Siap Sekolah Lagi di Tengah Wabah

Sudah berbulan-bulan sejak pandemi COVID-19 bermula. Berbcagai negara melakukan karantina/lockdown untuk mencoba menghambat penyebaran SARS-COV2, corona virus penyebab COVID-19 dengan menutup berbagai tempat dan kegiatan, di antaranya sekolah.

Ratusan juta anak sekolah di seluruh dunia pindah menjalani kegiatan belajar di rumah.

Cara utama yang dilakukan adalah menggunakan internet: Guru mengajar dan memberi tugas secara online, murid menonton pelajaran dan mengirim balik tugas lewat internet.

Sistem modern seperti ini mudah diterapkan di negara maju.

Di Indonesia, sekolah dengan lokasi perkotaan dan demografi murid dari kalangan menengah sampai atas tidak kesulitan menerapkannya

Namun sekolah lain di lokasi lebih terpencil dan demografi murid dari kalangan menengah ke bawah sampai bawah mengalami berbagai kesulitan

Selain itu, pembelajaran lewat internet mau tidak mau membuat anak lebih sering (dan punya alasan) menggunakan berbagai gadget, dengan segala dampak negatifnya.

Selain itu, beberapa kebiasaan yang diajarkan dengan temu muka di kelas, seperti aktif dalam kelompok, tertib, tenang ketika mendengarkan, bisa hilang.

Kemendikbud mengevaluasi segala masalah itu.

Dan seiring berjalannya waktu, kini (Mei 2020) menghadapi masalah akan berakhirnya tahun ajaran 2019-2020 dan tahun ajaran berikutnya.

Meski ada usul menggeser awal tahun ajaran baru sampai awal 2021 dari Federasi Serikat Guru Indonesia

Saat ini Kemendikbud masih menyatakan tidak akan mengundurkan tahun ajaran, dan tahun ajaran 2020-2021 akan dimulai pada Juli 2020

KONDISI PANDEMI

Wabah COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan mereda, jumlah kasus positif yang ditemukan setiap hari mencapai ratusan, dan rata-rata pasien meninggal adalah belasan orang per hari

Kasus COVID-19 tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia, sebagian besar di provinsi-provinsi Jawa dengan konsentrasi terbesar di Jabodetabek, namun belum ditemukan di sebagian Sumatra bagian utara, sebagian NTT, sebagian Maluku, dan sebagian Papua (mungkin karena belum testing).

Di Tangerang Selatan, ada 155 kasus positif dengan 24 yang sudah sembuh dan 19 meninggal.

Dengan demikian, diperkirakan wabah COVID-19 di Indonesia belum akan selesai dalam waktu dekat.

World Health Organization bahkan menyatakan SARS-COV2 mungkin tidak akan hilang lagi meski telah ada vaksin.

Sehingga cepat atau lambat, umat manusia harus belajar untuk hidup bersamanya.

Terkait anak, data sejauh ini masih menunjukkan bahwa kalau mempertimbangkan semua pasien, jumlah kasus positif COVID-19 di kelompok umur anak lebih sedikit daripada kelompok umur lain.

Data Kawal COVID-19 tanggal 15 Mei 2020 (tidak lengkap) menunjukkan di Indonesia, pasien positif COVID-19 berumur 19 tahun ke bawah adalah 65 orang (22 berumur di bawah 10 dan 43 berumur 10-19), 3,4% dari seluruh pasien tercatat.

Data 30 Maret 2020, "Umur Pasien Meninggal Karena COVID-19", data Tiongkok, Italia, Spanyol, dan Korea Selatan menunjukkan dari 3.836 pasien COVID-19 meninggal di keempat negara pada waktu itu, hanya 2 (0,1%) yang berumur 10-19, dan tidak ada korban tewas berumur di bawah 9 tahun.

Sayangnya sampai sekarang belum menemukan data lengkap terbaru pasien anak yang meninggal karena COVID-19 di Indonesia.

Data terakhir adalah laporan KemenPPPA 22 April 2020 yang menyatakan sudah ada 6 anak meninggal karena coronavirus di Indonesia

Mempertimbangkan data itu, sebenarnya sampai sekarang kita masih bisa mengatakan bahwa kelompok umur anak tetap bukan yang terancam bahaya terbesar akibat COVID-19, dibanding misalnya, kelompok umur 50 tahun ke atas yang menjadi 90% korban tewas COVID-19.

Artikel tinjauan mengenai infeksi coronavirus di anak oleh Zimmermann et al. di Pediatric Infectious Disease Journal (Mei 2020).

Menyebutkan bahwa sebagian besar anak yang kena COVID-19 hanya mengalami gejala ringan, paling sering demam dan batuk, yang sebagian besarnya sembuh 1-2 minggu sesudah awal gejala.

Selain itu, sebagian besar anak tertular dari anggota keluarga serumah yang terinfeksi lebih dulu, bukan dari luar rumah.

Satu laporan di Australia menemukan bahwa dari 9 murid dan 9 guru yang positif terinfeksi COVID-19 di 15 sekolah (high school & primary, di antara seribuan murid lain dan belasan guru), hanya 2 murid (1 HS, 1 primary) yang didapati terinfeksi di sekolah.

Tidak ada kasus murid menulari guru; 1 murid HS tertular dari sesama murid HS, 1 murid primary tertular dari guru.

Penelitian itu juga menyebutkan penularan SARS-COV2 di sekolah lebih rendah daripada influenza.

MENYIAPKAN SEKOLAH

Itu semua bisa jadi pertimbangan kita ketika menyusun rencana membuka lagi sekolah dan memulai kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka langsung di sekolah.

Pelaksanaan KBM seperti sebelum wabah, meski ada kemungkinan berisiko rendah, tentunya tidak diharapkan; selain masih ada peluang penularan, efek psikologisnya juga bisa negatif di mata masyarakat dan orangtua murid yang khawatir.

Beberapa saran yang bisa dilakukan bagi sekolah untuk menjalankan KBM dalam kondisi wabah (dari beberapa sumber).

1. Membiasakan murid dengan semua saran higiene umum yang efektif mencegah penularan SARS-COV2, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, sering mencuci tangan, tidak menyentuh wajah, dan tidak ke sekolah kalau sakit.

2. Mengurangi pengumpulan orang dalam kondisi padat.

Biasanya pengumpulan orang terbesar dan terpanjang waktunya di sekolah adalah pada waktu belajar di kelas.

Jumlah maksimal murid per kelas saat ini di SMA adalah 36, SMP 32, SD 28 menurut peraturan Kemendikbud.

Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah membuat kelas-kelas lebih kecil (misalnya daripada 1 kelas 36 orang, dibagi 3 kelas 12 orang), menggeser jadwal (misalnya kelas 1, 2, 3 masuk lebih siang daripada kelas 4, 5, 6), dan jika memungkinkan, menata tempat duduk di kelas agar lebih berjarak (misalnya murid tidak lagi duduk berdua-dua semeja).

Sekolah yang memiliki lahan dan ruang luas bisa lebih mudah melakukan cara-cara ini.

Berbagai acara lain di sekolah yang melibatkan banyak orang juga perlu dipikirkan kembali.

3. Screening awal.

Bagi sekolah yang mampu, bisa saja pada awal tahun ajaran dan secara berkala mengadakan rapid test antibodi untuk semua guru dan murid sebagai bagian pemantauan infeksi.

Beberapa tempat memeriksa orang yang datang dengan termometer; saya anggap itu cara yang kurang efektif karena cek suhu tidak bisa mendeteksi pasien positif tanpa gejala, jadi mubazir dilakukan; lagipula orang bersuhu tubuh tinggi (demam) kecil kemungkinannya aktif bepergian di luar.

4. Menambah kegiatan belajar di luar ruang.

Satu penelitian (belum ditinjau) di Tiongkok mendapati bahwa sebagian besar penularan SARS-COV2 terjadi di dalam ruangan, misalnya di rumah, sebaliknya penularan di luar ruang jauh lebih jarang.

Mungkin ini berkaitan dengan sirkulasi udara yang lebih lancar di luar ruang. Selain itu, pembelajaran di luar kelas punya berbagai manfaat langsung, misalnya lebih sering praktik dibanding teori.

Beberapa jenis sekolah, terutama sekolah alam, bisa menerapkan ini dengan lebih mudah.

Sekolah lain dengan keterbatasan fisik (misalnya tidak punya halaman) mungkin bisa memperbaiki ventilasi di ruang kelas atau mencoba pembelajaran di luar sekolah.

5. Mengajak murid makin terlibat dalam menjaga kebersihan sekolah.

Selain teori, murid diajari untuk praktik menjaga kebersihan sekolah demi kesehatan bersama.

Misalnya dengan menyeka meja menggunakan pembersih sebelum belajar, mengepel kelas, merapikan peralatan, dan lain-lain.

Sekalian memperkuat kebiasaan murid untuk hidup bersih dan teratur.

6. Keluwesan absen, kehadiran dan pembelajaran.

Ada kemungkinan sejumlah orangtua tetap enggan menyuruh anaknya masuk sekolah karena khawatir ketularan.

Satu cara untuk menampung kekhawatiran ini adalah dengan memperbolehkan murid dengan orangtua yang demikian untuk melanjutkan belajar di rumah, dengan cara menyiarkan KBM di kelas.

Tentu si murid jadi tidak bisa mengikuti beberapa kegiatan dengan sempurna, tapi setidaknya itu bisa menjawab kekhawatiran orangtua.

PENUTUP

Menghadapi pembatasan besar demi melindungi diri dari COVID-19 tidak mudah, bagi negara, masyarakat, maupun anak.

Dan kita mesti bersiap hidup berdampingan dengan virus itu, karena kecil kemungkinan SARS-COV2 akan bisa dimusnahkan total.

Pendidikan harus berlanjut. Kita boleh khawatir mengenai kesehatan diri kita sendiri, tapi kita juga tidak boleh merusak masa depan anak-anak dengan terlalu lama mengganggu pendidikan.

Lagipula, yang akan menyiapkan mereka menghadapi segala tantangan masa depan adalah pendidikan.

Sekolah mendapat tantangan untuk beradaptasi dengan kondisi baru.

Wabah ini bisa jadi kesempatan baik untuk memikirkan ulang cara kita merancang dan menjalankan sekolah.

Sebagian sekolah akan sukar berubah karena keterbatasan sumber daya atau lainnya.

Namun bagi sekolah yang bisa dan mau beradaptasi, terbuka lebar kesempatan merancang ulang dan membangun citra baru, menjadi "Sekolah Tanggap Corona" yang bisa menawarkan pendidikan bermutu sekaligus menjaga kesehatan murid dan menjawab kekhawatiran orangtua.
.
.
(TP/InRealLife)

Monday, May 18, 2020 - 07:30
Kategori Rubrik: