Serius Mau Boikot Produk Unilever?

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Ini mau serius tanya.

Memangnya boikot produk brand selevel unilever itu ada hasilnya?

Atau justru menyusahkan diri sendiri?

Ayo dijawab yang saban tahun kelakuannya ndak ganti-ganti. Kamu tipe orang yang membosankan.

Kita itu kalau mau nendang, usahakan lihat kemampuan dulu, apa benar punya daya tendang yang besar. Kalau teriakannya saja yang besar tapi kemampuan kakinya di level pas-pasan, ya sama saja bohong. Jadi semisal mau melakukan embargo, ya sombongnya mesti mantul. Bisa beralih ke produk yang mahalnya tiga sampai sepuluh kali lipat, santai kayak di pantai. Nggak ada tuh perut mulas, kepala pusing mikir pos pengeluaran naik. Ndak mau pakai produk yang prinsipnya konon bertentangan dengan prinsipmu, orang kaya raya mah bebas. Ya paling tidak kamu kudu inovatif bisa mencipta atau punya modal yang sangat besar membayar orang lain membuatkan produk serupa untuk kau pakai sesuka hatimu.

Ini saya kutipkan sedikit dari wikipedia;

Unilever memiliki lebih dari 400 merek dagang, dengan 14 merek diantaranya memiliki total penjualan lebih dari £1 milliar.

Itu di atas simbol mata uang poundsterling, mata uang Britania Raya. Kurs hari ini, 1 pound sama dengan 17.579,14 rupiah. Coba ketik ulang angka tersebut, boleh buang deh dua angka di belakang koma. Tambahkan sembilan nol di belakang.

Lebih dari 400 merek dagang yakin mau eh bisa kalian boikot semua?

Ngomong-ngomong, cicilan motor bulan ini udah aman? Kredit panci, arisan online, isi keranjang di shopee udah diberesin? Anak mau masuk sekolah, uang masuknya udah siap, ya? Kemarin pas tagihan listrik naik gila-gilaan, kalau ndak salah yang menjerit rasanya kayak jantung mau copot itu bukan kamu kan?

Begini. Hukumnya kamu menggunakan sebuah produk trus kemudian si penjual pakai duit hasil kamu beli tadi untuk hal-hal yang menurutmu tidak baik, itu terlalu jauh urusannya. Yang masuk di urusan kamu adalah akad tercapai dengan baik, barang bisa kamu bayar dan barang itu sudah memenuhi syarat tertentu (misalnya soal halal, tanggal kadaluarsa masih jauh, tidak mengandung zat berbahaya, dst). Sampai situ saja baiknya kamu risau, soalnya masih ada banyaaaakk hal penting lain yang butuh diurus dan jelas ada manfaatnya. Itu kuota dipakai jualan apa kek biar roda perekonomian lancar, asap dapur selalu bisa mengepul, anak mau jajan apa nggak dimarahin melulu. Mau beli skinker, nggak musti pakai acara ngambek dulu sama suami. Mandiri dan berdaya itu lebih utama daripada sekedar kuat membacot.

Perumpamaannya begini (awas ya kalau masih tidak mengerti, tak kasih kamu gambar seprei motif ular ijo);

1. Si Mawar mau beli kue di Melati. Duit Mawar itu ternyata duit hasil nilep dari dompet suaminya. Dosanya ndak bisa otomatis jatuh ke Melati. Dosanya tetap ditanggung si Mawar, urusan Mawar dan Melati namanya muamalah yang jenisnya perdagangan. Perdagangan ya tentang tukar menukar uang dan barang. Harga kue dibayar Mawar dengan uang pas tidak kurang sepeser pun, ya sudah sah. Urusan belakang itu kalau nanti Mawar makan kuenya trus sakit perut, bukan urusan Melati. Itu yang dinamakan ajab menurut indosiar.

2. Si Mawar baru saja selesai transaksi dengan Melati. Uangnya dapat halal dari suami Mawar yang baru gajian. Habis itu uang tersebut ternyata dipakai Melati untuk operasi plastik dagunya biar lancip. Apakah Mawar ikut berdosa karena mengubah wajah itu dilarang oleh agama? Ya tidak ada urusan lagi dengan apapun yang dilakukan Melati, even misalnya Melati akhirnya ditawari main sinetron padahal dagunya palsu. Melati nanti bisa dibully melakukan kebohongan publik, tapi Mawar ya nggak ada urusan walau duitnya ikut dipakai mereparasi dagu si Melati. Karena akad mereka sudah tuntas pas harga kue dibayar.

Misal nih ya, Mawar dan Melati di luar sana.... kalian beneran boikot sekalipun, nama besar ini bukannya tumbang malah girang dapat promosi gratis.Tambah laris. Orang-orang habis ini pasti malah jadi penasaran, apa benar unilever memiliki lebih dari 400 merek dagang? Produk apa saja? Nah, kalau jadinya begitu, kira-kira karena ulah siapa?

Ya, kalian

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Friday, June 26, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: