Si Setengah Penuh Pakde Jokowi

Oleh: Chitra Retna S

Seorang laki-laki kurus berkemeja putih terlihat menaiki sepeda ke panggung. Sontak kerumunan manusia bersorak. Mereka merasakan satu semangat menggugah, hanya dengan hadirnya sosok kurus ini.

Kapan Anda merasa 'related', alias nyambung, dengan Presiden Anda?

 

 

Seumur hidup mengalami 6 presiden, baru kali ini saya merasakan sangat related dengan presiden saya. Saya pikir begitulah politik seharusnya. Anda mencoblos sebuah wajah di kertas suara bukan hanya karena hari itu harus mencoblos. Tapi karena Anda tahu (seberapapun sedikitnya) apa yang dikerjakan si wajah itu, dan kerasa Anda menitipkan sesuatu padanya.

Saya hadir di Monas 2014 di malam Pakde terpilih. Saat itu Pakde terlihat begitu lelah, hanya berucap beberapa patah kata (yang dominan saya ingat dari malam itu adalah kami berdiri di tempat yang salah karena semut-semut merah menggigiti). Tapi kali ini Pakde terlihat begitu tegas, garang, emosional dan sempat berkaca-kaca, walau masih khas dengan kalimat terbata-batanya.

"Siapa bilang Indonesia akan punah? Gak ada. Gak bisa itu. Kita harus optimis. Harus optimis. Harus optimis. Kita harus jaga negara kita dengan optimis."

Massa seperti meledak. Mereka related betul dengan setiap kata dari presiden kurus ini. Semua mafhum, pasangan lawan pakai taktik kata-kata "punah" dll untuk membangkitkan sentimen populisme, seperti yang dilakukan Trump, Bolsonaro, bahkan Hitler dll. Membangkitkan sentimen ketakutan, rasa gamang, dan lalu disodori sosok pemimpin kuat sebagai jawaban. Tapi si lelaki kurus ini menepisnya dengan garang. Garang itu bukan di postur. Bukan di wajah. Tapi di tindakan.

Dan massa menjura. Pada konsistensi dan ketekunannya. Yang garang.

Sebagai bagian dari policy wonk (pinjam istilah teman), saya ikut mengamati bagaimana PNPM yang too big to disturb diganti dengan Dana Desa dalam semalam. Anda butuh kegarangan untuk melakukan itu. Subsidi BBM, si bom waktu yang sudah sebesar gaban, dicabut. Anda butuh kegarangan untuk melakukan itu. Perhutanan Sosial naik tiga kali lipat walau masih jauh dari target 12,7 juta hektar. Believe me, walau program ini indah di atas kertas, di lapangan konflik-konflik lahir karena pundi-pundi terganggu. Divestasi 51% saham Freeport direbut. Anda butuh kegarangan untuk menggoyang dan menghadapi lahirnya musuh-musuh di dalam dan dimana-mana

Tapi Jokowi parah untuk isu HAM? Infrastruktur tidak cermat? BPJS defisit? Juga a, b, c, d dst?

Banget. Masih parah. Tapi apakah memperbaiki kondisi bangsa yang rusak dari a sampai z bisa dalam 4 tahun? Pertanyaannya sederhana: Jokowi setengah gelas penuh atau setengah gelas kosong? Anda mau fokus pada setengah gelas belum terisinya atau fokus pada setengah gelas lebih yang sudah terisi? Dan apakah minimal Jokowi sudah lebih dari setengah, ambang batas minimal yang kita patok untuk seorang presiden?

Saya memilih seperti Pa Ingals yang memanggil Laura Ingals di little house in the prairie dengan "si setengah gelas penuh", rather than setengah gelas kosong. Saya memilih bertaruh pada perbaikan pelan kecil-kecil telaten tapi sistemik di titik-titik krusial dan yang penting jadi, dibanding mengeluhkan ini itu belum ini itu gak becus tapi lalu Anda bertaruh pada apa? Pada siapa? Pada golput yang sepanjang sejarah tak pernah bisa menyentuh perbaikan sistem? Pada pasangan sebelahnya yang bahkan belum pernah memimpin daerah lebih dari 1 tahun dan sulit dilacak apa capaiannya?

(Benar ucapan seorang teman yang bilang Pilpres kali ini sebenarnya antara Jokowi dan Anti Jokowi, Prabowo hanya dipinjam sebagai simbol. Saya jarang merasakan orang related dengan Prabowo, tapi mereka related kuat dengan gerakan Anti Jokowi, dan anti Jokowi ini dibangun dengan satu instrumen utama yang bersifat absurd: bahwa Jokowi anti Islam)

Apa yang saya pertaruhkan pada Pakde di malam 2014 saat ini sudah tercapai melebihi setengah gelas penuh. Tapi saya tidak beranjak sore itu karena menunggu satu kalimat, yang akhirnya diucapkan beliau.

"Saat ini kita fokus pada infrastruktur, tapi pada periode selanjutnya kita akan fokus pada sumberdaya manusia"

Yess, that's the sentence I'm waiting for. Terimakasih pakde, sudah menjadi sosok tempat kami bertaruh demi perbaikan Indonesia.

GBK, 12 Januari 2019

 

(Sumber: Facebook Chitra Retna S)

Sunday, January 13, 2019 - 16:45
Kategori Rubrik: