Setiyardi

Oleh: Rusdi Mathari
 

Suatu pagi, ketika sama-sama bekerja di majalah Tempo, Setiyardi mendatangi meja saya di lantai satu. Dia mengenakan kaus dan celana batik. Wajahnya kucel. Belum mandi. Dan saya tahu, dia baru melewatkan malam deadline. “Cak punya uang 20 ribu? Aku pinjam untuk ongkos pulang.”

Saya yang baru datang ke kantor tak berpikir panjang, lalu menyerahkan satu-satunya lembaran uang di saku saya sebesar Rp 20 ribu. Agak konyol memang, tapi saat itu saya hanya berpikir, tidak ingin menambah malu orang yang datang pada saya untuk meminjam sesuatu. Bagi saya, seseorang yang datang dan mengutarakan maksud untuk meminjam saja, sebetulnya sudah mengorbankan semua perasaan malunya. Kalau tidak terpaksa, mereka tentu tidak akan melakukannya.

Saya tak ingin Setiyardi yang baru menyelesaikan tenggat mendapat malu dan tidak bisa pulang karena saya tak memberikan pinjaman uang. Sementara saya masih punya bekal untuk makan siang yang saya bawa dari rumah, dan untuk ongkos pulang, saya masih bisa minta ke mas Bambu, atasan saya.

Empat atau lima tahun kemudian, ketika beberapa anak ex Tempo termasuk saya dan mas Bambu, bekerja di BRR Aceh-Nias sebagai penulis, saya mendengar Setiyardi sudah jadi kepala biro di Bandung tapi kemudian diberhentikan. Tempo punya versi tentang pemberhentian Setiyardi itu. Setiyardi pun punya versi sendiri soal pemberhentiannya. Dan sejak suatu pagi ketika Setiyardi datang ke meja saya, saya tak pernah menjumpainya, hingga suatu siang, kami bertemu di sebuah hotel di Menteng, Jakarta.

Hari itu, 5 Januari 2010. SBY baru beberapa bulan dilantik sebagai presiden untuk periode kedua. Isu kecurangan pemilu masih cukup hangat. Bertambah hangat karena muncul kasus talangan Bank Century, dan disusul peluncuran buku George Adi Tjondo berjudul “Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Century” akhir Desember 2009. Peluncurannya dilakukan di Jakarta, dan sesudahnya, ramai dibicarakan umum menyusul “insiden” pemukulan Ramadan Pohan oleh George saat acara peluncuran di Doekoen Kafe, Pancoran. Sebagian orang-orang SBY seperti Denny Indrayana lalu menyebut buku George sebagai buku sampah.

Pertemuan saya dengan Setiyardi di hotel di daerah Menteng, adalah bagian dari isu buku “Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Century” itu. Siang itu, Setiyardi meluncurkan buku tandingan untuk membantah buku George. Judulnya: “Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Merevisi Buku.” Saya datang ke acaranya karena ingin tahu isi buku yang ditulisnya, dan saat saya bertanya kenapa bukunya tipis sekali, Setiyardi menyebut bukunya hanya resensi. Hanya buku abal-abal.

Sejak itu, saya tahu, Setiyardi ternyata bekerja untuk pemerintah SBY. Dia niscaya berkepentingan untuk membela SBY, tapi saya tetap mengulas buku George di media tempat saya bekerja, juga buku tandingan yang ditulis oleh Setiyardi. Isinya tentu saja mengkritik pemerintah SBY dan juga buku Setiyardi. Tidak diragukan lagi. Bagi saya, pemerintah memang harus dikritik. Bukan disanjung-sanjung.

Bagaimana reaksi Setiyardi?

Suatu siang dia menelepon saya. Mengajak bertemu dan mengundang saya ke kantornya di Bina Graha di lingkungan Istana, tempat presiden berkantor. Saya datang dengan sepeda motor butut dan setelah makan siang dengan nasi kardus, Setiyardi menawarkan saya untuk membantunya, menjadi staf di Istana, tapi saya menolaknya. Saya menjawab, saya hanya ingin jadi wartawan biasa-biasa saja. Tak ingin menjadi pembuat sejarah, tak ingin meninggalkan profesi wartawan. “Sampean memang kendel, tapi kita tetap berteman kan Cak?”

Tentu saya tetap berteman dengan Setiyardi, seperti halnya saya juga berteman dengan wartawan-wartawan Tempo dan ex Tempo yang lain. Kami yang [pernah] bekerja di Tempo seperti diikat oleh garis yang sama, yang kami sendiri mungkin tidak tahu, itu garis apa. Mungkin semacam kebanggaan yang selalu diam-diam dan terus menyelinap di urat nadi kami.

Lalu di musim pemilu presiden 2014, nama Setiyardi ramai dibicarakan orang, gara-gara menerbitkan tabloid Obor Rakyat. Dia dimaki-maki di media sosial. Dibicarakan di beberapa forum karena isi Obor Rakyat dianggap sampah. Dianggap hanya berisi fitnah meski sebagian yang menghujatnya, mungkin tak membaca langsung Obor Rakyat kecuali hanya mengikuti dari yang ditulis oleh media.

Saya menghubungi Setiyardi dan bertanya soal Obor Rakyat. Dia meresponsnya dengan mengirimkan tiga terbitan sekaligus [edisi 1, 2, 3]. Saya membaca isinya. Setiap judul. Setiap artikel. Kalimat per kalimat dan berkesimpulan, sebagian besar untuk tidak menyebut seluruh tulisan di Obor Rakyat adalah tulisan basi. Tak ada yang baru, tapi Setiyardi, dan juga Darmawan Sepriyossa [juga ex Tempo yang ikut menerbitkan Obor Rakyat] telanjur dihujat dan dimaki.

Ketika pemilu usai dan Jokowi terpilih jadi presiden, Setiyardi dan Darmawan disebut-sebut akan diadili. Setiyardi menghubungi saya saat itu. Bukan untuk curhat atau meminta jalan keluar, melainkan, entah kenapa, dia minta saya mendoakannya.

Saya tak ingat apakah saya mendoakannya atau tidak. Saya hanya ingat, saat itu, saya berusaha menenangkan dan menghibur Setiyardi. Bahwa memilih untuk bersikap apalagi dalam urusan politik, niscaya ada risikonya dan risiko itu harus diterima. Harus dijalani.

Dua tahun setelah itu tak ada kabar dari Setiyardi. Tak ada kabar juga tentang kelanjutan dari pengadilannya hingga dua malam yang lalu, dia menelepon saya, dan kembali meminta untuk mendoakannya. “Kiai, doakan saya.”

Saya menjawab, saya meminta maaf sebab tak bisa datang pada sidang pertamanya Selasa lalu, karena harus mengantar anak mendaftar sekolah, tapi saya tentu akan mendoakannya. Berharap yang baik-baik saja yang terjadi pada dirinya. Saya memintanya bersabar. Membesarkan hatinya dan saya tetap akan menjadi kawannya. Bersedia menjadi sandarannya. Menjadi tempat curhatnya. Hanya itu.

Saya tahu, Setiyardi dan Obor Rakyat memang kontroversial. Beberapa kawan dan sahabatnya yang dulu sama-sama bekerja di Tempo, satu-satu menjauhinya. Malu punya teman Setiyardi. Malu tetap berteman dengan Setiyardi. Dan tentu saja mereka juga enggan menjadi sandaran masalah yang kini merundung Setiyardi. Sebagian malah terus menyorakinya. Mengutukinya dengan jumawa. Setiyardi dianggap koreng.

Bagi saya, musim pemilu dua tahun lalu, memang musim yang paling menjengkelkan. Semua propaganda berhamburan dari kelompok yang bertarung. Sebagian wartawan pun berkubu-kubu dan diam-diam menjadi wartawan bayaran, sembari memusuhi wartawan lain yang enggan diajak berkubu. Saya termasuk salah satu korbannya.

Beberapa teman wartawan yang berkubu-kubu untuk mendukung capres tertentu, lantas menfitnah saya ke mana-mana, di mana-mana. Sebagian malah memutus pertemanan termasuk dengan memblok atau meng-unfriend akun saya.

Mereka adalah kawan-kawan baik saya dan tahu tentang saya, yang sejak saya mengenal Facebook tahun 2008, saya selalu menjadikan dinding saya sebagai sarana untuk mengkritik pemerintah. Dulu, setiap kali saya mengkritik pemerintahan SBY, mereka selalu berkomentar mendukung dan membenarkan kritik saya. Bersorak dengan memberikan jempol. Kini keadaan berbalik.

Mereka tidak menyukai saya mengkritik pemerintah yang didukung oleh mereka, meski akan selalu ada pengecualian. Dan pengecualian itu datang dari dua sosok yang sangat saya hormati: Nezar dan Puthut.

Dua orang itulah yang tetap merangkul saya justru ketika saya menjadi sasaran fitnah. Memeluk saya agar tidak bersedih justru ketika kawan-kawan yang lain menjauhi saya. Mereka juga yang memberikan banyak pekerjaan pada saya.

Menjelang hari-H pencoblosan, Nezar bahkan memberikan saya pekerjaan sebagai fixer untuk menemani empat wartawan asing meliput pemilu. Mereka saya antar melakukan wawancara dengan Jokowi, Ahok dan beberapa aktivis lain pendukung Jokowi.

Saya menyadari sepenuhnya, Nezar dan Puthut mungkin berbeda ideologi dan pilihan politik dengan saya, tapi mereka juga sangat tahu, pilihan politik berbeda dengan perkawanan. Seorang kawan tetaplah seorang kawan. Sahabat tetap sahabat. Dari mereka antara lain, saya belajar untuk mengambil sikap, untuk tidak menista sahabat.

Sikap saya pada Setiyardi dan Darmawan yang kini dirundung masalah juga jelas: akan tetap menemaninya. Akan mendoakannya. Akan melindunginya. Akan memeluknya. Apa pun risikonya.

Bagi saya, Setiyardi tetaplah sahabat saya. Kawan yang pagi-pagi sekali sekitar 16 tahun lalu sehabis deadline di kantor majalah Tempo, pernah mendatangi saya dengan wajah kucel belum mandi. Walaupun dia mungkin berbeda pilihan politik. Walaupun dia mungkin berbeda ideologi. Berlainan pilihan dengan saya.

 

(Sumber: Facebook Rusdi Mathari)

Friday, May 20, 2016 - 21:45
Kategori Rubrik: