Setelah Negatif Covid

ilustrasi
Oleh : Fahd Pahdepie
Allahu akbar! Bahagia!
"Papi! Ini mimpi nggak, sih?" Sahut Kalky. "Kalky udah cubit diri sendiri. Tapi ini nggak mimpi." Kayaknya Kalky kebanyakan nonton Doraemon. Dia excited. Senang Papinya sudah sembuh dan kini semua bisa berkumpul lagi.
Ketika pertama bertemu lagi setelah hampir satu bulan berpisah, reaksi anak-anak berbeda-beda. Kemi cenderung bengong. Mungkin bingung menjelaskan perasaan yang dialaminya. Saat saya ciumi, Kemi menahan senyumnya. "Papi, Kemi mau beli mainan!" Rajuknya.
Saya tersenyum. "Iya, nanti kita beli, ya!"
Perlahan Kemi mulai tersenyum. Beda sekali dengan selama ini di video call. Biasanya Kemi yang selalu bertanya, "Papi apa kabar?" Atau "Papi gimana udah sembuh?" Atau "Papi kapan ke sini?" Sekarang saat waktunya tiba, Kemi kehilangan kata-kata. Mungkin sedih dan bahagia jadi satu. Bikin dia jadi bingung. Reaksi utamanya jadi kayak anak bayi, ngomong di cadel-cadelin lagi. Manja. "Kemi mau cekalang mainannya."
Kavya menampilkan ekspresi paling murni. Lama ia menatap wajah saya sambil tersenyum. Sejak awal saya gendong dan ciumi. "Papi!" Sahutnya. Mulai menyadari Papinya kini ada di dekatnya dan sedang memeluk dan menciumnya. Tak lama Kavya menatap Rizqa. "Mami!" Ujarnya. Saya tahu Kavya kangen sekali sama Maminya. Dia terpaksa disapih gara-gara apa yang kami alami kemarin. Kavya salah satu yang berkorban paling besar.
Sekian detik kemudian, keduanya pun berjumpa dalam pelukan. Rizqa hampir menangis. Ada air mata mengambang di matanya. Kavya tersenyum lebar sekali. Lalu mulai mencium Maminya. Bayi kecil ini rasanya sudah besar sekarang. Bertambah tinggi, bertambah berat, rambutnya lebih panjang. Kavya sudah besar.
Mungkin ini yang disebut kebahagiaan: Kadang tak melulu gelak tawa. Perjumpaan rindu ini membuat saya mengerti bahwa kebahagiaan melampaui senyum dan tawa. Ada rasa lega dalam dada. Ada rasa cinta yang tiba-tiba penuh dan meluap-luap. Jika bukan karena mengalami Covid19 kemarin, belum tentu saya dan keluarga mengalami rasa yang istimewa ini.
Kemudian tiba saatnya saya mencium tangan kedua orangtua saya, memeluk mereka, mencium pipi-pipi mulia mereka yang selama ini basah karena tangis mendoakan saya. "Alhamdulillah! Alhamdulillah!" Ayah saya tak bisa berhenti memuji nama Allah. Senyum lebar mengembang di wajahnya.
"A Depi, kamari mah dunia teh poék. Ayeuna caang pisan!" Ujar Ii, ibu saya. Kemarin rasanya dunia gelap, sekarang terang benderang.
"Alhamdulillah barudak mah balageur. Moal aya. Saroleh. Teu pernah ningalikeun murung, sedih. Hebat!" Kata ayah. Bersyukur anak-anak berperilaku baik saat saya sakit kemarin. Nggak ada duanya. Nggak pernah memperlihatkan wajah murung atau sedih. Hebat, katanya.
Maka saya dan Rizqa menjadi dua orangtua yang bangga. Bangga karena anak-anak kami juga lulus melewati semua ini. Bangga karena rasa cinta yang hadir di tengah-tengah semua ini. Besar sekali hikmah yang ditunjukkan Allah melalui serangkaian peristiwa yang saya dan keluarga alami kemarin.
"Ayo foto dulu, foto dulu!" Sahut Aunty Lelik. "Banyak netizen yang udah nunggu di Instagram. Mau tahu gimana ketemuan sama anak-anak." Katanya sambil bercanda.
"Euleuh? Sok atuh foto heula!" Ibu saya tampak panik. Cemas. Khas Ii, begitu kemi memanggilnya. Selalu takut bikin orang kecewa. Takut berbuat salah yang membuat orang lain tak berkenan. Ayo foto dulu!
Saya tersenyum saja. Posisi kami sudah siap berfoto. Rizqa menggendong Kavya, saya menggendong Kemi, Kalky tersenyum lebar di depan. Tampak dewasa. Sementara Kavya masih canggung, Kemi masih terlihat bingung. Inilah keluarga sederhana kami.
Begitulah perjumpaan rindu ini. Ini bukan mimpi. Allahu akbar! Kami bahagia. Alhamdulillah 'ala kulli hāl.
Salam baik.
Fahd, Rizqa, Kalky, Kemi, Kavya
Sumber : Status Facebook Fahd Pahdepie
Wednesday, January 13, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: