Setelah Ratna Timbullah Rahman

Ilustrasi

Oleh : Diding Sukowiradi

Pada prescon pertama, publik sempat terhenyak. Kaget. Prabowo--yang dikelilingi anggota TKN--bercerita dengan muka "disedih-sedihkan". "Bagaimana mungkin. Ada seorang ibu berumur 71 tahun, digebukin tiga orang tak dikenal di Republik ini", begitu katanya, penuh rasa prihatin.

Belum genap 24 jam kemudian, dilakukanlah prescon kedua. " Kami mohon maaf. Kami ini korban kebohongan Sarumpaet", cetusnya. Saya akui, lanjutnya, telah grusa grusu menanggapi aduannya.

Belum juga tuntas kasus Ratna--yang masih dalam proses jalur hukum--timbulah soal Rahman. Orang Tegal yang melakukan jalan kaki dari Tegal-Jakarta. Sekitar 310-an km dalam waktu 5 bulan lebih. Dari 2 juli hingga 18 Desember 2018.

Ada beberapa kejanggalan pada kisah perjalanan ini. Untuk itulah kami lakukan wawancara eksklusif dengan PS.

DS: Selamat sore, Jenderal.
PS: Ooh, sore.

DS: Jenderal, mau konfirmasi dan klarifikasi saja.
PS: "Soal apa? Dan, Anda dari media mana? (tanya PS dengan nada menyelidik).

DS: Dari media Imajiner, Jenderal.
PS: Kok baru dengar? "Siapa pimpinanmu?"

DS: Dimas Kinjeng, Jenderal. "Salam hangat dari beliau buat Jenderal".
PS: Oooh, iya,,iya. Baru teringat saya, kata PS dengan sumringah. "Saya ini, cuma mau diwawancarai oleh TV Oon dan Imajiner".

Suasana seketika berubah menjadi cair. Penuh keakraban. Sambil menyiapkan alat tulis menulis, saya letakan alat perekam diatas meja.

DS: Begini Jenderal. Kata para tetangganya, Rahman telah melakukan kebohongan. "Dia cuma naik bus. Dan dia sendiri, kan tinggal di Klender, Jenderal?".
PS: Aaah,,,itu orang syirik saja. Kita mesti menghargai perjuangannya. "Bayangken, jauh-jauh jalan kaki, dari Tegal-Jakarta, hanya demi menemui saya. Seorang macan Asia. Hebaaat, bukan?".

DS: Tapi, bukannya aneh Jenderal. Dengan jarak berkisar 310 km, begitu lama sampai--5 bulan lebih--tiba di Kertanegara ini? Masak, sehari cuma dapat 2-3 km?
PS: Yaaah, namanya juga diperjalanan. Mungkin ada saja halangan. Hujan, panas, dsb lah.

DS: Baik, Jenderal. Tapi begini. Dia kan berangkat 2 juli 2018. Kok dia sudah tahu Jenderal berpasangan dengan Sandi ya?
PS: Semua orang juga tahu, saya berpasangan dengan Sandi. Gimana sih kalian ini?

DS: Iya sih. Tapi kan baru diumumkan bulan Agustus, Jenderal?
PS: (tampak kaget),,,,begitu ya?

DS: Dan juga, kok dipapan yang dibawanya, sudah tertulis no. 2, Jenderal? Bukannya pengundian nomer urut Capres baru September?
PS: Aaah,,sudahlah. Gak penting itu (sambil meninju meja sampai lima x). "Orang Tegal itu sakti-sakti. Lihat Limbad itu", ujarnya bersuara tinggi. "Mereka itu sudah tahu, sebelum apa yang akan terjadi".

Suasana pun jadi hening. Saya lihat PS mengambil HP nya. Memegang erat-erat. Seolah ada sesuatu yang dipikirkannya.

Dan,,,,

Secara seksama dan dalam tempo makmbendunduk, saya pun mengajukan pertanyaan penutup.

DS: Jadi apa benar adanya, Jenderal? Apa yang dikatakan Usamah Hisyam itu. "Bahwa Jenderal meninju meja sampai 5x didepan dewan penasehat itjima' Ulama GNPF ?".
PS: Aaarrrrrgggggg,,,,,,

DS: Baiiik, Jenderal. Terima kasih waktunya.
PS: €€€¥¥¥£££

Sejurus kemudian, belum sempat menutup pintu rumah, ada suara orang mengaduh. Mungkin kena balangan henpon, pas unyeng-unyeng kepalanya. Tapi entah siapa dia....

Saya cuma berlari sifat kuping, seperti dikejar bayangan Genderuwo.

"Jiiiaaaaan dasar sontoloyo", gerutu saya, pada redaksi, yang menugaskan wawancara imajiner ini.

Sumber : Status Facebook Diding Sukowiradi

Sunday, December 23, 2018 - 18:45
Kategori Rubrik: