Setan Gundulmu!

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Memang ada setan gondrong? Mungkin hanya sesama setan yang bisa melihat setan. Saya nggak bisa. Satu-satunya referensi visual saya, hanya logo Manchester United, setan merah yang makin kedodoran itu.

Tapi di Indonesia, apa yang nggak ada? Doktor ngawur ada. Ulama palsu? Katanya rahmat tapi ngancam liyan? Banyak. Makanya mungkin ada setan gondrong, semi gondrong, setan cepak, kribo, mohawk, setan krembyah-krembyah. Mungkin ada pula yang pakai peci Turki, model Sukarno, model peci warna merah atasan putih sambil main gamelan. Atau model peci miring. 

 

Gundul tak gundul tidak penting. Ada gundul thelis-thelis, janji mau potong penis kalau Jokowi kalah, nyatanya dusta. Mungkin itu alasan tak percaya quickcount. Bukan soal nggak akademis, meski real count KPU kini makin menjelaskan kemenangan Jokowi-Ma’ruf. Dan Prabowo makin terseok berperang melawan angin, menciptakan seribu bayang-bayang. Menyitir ucapan seniman debutan Yogya, berani onani di atas genteng.

Tak sedikit yang tidak gundul, janji mundur dari partai gegara nyabu, eh, masih ngaku wasekjen. Nggak siap jadi gelandangan. Pantesan partainya makin melorot, meski raihan suara PSI belum menggembirakan, di tengah mau-maunya orang tersepona Fadli Zon dan Kris Dayanti.

Kita terus ngomongin presiden, tapi tidak ngerewes buruknya kualitas parlemen. Rakyat alergi politik, jengkel, tak percaya, tapi cuek membiarkan orang busuk masuk parlemen. People power sebenarnya di tangan rakyat lewat Pemilu. Tapi berkat kecuekan, muncullah Amin Rais, Kivlan Zein, Eggy Sudjana. Semakin rakyat cuek, para penipu dan penjahat berpesta atas nama demokrasi. 

Dalam kampanye politik, yang terpenting bagaimana memenangkan pemilihan tanpa membuktikan layak tidaknya. Menurut Franklin Roosevelt, dalam politik tak ada kejadian yang tak direncanakan. Setidaknya agar terlihat seolah insidentil. Padahal, jejak digital menjelaskan, Pilpres 2014 kubu Prabowo meminta KPU mendiskualifikasi Jokowi-JK. KPU tak menggubris dan MK menolak. Kini kubu Prabowo mengulang, dengan membawa rombongan baru. Cirinya, pakai peci putih-putih. Kebanyakan tidak gundul, meski juga tidak gondrong. 

Kita tak suka politik praktis. Tapi membiarkan adalah kesalahan itu sendiri. Kita semua peduli perdamaian, kemenangan akal dan keadilan. Karena itu menurut Mbah Kyai Albert Einstein, harus sangat sadar betapa kecil pengaruh akal dan kebaikan yang jujur pada peristiwa-peristiwa politik. As soon as we abandon our own reason, and are content to rely upon authority, there is no end to our troubles, tulis Bertrand Russel. Begitu kita mengabaikan alasan kita sendiri, dan puas mengandalkan otoritas, tak ada akhir bagi masalah kita. 

Soal setan dikerangkeng di bulan suci itu? Lantas, dari mana membanjirnya fitnah dan hoax menjelang 22 Mei? Siapa yang bikin? Manusia atau setan? Kalau setan, berarti banyak yang lolos kerangkeng, menyusup ke Indonesia Raya!

 

(Sumber: facebook Sunardian W)

Thursday, May 9, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: