Setya Novanto Mundur, Jokowi Tertawa

 

Oleh: Alifurrahman S. Asyari

Semalam (16/12/2015) MKD membacakan surat pengunduran diri Setya Novanto, di saat yang sama Presiden Jokowi tertawa lepas bersama pelawak di Istana. Katakanlah ini kebetulan, tapi tetap sebuah kebetulan yang luar biasa. Seorang Presiden rasanya bohong sekali kalau tidak tau bahwa di MKD sedang ada gelar keputusan. Lalu mengapa di saat bersamaan Presiden mengundang pelawak ke Istana? Ha ha ha ... ini pesan yang sangat jelas bagi semua lawan politiknya.

Kalau mau jujur, MKD dan DPR memanglah sekumpulan orang-orang lucu tapi tidak berhasil membuat kita tertawa. Masih ingat kan bagaimana sebagian orang begitu ngotot agar kasus Setya Novanto tidak dilanjutkan? Lalu Fadli Zon dengan goblok maksimalnya mengatakan rekaman Freeport itu barang haram? Kemudian Fahri Hamzah balik mempertanyakan, "publik mana? Rakyat NTT tidak setuju Setya Novanto dihukum” setelah Presiden Jokowi berkomentar “MKD harus dengar suara publik.”

Baik Fahri Hamzah maupun Fadli Zon memang sebelas dua belas, otaknya sama dan lucunya juga sama. Jadi kalau keduanya nampak lebih bodoh dari orang bodoh, kita harus maklum. Puncak kelucuan MKD dan DPR memang semalam. Persis saat Presiden Jokowi berhasil tertawa dengan kehadiran Sule, Andre, Parto dan kawan-kawan.

Bayangkan, Setya Novanto mumutuskan mundur sebelum MKD memutuskan hasil sidang. Berhubung sudah mundur, maka MKD pada dasarnya sama sekali tidak memutuskan apa-apa. Kehadiran Maroef Sjamsudin dan Sudirman Said dalam sidang hanya menjadi tontonan publik yang tidak menghasilkan kesimpulan apapun.

Jika sejak awal Setya Novanto mengundurkan diri, maka Sudirman Said dan Maroef Sjamsudin tidak perlu hadir ke MKD dan kita tidak perlu menonton kegoblokan para pimpinan sidang. Tapi mungkin dengan begini malah menjadi lucu.

Sejak awal Setya Novanto tidak mengaku mencatut nama Presiden. Tidak mau mengakui rekaman yang diserahkan Sudirman Said dan Maroef Sjamsudin. Tapi sekarang malah mundur.

Jika semalam MKD memutuskan mencopot Setya Novanto dari ketua DPR, jelas ada pelanggaran yang dibuat oleh Setya Novanto dan dinyatakan bersalah. Namun dengan mengundurkan diri, Setya Novanto belum bisa dinyatakan bersalah. Tentu ada perbedaan sangat jelas antara mengundurkan diri dan diberhentikan oleh MKD.

Coba lihat alasan kenapa Setya Novanto mengundurkan diri:

Sehubungan perkembangan penanganan pengaduan dugaan pelanggaran etika yang sedang berlangsung di Mahkamah Kehormatan DPR RI, maka untuk menjaga harkat dan martabat, serta kehormatan lembaga DPR RI serta demi menciptakan ketenangan masyarakat, dengan ini saya menyatakan pengunduran diri sebagai Ketua DPR RI periode keanggotaan 2014-2019.

Silakan garis bawahi menjaga harkat martabat serta demi menciptakan ketenangan masyarakat. Sampai di sini apakah Setya Novanto bersalah? Tentu saja tidak. Dia mengundurkan diri, bukan diberhentikan. Kenapa Setya Novanto mengundurkan diri di menit-menit akhir? Karena hingga semalam dia masih berusaha bermanuver. Jelas terlihat dari pilihan anggota MKD terkait sanksi sedang dan berat.

Mungkin kita bertanya-tanya mengapa anggota MKD dari partai pemerintah malah memilih sanksi sedang (mencopot Setya Novanto sebagai ketua DPR)? Bukan sanski berat (mencopot Setya Novanto dari anggota DPR)? Alasannya, jika memutuskan sanksi berat maka perlu dibentuk panel dan proses memutuskan perkara membutuhkan waktu 90 hari. Kalau terbukti bersalah baru panel membawa ke MKD dan dilanjutkan ke sidang paripurna. Jika paripurna tidak setuju, maka selesailah kasus #PapaMintaSaham. Inilah mengapa parpol Papa semalam malah memilih sanksi berat, karena mereka masih berharap bisa terus lakukan manuver politik. Dan 90 hari adalah waktu yang cukup untuk membuat publik lupa dengan kasus baru.

Tapi berhubung pilihan sanksi berat kalah suara, maka jalan terakhir adalah Setya Novanto mundur. Jika tidak mengundurkan diri maka dia akan diputus sanksi bersalah oleh MKD. Sekilas sebenarnya sama saja, intinya Setya Novanto bukan lagi ketua DPR. Tapi dalam posisi hukum jelas berbeda. Kalaupun kejaksaan mau mengusut kasus ini, maka semanya harus dimulai dari awal. Dimulai dari soal valid tidaknya rekaman. Istilah mbak-mbak pom bensin “dimulai dari nol ya Pak.”

Nah, ini yang mungkin sedang coba ditertawakan oleh Presiden Jokowi. Setelah merepotkan banyak orang dan pihak, lalu Setya Novanto mundur. Daripada menonton MKD yang tidak jelas, memang sebaiknya Presiden tertawa dengan pelawak. Berikut ini testimoni pelawak yang diundang:

“Ini suatu kehormatan sekali diundang Pak Presiden. Terakhir ketemu di Solo. Saya bermimpi ingin ketemu lagi sama Pak Jokowi, mimpi saya terkabul sekarang. Bahkan saya yang diundang, tadinya saya yang mau ngundang,” kata Sule yang disambut tawa Jokowi.

Saya dapat undangan ini kaget. Karena pada saat satu tahun kinerja Pak Jokowi, saya sempat diwawancarai, saya bilang saya kecewa. Kecewa kenapa? Karena saya belum diundang ke istana. Tapi ternyata saya diundang juga. Terima kasih Pak,” kata Tarzan.

“Pak Jokowi, terima kasih sudah undang. Ini suatu kehormatan. Saya kaget, saya pikir enggak mungkin saya diundang.Saya pikir saya diundang untuk jadi wakil bapak, karena udah gagal di Tangsel,” kata Andre yang disambut tawa hadirin.

Testimoni para komedian ini mengingatkan saya saat diundang ke istana di tempat yang sama. Duduk di kursi dan sudah ada nama-nama undangan di meja. Saat itu Stefanus Toni atau Tante Paku berhasil melucu di hadapan Presiden Jokowi.

“Jadi kalau saya lagi nulis Pak, tiba-tiba anak saya mendekat, pasti mamanya bilang: dek…Papa lagi ada tugas negara, jangan diganggu.” Saat itu pun Presiden Jokowi dan semua undangan termasuk saya ikut tertawa.

Sekarang saya baru mengerti kenapa tempo hari diundang ke istana secara ekslusif dan tertutup. Mungkin memang sekedar untuk menemani Presiden makan sambil lucu-lucuan. Saya lupa diri ini diundang sebagai Pakar Mantan yang harusnya berhasil menggelitik Presiden. Sayangnya saat itu saya lupa dan gagal memberikan tawa.

Di negara kita memang banyak yang lucu sehingga perlu ditertawakan. Namun Presiden tidak bisa tertawa sendiri tanpa sebab, itulah kenapa pelawak diundang ke istana. Luar biasa. Sehingga media bisa memberitakan “Setya Novanto mundur, Presiden Jokowi tertawa di Istana.”

Tertawa adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia di belahan bumi manapun, dan Presiden Jokowi memilih tertawa agar bisa dimengerti oleh siapa pun. Ha ha ha ha.

 

Sumber: www.seword.com

Thursday, December 17, 2015 - 17:00
Kategori Rubrik: