Serius Boikot Produk?

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Dulu sewaktu masih rada bloon, saya adalah orang yang berada pada garis terdepan untuk memboikot semua produk yang saya anggap milik musuh Islam.

Sekian banyak merek saya listing, pokoknya tidak mau beli produk itu. Dan saya kampanyekan agar jangan ada umat Islam yang beli produk macam itu.

Namanya juga anak-anak, saya yang plonga-plongo nggak ngerti apa-apa zaman segitu sih enjoy-enjoy saja dengan urusan boikot memboikot.

Toh saya juga nggak punya duit, praktis juga tidak terlalu banyak punya kebutuhan. Tidur aja numpang di masjid, makan seketemunya. Hunting cari makanan gratisan sudah jadi menu wajib.

Jadi kalau merek sepatu, pakaian, makanan, eletronik tertentu saya haramkan, tidak banyak pengaruhnya juga. Memang sehari-hari saya juga bukan konsumennya.

Yah itu dulu waktu masih rada oon bin bloon. Kalau bersikap tidak pakai mikir, bagaimana enaknya gue aja. Udah gitu pakai dibawa-bawa ke pengajian segala, untuk dijadikan bahan materi Al-Ghazwul Fikri.

Lucunya, banyak ustadz senior yang saya anggap kelas dewa malah santai-santai saja. Semua produk yang kudu saya boikot dalam listing saya, kok mereka malah pada beli, pada makan dan gak repot kebakaran jenggot macam saya.

Jelas saya protes berat. Di bawah saya kampanye anti produk musuh Islam, lha ini kok para masyaikh dan tokoh pergerakan malah santai-santai menyantap dan membeli semua produk itu dan kayak nggak ada apa-apa.

Ironis sekali. Dan seiring dengan berjalannya waktu, apa yang selama ini saya kampanyekan perlahan-lahan hilang. Hanya bertahan sebulanan, habis itu orang pada lupa lalu tetap balik lagi pakai produk itu.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, ternyata saya sendiri yang melanggarnya. Awalnya karena terpaksa dan diam-diam, takut ada yag komplain. Lama-lama sudah tidak ada lagi yang meributkan.

Hahaha

Padahal saya masih ingat banget analogi yang saya kemukakan waktu itu : Awas, jangan beli produk itu. Sebab tanpa sadar Anda sedang makan daging bayi Palestina". Teman saya waktu itu malah menuliskannya sebagai salah satu judul artikel di salah satu majalah islami.

Saya nggak tahu apa yang kemudian terjadi, kayaknya sekarang dia termasuk penikmat produk itu. Sudah lupa rupanya dia, atau sudah berdamai, saya kurang begitu paham.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Sunday, October 21, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: