Si Bunglon Cagub DKI

Anies Baswedan

Oleh Emmy Hafild

Kampanye Pilkada ini membuat saya terpana dengan karakter Anies Baswedan, siapakah dia?

Apakah dia seorang yang sebelum Pilkada ini, kelihatan mempunyai karakter: intelektual Islam yang moderat, terbuka dan inklusif, santun, cerdas, mempunyai fikiran bernas dengan ide-ide cemerlang, yang selalu mampu mengutarakan fikirannya dengan kalimat yang jernih? Seorang intelektual Islam yang menganut keberagaman, paham Islam rahmatan lil alamin, seorang demokrat sejati, anti kekerasan dan anti diskriminasi? Seorang yang selalu tersenyum, ganteng, tulus, ikhlas, rendah hati, dengan air muka jernih?

Itu adalah karakter Anies yang muncul ke publik yang membuat dia populer di kalangan menengah atas dan Islan moderat yang terdidik, termasuk saya, sebelum konvensi Partai Demokrat tahun 2013-2014 dan sebelum menjadi Cagub DKI. Anies yang saya kagumi, yang saya iri karena kemampuannya bertutur dan mengemukakan fikirannya secara jernih, runtut dan dingin, dibandingkan saya yang selalu menggebu-gebu dan meledak meletus.

Saat ini, karakter di atas hilang.
Sekarang, Anies adalah seorang Calon Gubernur yang mendukung Islam eksklusif garis keras, dengan pernyataan yang sepakat dgn FPI, menggunakan kata-kata santun tapi tidak cerdas, fikirannya tidak bernas dengan ide-ide yang tidak cemerlang, masih pandai berkata-kata, tetapi kejernihan pandangannya hilang, dan yang paling parah, tidak mengkritik dan menentang aksi Islam garis keras yang dilakukan FPI atau HTI. Intelektual Anies yang Islam moderat, inklusif nusantara, sekarang bersekutu dengan Rizieq yg berpaham syariah dan khilafah dan diskriminatif, yang dulu dia kritik, dan bersedia merangkak kepada Rizieq demi dukungan menjadi Gubernur. Seorang Calon Gubernur yang membangun koalisi dengan Calon Gubernur Islam lainnya demi mencegah petahana yang non Islam terpilih kembali (diskriminasi terhadap non-Islam).

Sekarang Anies bukan tersenyum tulus tetapi senyum dipaksakan sehingga terasa dan terlihat seperti menyeringai dengan air muka yang memendam kebencian dan kemarahan, entah kepada siapa.

Anies yang Calon Gubernur sudah kehilangan ide-ide cemerlang, dan hanya menjadi medioker saja. Menjual ide partisipatif tanpa kerangka kerja dan mekanisme yang jelas, mengeksploitir issu relokasi, menuduh lawannya menerapkan kepemimpinan yang menebar ketakutan alias diktator, dan menyerang karakter seseorang secara sangat arogan, tidak etis dan sengit.

Kata-kata: kopiah pilih kopiah, hentikan dan pulangkan petahana, pemimpin yang menebar ketakutan, meminggirkan rakyat miskin, menggusur tanpa hati, diucapkan dengan mimik wajah marah dan penuh kebencian. Menyindir dan mengkritik dengan bahasa tubuh dan pandangan mata serta sikap mulut dan bibir yang ngenyek dan bengis.

Sungguh saya sangat terkejut dengan perubahan yg demikian cepat, dari tengah ke kanan dari manis dan santun menjadi keras dan bengis. Teman-teman yang dulu sangat dekat mendukung Anies secara total dan menangis sewaktu dia diberhentikan sebagai Menteri Pendidikan sangat terkejut dengan perubahan karakter Anies Baswedan yang dipertontonkan ke publik saat ini, yang seperti siang dan malam dengan karakter yang dipertontonkan sebelumnya.

Jadi siapakah Anies yang sebenarnya? Apakah selama ini dia menipu publik dengan tulisan dan ceramah-ceramahnya dan sikapnya yang santun dan manis?

Apakah dia seorang bunglon yang berubah warnanya sesuai tempatnya berada untuk mempertahankan diri, atau seorang machiavellis yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa, atau seorang manipulator publik dengan ideologi kebangsaan yang dia sendiri tidak seratus persen percaya?

Saya fikir dia lebih kepada bunglon, menggunakan kamuflase sesuai lingkungan yang dia butuhkan. Menggunakan jargon-jargon yang disukai tergantung dari publik mana yang dia butuhkan dukungannya. Sekarang selubung itu sudah terbuka. Untuk menang dalam Pilgub Jakarta, Anies mengorbankan prinsip dan ideologi yg dia khotbahkan kepada khalayak dulunya seperti Merajut Tenun Bangsa dan merangkul jargon-jargon baru yang bertolak belakang dengan jargon sebelumnya. Anies bahkan mempunyai kemampuan untuk memutar balikkan fakta dan menciptakan fakta baru tanpa malu-malu (rapor DKI merah, APM Jakut lebih rendah dari APM Biak, menyingkirkan rakyat miskin, hasil kerja petahana adalah warisan dari dulu, dsb). Anies kehilangan intelektualitasnya dengan menutup mata terhadap penghargaan berbagai penghargaan yg diterima DKI, perubahan kasat mata yg terlihat gamblang di lingkungan DKI, perubahan sikap PNS DKI menjadi berorientasi pelayanan, dsb dan prestasi-prestasi lainnya. Intelektual harus mampu melihat sisi positif dan negatif, tetapi Anies memilih hanya melihat sisi negatif dan mikro, karena dia intelektual bunglon.

Artinya bunglon tidak punya prinsip, tidak konsisten, tidak berani melawan frontal tetapi mempertahankan diri dengan membuat kamuflase. Bunglon berubah untuk survival dirinya sendiri, bukan untuk prinsip dan ideologi dan bukan untuk kemaslahatan umat. Walaupun harus menipu publik.

Saya secara pribadi tidak bisa memaafkan, karena merasa ditipu setelah dia bergabung dengan FPI. Tulisan Merajut Tenun Bangsa itu adalah salah satu tulisan terindah mengenai kebhinekaan Indonesia, dan dia khianati begitu dia bersekutu dengan FPI.

Kalau dia dengan gampang meninggalkan prinsip dan ideologi yang dia khotbahkan dulu dan bersekutu dengan pihak yang saat ini menggerogoti prinsip dan ideogi yang dulu diperjuangkan, maka bukan tidak mungkin dia akan merubah prinsip dan ideologi yang dia jual sekarang untuk memenangkan Pilgub.
Kita perlu kritis bertanya:
1. Apakah dia akan mendukung FPI jika Rizieq minta agar Gubernur mengeluarkan Perda DKI yang mendukung NKRI bersyariah?
2. Apakah dia akan melawan anggota DPR DKI untuk menggolkan proyek-proyek tertentu yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip yang dia anut demi mendapatkan dukungan DPRD untuk RAPBDnya?
3. Apakah dia akan mengembalikan dukungan finansial kepada ormas-ormas yg mempromosikan eksklusivitas SARA dan melakukan tindak kekerasan?
4. Apakah dia akan tetap konsisten tidak menggusur, tidak merelokasi, menghentikan reklamasi padahal situasi lapangan tidak memungkinkan dan menghadapi resiko dilengserkan dan gugatan di pengadilan?
5. Pertanyaan yang paling besar buat saya, walaupun dia anti korupsi, tetapi dengan rekam jejak Anies yang bunglon, apakah dia mampu melawan mafia anggaran, mafia tanah dan mafia pembangunan lainya?
6. Sebagai bunglon, Anies akan memberikan janji apapun kepada warga DKI untuk terpilih sebagai Pilgub, tetapi adakah garansi bahwa janji itu akan dipenuhi begitu dia terpilih sebagai Gubernur, karena bunglon pasti tidak konsisten.
7. Apakah dia mampu untuk menerapkan terobosan-terobosan dalam membangun Jakarta dan memenuhi kebutuhan rakyat DKI dengan kemampuan anggaran dan peraturan pemerintah yg sangat mengikat?

Akhir kata, apakah seorang bunglon mampu memimpin Jakarta?

Sumber : Status Facebook Emmy Hafild

Wednesday, February 1, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: