Sesat Logika Jazwar, Saksi Ahli BPN Tentang Penggelembungan Suara

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Setelah sekian hari kita disuguhi saksi dan data jadi-jadian, subuh tadi 02 mulai memunculkan sesuatu yang berarti.

Mereka memajukan dua ahli. Satu dari Indonesia, satu dari Malaysia. Keduanya menempuh pendidikan S1 di Institut Teknologi Sepuluh November, meraih S3 di Jepang dan ITB.

Saya mau khusus berbicara tentang kesaksian Jazwar.

Dia melakukan apa yang disebut forensic audit. Dari serangkai percobaan, tersimpulkan bahwa DPT dipenuhi 27 juta ghost voters. Soal istilah ini, Saldi Isra--salah satu anggota hakim, sudah mengoreksi dan mengingatkan bahwa ghost voters tidak sama dengan pemilih siluman. Ghost voters hanya ada di DPT. Pemilih siluman adalah mereka yang datang ke satu TPS padahal tidak berhak. Ghost voters belum tentu pemilih siluman.

Jazwar berhasil membuktikan keberadaan ghost voters, setidaknya bagi sekian nama yang dia sodor. Dia, dengan penuh keyakinan, 'membaca' pola numerik pada daftar pemilih sehingga menyimpulkan terdapat sekian juta under-age voters, pemilih ganda, dan lain-lain sebagainya.

Analisis Jawar sukar dibantah. Kecuali jika sore ini KPU berhasil membuktikan bahwa pola numerik dalam daftar pemilih yang dibaca Jazwar keliru. Saya ragu. Sodoran Jazwar terhitung kuat.

Tapi itu tentang DPT.

Yang rada konyol adalah ketika Jazwar mengurangkan perolehan suara Jokowi dengan angka 27 juta tersebut sehingga menyimpulkan Prabowo memperoleh 66% dan Jokowi 34%. Dia sama sekali tidak menghitung bahwa mungkin tidak satu pun dari 27 juta ghost voters datang ke TPS sehingga hasil rekap manual berjenjang KPU tetap sah. Ini yang harus dipegang Yusril Ihza Mahendra sore nanti.

Jazwar mengecam situng KPU yang memunculkan rekap berdasarkan copy C1. Dia membuktikan telah terjadi beberapa editing terhadap scanned C1. Dan karena itu dia merasa heran bahwa angka di situng hanya memiliki perbedaan tipis dengan rekap manual berjenjang KPU.

Harusnya Jazwar tidak membuat kesimpulan. Dia cukup menyodor keanehan tertemukan. Rada gila juga ketika dia nekad melansir konklusi: Jokowi 34% : Prabowo 66%. Dia lompat terlalu jauh.

Kekacauan DPT tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan perolehan suara Pemilu. Sebagai indikasi telah terjadi kecurangan, boleh jadi. Sebagai penyimpul, lu loncat pagar, Jazwar.

Kuasa hukum KPU telah dengan tangkas mengurai tahap penyusunan DPT hingga ditetapkan dengan tanda tangan seluruh peserta pemilu. Di titik itu, DPT berlaku final, tak lagi bisa dipermasalahkan sebab KPU telah menyediakan waktu lumayan panjang kepada seluruh peserta untuk memeriksanya secara manual.

Di sini terlihat betapa rapuhnya jejaring partai hingga ke tingkat desa. Andai semua titik berfungsi baik, verifikasi DPT harusnya klaar dalam 1-2 hari. Ini tidak. Mereka cuma para keparat yang berakrobat kata-kata.

Kita tunggu sore ini apakah KPU berhasil mematahkan dalil Jazwar. Satu yang pasti, 02 gagal membuktikan bahwa kecurangan berskala TSM telah terjadi di lapangan. Temuan forensik Jazwar tak bergaung, tak bersambut. Artinya, itu cuma angka, cuma data, bukan fakta.

Masalahnya, Jazwar telah membuat 02 punya alasan segudang untuk menyalakan api lebat.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Thursday, June 20, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: