She is My Face of Islam

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Sabtu pagi kemarin saya dapat 'kiriman' cerita via FB, dari teman yang bermukim di Postdam, Muenchen, Jerman. Bagus sekali.

Tulisan Gus Nadersyah Hosen yang aslinya mengulas video percakapan antara Oprah Winfrey dengan seorang penulis wanita terkenal Elisabeth Gilbert.

Saat itu Elisabeth sedang dirundung kesedihan yang dalam. Depresi. Memutuskan untuk menyepi di sebuah pulau kecil dan miskin di daerah Lombok, Indonesia. Saya sebut miskin, kata Elisabeth, karena hasil tangkapan laut yang di dapat hari ini adalah makan malam mereka.

Tiap hari saya berjalan menyusur pantai. Dalam diam. Tiap kali pula bertemu dengan seorang perempuan Muslim. Dia mengangguk dan tersenyum ramah. Saya pun segera membalas sama. Agaknya dia tinggal di bagian lain pulau.

Sampai satu waktu saya tergeletak sakit parah. Meringkuk dalam kabin. Sendiri. Di sebuah pulau sepi yang satu pun saya kenal. Tak pula ada yang tahu.

Saya dengar pintu kabin diketuk lalu terbuka. Wanita yang acap saya temui di pantai itu ternyata. Terlihat dia terkejut melihat kondisi saya yang mengenaskan. Dia pamit pulang sejenak.

Satu jam kemudian dia kembali dengan bawa air segar dan makanan. Tertegun takjub saya. Tangis saya pun meledak, saya genggam erat tangannya, lalu menghambur dalam pelukan-nya. Berlaku seakan saya ini anaknya, dia pun memeluk saya. Saya merasa begitu tenang tentram ada dalam rengkuhan tangan yang teduh mengayomi . . .

Sejak itu, setiap ada percakapan, perdebatan, bahkan gunjingan tentang Islam. Dalam ribuan kata, teori, atau apa saja, tak saya pedulikan. Yang terpatri dalam ingatan cuma dia. She is my face of Islam.

Seorang wanita Muslim yang bahkan tak tahu dan tak kenal nama, yang satu hari bertanya-tanya. Mana perempuan asing tetangga baru, yang biasa saya temui saat dia berjalan-jalan di tepi pantai tiap hari.

Lalu dia berjalan dengan perasaan cemas ke sisi lain pulau. Ke tempat dimana dia perkirakan perempuan asing itu berdiam. Untuk mencari tahu. Mengapa . . .

Dia ketuk setiap pintu. Jika tak ada jawaban dia buka. Dia lihat ke dalam. Ketuk lagi, dan ketuk lagi pintu yang lain, sampai dia temukan saya . . 

Salah satu 'wajah' Islam, telah dipilih seorang 'Emak2', dari desa kecil dan miskin di Lombok. Masih banyak pilihan yang lain memang.

Si Emak itu telah menjatuhkan pilihannya, yang tampilkan 'Keteduhan', dan 'Kelemah-lembutan'. Namun jangan dikira tak nampak 'gagah' dan 'perkasa', meski tak unjuk 'Kesangaran'. Bengis. Beringas.

Karena terbukti Elisabeth, seorang perempuan modern, cerdas, dan mandiri, datang dari belahan bumi yang telah jauh lebih maju dan kaya, ketika terpuruk tak urung bersandar pada pundak dan pelukan Sang Emak. Bagai bocah kecil yang menangis butuh perlindungan.

Rahmatan lil 'alamin. Mungkin dia, si Emak, tak begitu paham. Yargon atau yel2an yang acap dipakai sebagai 'trade-mark' Islam. Namun dia sangat amat paham, inilah seharusnya cerminan ajaran agama yang dianutnya.

Yang juga selaras dengan petuah2 kuno, yang dia dapatkan dari bapak-emaknya, dari kakek-nenek, dari buyut, dari moyangnya . . .

Petuah kuno dari Lombok yang tentu tak jauh beda dengan 'petitah-petitih' dari seantero bumi Nusantara lainnya . . .

Beri tongkat pada yang buta . . .
Beri payung pada yang sedang kehujanan . . .
Beri sandang pada yang telanjang . . .
Beri makan pada yang kelaparan . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Sunday, December 1, 2019 - 18:45
Kategori Rubrik: