merujuk data bocoran Wikileaks, donatur dari orang kuat itu cukup masuk akal. FPI kuat karena ada beking di belakangnya.

Orang-orang berteriak-teriak ingin membubarkan FPI. Mulai ormas islam besar seperti NU, gubernur DKI, sampai pemeluk agama lain. Tapi meskipun mereka berteriak sampai nungging-nungging, FPI tak mungkin dibubarkan. Kapolri bisa apa? Cahyo Kumolo bisa apa?

Dalam hal ini bisa dikatakan, Negara telah bangkrut. Jika demikian faktanya, siapa yang berani membubarkan FPI? Tuhan? Baiklah, mari kita cari alamat-Nya untuk mengajukan surat permohonan. Itupun jika Tuhan tidak sibuk.

 
(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)
 
Friday, April 8, 2016 - 15:30
Kategori Rubrik: