Showbiz Sejak Lama Jadi Candu bagi Rakyat

ilustrasi

Oleh : Fritz Haryadi

Dari sisi pemerintah, candu berfungsi mengalihkan perhatian rakjat dari memelototi korupsi. Showbiz sudah terbukti efektif meninabobokan rakjat sedjak jaman pertunjukan gladiator di Colloseum kekaisaran Romawi.
Saat Roma tumbang, dan peran colloseum diwarisi oleh teater, dengan sastra sebagai pengganti pertunjukan darah, showbiz berubah fungsi. Lewat sastra, ia menjadi instrumen penyadaran rakjat dan kritik terhadap pemerintah.
Fungsi ini terus bertahan saat teater digantikan oleh bioskop, dan semakin berkembang seiring penciptaan radio dan televisi.

Lalu tiba saatnya sejarah harus tunduk pada kutukan siklusnya. Pemerintah di banyak bangsa mulai menyadari pergeseran fungsi showbiz, dan segera belajar mengendarainya untuk membangkitkan era keemasan colloseum.

Di Indonesia, Orba sukses selama 32 tahun mengendarai televisi dan bioskop sebagai pedang bermata dua untuk mengendalikan rakjat. Televisi dipakai untuk disinformasi, mencekoki rakjat dengan kabar palsu tentang tentramnya negeri; sedangkan bioskop dipakai untuk meluncurkan candu showbiz yang andal : pornografi dan kekerasan; untuk mematikan aspirasi pemberontakan, diganti dengan onani.
Sinetron dan film bahu-membahu dalam misi ini. Sinetron menyampaikan indoktrinasi nilai-nilai kekeluargaan dengan target anak dan remaja, sementara film menyajikan hiburan semu dengan target orang dewasa; menidurkan mereka dengan mimpi palsu kisah-kisah pendekar yang menang melawan kebathilan, sejarah palsu tentang kepahlawanan masa lalu yang hasilnya harus disyukuri di masa kini, betapapun blangsaknya masa kini itu.

Pergantian rezim terbukti gagal membuahkan pergantian prinsip. Showbiz tetap dijadikan instrumen candu rakjat, sebab masih terbukti efektif.
Ada perubahan sedikit pada pemilihan media. Bioskop sudah tidak seperkasa dahulu; sehingga tidak terlalu menjadi fokus. Sinetron masih digdaya, dan punya teman-teman baru : reality shows (kuis, permainan, talk show, infotainment).
Televisi pun sudah tidak menjadi media utama untuk sinetron dan kroni-kroninya itu. Internet sudah mendobrak dinding pemisah antar kelas, dan membawa televisi ke depan hidung rakjat melalui gadget pangku dan gadget genggam yang makin lama makin murah.

Operasi ninabobo di era pasca milenium semakin masif dan mengerikan. Sebab targetnya bukan lagi kelompok umur tertentu. Internet sudah menghilangkan kekuatan untuk memilih. Semua kena, dan yang paling rentan adalah anak dan remaja.

Sinetron dan reality shows dalam 20 tahun terakhir menjalankan misi pembodohan yang sangat masif, dengan target perempuan dan anak : dua komponen kunci pergantian generasi.
Pembodohan ditempuh melalui penjuaraan karakter-karakter dan tema-tema yang... bodoh. Tidak ada sebutan lain yang lebih akurat. Sinetron memaksakan pseudo-realita berisi manusia-manusia yang senantiasa gagal menggunakan otaknya dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan; sehingga secara langsung menghipnotis pemirsa untuk menerima konsep kekalahan akal itu sebagai norma.
Jika perempuan dan anak sudah dibodohkan, sehingga generasi masa depan sudah dipastikan cukup goblok, maka jaring pengaman rakjat sudah jebol. Harapan sudah dibunuh, dan minimal dua generasi hanya bisa telentang menerima penzombiean.

Sementara perempuan dan anak dibodohkan, angkatan sisanya disibukkan dengan serangan lain : disinformasi lewat internet. Sepuluh tahun lalu front ini masih didominasi oleh fake news, berita palsu. Kini, modus baru mulai diperkenalkan : sinetronisasi fakta. Yaitu kapitalisasi unsur drama sinetronik dalam isu-isu aktual. Sederhananya, mengubah kasus riil menjadi sinetron; atau menutupi kasus riil dengan cerita-cerita sepele yang diviralkan dan dibesar-besarkan. Tujuannya sama : mengaburkan fokus dari isu yang lebih besar dan lebih penting.
Modus sinetronisasi ini sedang marak-maraknya, dan terhitung sukses. Contoh :

- Kapitalisasi cerita perceraian Basuki Tjahaya Purnama; justru oleh penggemarnya sendiri. Ini mengaburkan fokus dari kinerjanya di Pertamina, sekaligus memadamkan aspirasi penunjukannya menggantikan Erik Tohir menteri BUMN; yang sempat mengemuka lalu secepat kilat redup kembali. Pembunuhan karakter adalah kunci.

- Kapitalisasi cerita remeh mualaf yang menjelek-jelekkan agama asalnya, yang disusul dengan drama pengakuan dosa yang sangat sinetronik. Cerita remeh ini diviralkan untuk menjadi candu bagi umat agama minoritas, sehingga lupa mengangkat isu-isu yang lebih sentral terkait pemenuhan hak-hak minoritas.

- Kapitalisasi cerita remeh tentang pembocoran data pribadi Denny Siregar, seorang mantan jurkam presiden petahana yang rupanya belum habis masa tugasnya walaupun presiden sudah tidak memerlukan kampanye. Ybs diperlakukan seolah seperti Edward Snowden. Bedanya Snowden menghantam Potus dan CIA; sementara Denny menghantam Telkomsel, sambil tetap memuja Potri (walaupun selama ini mengaku sebagai pemuja kerang ajaib).
Kasus Denny sebenarnya sangat valid, jika dikemas untuk membangkitkan lagi aspirasi menuntut tanggung jawab Telkomsel terhadap privasi data pengguna; aspirasi yang sempat diusung YLKI 10 tahun lalu namun tenggelam.
Lebih ideal lagi jika diarahkan untuk mengusulkan RUU perlindungan data pribadi warga negara; yang tidak hanya mengincar Telkomsel melainkan juga Kominfo beserta semua unsur negara.
Sayangnya yang mengemuka lagi-lagi drama, upaya meraih simpati kepada Denny; bukan langkah konkret dan strategis, yaitu langkah hukum dan legislasi.

- Penyetiran opini pasca ancaman presiden untuk melakukan langkah Extraordinary™ dalam menindak wanprestasi kinerja kementerian terkait penanganan wabah Covid-19.
Ancaman presiden terlanjur membangkitkan harapan rakjat untuk reshuffle kabinet, bahkan pembubaran lembaga tertentu; bukan saja terkait wabah, namun utamanya untuk pembersihan struktur aparatur negara dari unsur-unsur musuh negara; misalnya hizb uth-tahrir.

Namun reshuffle tidak kunjung terjadi. Belakangan muncul narasi dari unsur rakjat pendukung presiden, bahwa reshuffle batal. Ironisnya dalam narasi itu pembatalan reshuffle disebut sebagai "keberhasilan", karena gertak sambal berhasil mencambuk para menteri untuk memperbaiki kinerja.
Ini sinetronisasi dalam bentuk yang sehina-hinanya, sebab fenomena yang salah dipaksakan untuk dianggap benar; oleh unsur rakjat yang terlanjur terlabel sebagai pengabar kebenaran; bukan pengabur.

Dalam carut-marut kesadaran sosial di era pasca-kebenaran ini, keberadaan anasir rakjat yang masih konsisten pada rel kebenaran, keadilan, dan penyadaran, makin sulit dikenali.
Karena perut dan kelamin sudah mengendalikan kepala.
Demikian, turut berbelasungkawa.

Sumber : Status Facebook Fritz Haryadi

Friday, July 10, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: