by

Si Leon yang Ealaaah….

Oleh : Harun Iskandar

SI LEON YANG ‘EEALAAH’ . . .(The King of Lip Service Salah Cari Lawan 😛)Leon Alvinda Putra yang lansir ‘idiom’ The King of Lip Service, untuk Jokowi, tampil di acara Najwa Shihab. Di you tube yang berdurasi 8 menitan itu, terungkap bahwa ketua BEM UI ini sudah ada di semester 9, karena dia angkatan 2017 . . .Terungkap pula, dia ‘butuh’ beasiawa ‘tambahan’ untuk selesaikan kuliahnya, karena beasiswa yang diterima selama ini otomatis berhenti kemaren, di semester 8. Ini jumlah maksimal semester yang dipersyaratkan oleh si ‘Pemberi Beasiswa’. Dianggap masa kuliah 4 tahun sudah cukup, wong dapat beasiswa, artinya dianggap pinter . . .Tapi mbak Najwa ndak kurang2 memujinya sebagai ‘pinter’, disamping ‘idealis’.Benarkan dia pinter dan idealis . . . ?Soalnya ada juga ‘satu cuitan’ memuji Leon, yang sebutkan, bahwa si Leon ini banyak mentornya, eks aktivis UI dan alumni HMI, untuk itu yang bercuit ini menyebut ‘istana, maksudnya Jokowi, salah pilih lawan . . .”Wwk wk wk . . .

Apa dia, yang bercuit itu, ndak tahu, bahwa ada 5 atau 6 orang lulusan UI, yang waktu kuliah dulu mesti pinter, diangkat ‘istana’ jadi Menteri. Artinya jadi ‘anak buah Jokowi’. Diantaranya ada Bu Sri Mulyani, yang pernah di Bank Dunia . . .Yang dari HMI juga ada. Seperti Mahfud MD, Menko Polhukam, atau Bahlil Lahadalla, ketua BKPM . . .

Lagilpula, kuliah jaman sekarang, kalau sampai 4 tahun, yang butuh 144 SKS, ndak lulus, bisa disebut ndak pinter2 amat.Jaman saya kuliah dulu, Jurusan Teknik Kimia waktu itu butuh 160 SKS untuk lulus, ada 4 atau 5 orang teman yang lulus cuma 4 tahun. Bahkan ada satu orang yang lulus 3,5 tahun . . .Jokowi sendiri, seusia adik angkatan saya setahun. Dia masuk 1980, lulus tahun 1985, cuma 5 tahun. Cuma setengah tahun lebih lama dari 4,5 tahun, tapi mungkin juga harus lulus 160 SKS, seperti saya . . .

Kalau mbak Najwa nyebut Leon idealis dan pinter, meski ndak terus terang, itu ndak tepat2 benar. Apalagi dilihat cara peroleh biaya kuliah dan ketepatan waktu kuliahSedikit cerita tentang Bung Karno . . .Bung Karno sama juga, berasal dari keluarga biasa. Waktu kuliah di Bandung, ITB sekarang, baru setahun, mertuanya, HOS Cokroaminoto, ditangkap Belanda. Soekarno pun segera balik ke Surabaya, cuti kuliah, untuk membantu ekonomi keluarga sang Mertua. Dia merasa ikut bertanggung-jawab pada keluarga bekas induk semangnya. Bekerja . . .Tujuh atau delapan bulan, Soekarno kembali kuliah. HOS Cokrosminoto sudah keluar dari penjara.Namun dia juga langsung terjun ke politik. Pidato disana-sini. Ditegur. Suruh pilih kuliah atau politik. Padahal Soekarno kuliah bayar sendiri, ndak lewat beasiswa.Soekarno nurut. Berjanji. Pilih kuliah. Meski dia kuliah teknik tapi mengaku ndak suka ‘itung2an’, juga cuti tujuh bulan, Beliau lulus tepat waktu, 5 tahun. Andai ndak pakai cuti, bahkan mungkin bisa lebih cepat . . .

Setelah lulus kuliah, baru Soekarno ‘mbalelo’. Harusnya, sebagai Insinyur, Arsitek, yang waktu itu masih langka, pinter pula, Soekarno bisa ‘leha2’ hidup enak. Bisa jadi pegawai ‘guperment’ Belanda, Jadi ‘menak’.Tapi Soekarno lebih memilih berjuang untuk kemerdekaan negerinya. Hidup susah. Dipenjara. Dibuang kesana-kemari . . .Itu idealisme. Taat azas dan nurani. Ndak ‘ngemis-ngemis’. Berani hidup ‘susah’, tanggung jawab pada keluarga, juga pada negerinya . . .Dan ‘kebetulan’ Soekarno juga ‘pinter’ . . .

Lagipula, mahasiswa ‘berani’ jaman sekarang ndak cukup menakjubkan. Biasa. Apalagi di masa Jokowi yang penuh maaf, sabarnya seluas samudra. Andai ditangkap pun paling cuma butuh meterai 10 ribu rupiah.Coba kalau ‘berani’ di jaman Belanda, atau jaman Orde Baru, jaman Soeharto berkuasa. Pagi pidato bengak-bengok, atau beri ‘kartu kuning’, malam hari ditanya kemana, sekarang ada dimana, sudah ndak jelas lagi lokasinya . . .Paling dijawab, ‘Mènè kètèhèk . . .’ Lenyap !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed