Serendah-Rendahnya

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Teman saya, katakanlah bernama Franky, seorang investment banker. Hidupnya bergelimang kemewahan. Dia sering ngajak saya makan di tempat para langitan mengisap cerutu dan mereguk wine. Tarikannya setiap menghembuskan asap cerutu melontarkan kepada saya tentang kegemilangan di awan gemawan.

Pakaiannya perlente. Harga sepasan manset yang dia kenakan cukup untuk membeli 2 pasang sepatu terbaik yang saya miliki. Suatu hari dia mengendarai mobil dengan saya duduk di sebelahnya. Kami menuruni areal parkir gedung berlantai 17. Jalan berkelok, berkeliling, menurun, dengan kemiringan lumayan curam. Dia melakukannya sambil terus bercuap-cuap, berkisah tentang keberhasilannya di berbagai arena hidup. Di lantai ke-5 dari atas, mobilnya menyerempet tembok pembatas.

Bukannya membuang arah sedikit ke kanan, dia teruskan keserempetan itu hingga 11 lantai berturut-turut. Sampai di bawah, keluar dari areal parkir, saya pastikan sisi kiri Jaguarnya sudah habis dihajar tembok.

Tidak, dia tidak menghentikan mobil dan turun memeriksa semua kelecetan. Dia teruskan perjalanan setelah membayar karcis parkir, melaju membelah jalan tanpa bicara, berkendara ke bengkel mobil terbesar di kawasan Kelapa Gading. Di sana dia taruh mobilnya, menyerahkan kunci, dan berkata singkat, “Bereskan!”

Delapan tahun kemudian dia menelpon saya, mengajak makan di warteg Warmo, Tebet. Saya terkejut. Sedang sariawankah mulutnya hingga berselera aneh pagi ini? Saya tutup mulut, menerima ajakan dengan tulus, memanggil Grab, dan berangkat ke Tebet.

Pakaiannya kucel. Parasnya menua. Mosturizer seharga sepasang sepatu Bally tak lagi terlihat memulas wajah. Keriput muncul di sini-sana. Tapi ekspresinya ceria. Dia mengguncang tangan saya, menarik tubuh ke dalam dekapan, dan menangis di sana.

Dia hancur oleh perjudian bisnis. Ya, saya menyebutnya berjudi. Secara singkat saya bisa katakan, dia menanam di saat bukan musim tanam karena tergiur oleh harga komoditas yang sedang memuncak. Tak pas seperti itu, tapi nanti kepanjangan kalau saya bertutur lengkap. Sudahlah itu. Saya mau bercerita tentang bagaimana dia menjalani kejatuhan.

“Aku jual rumahku di Menteng, pindah ke kawasan Bekasi, menggunakan selisih penjualan dan pembelian ke dalam bisnis baru. Gak mudah. Para supplier tak lagi melihatku mengkilap. Term of payment yang mereka ajukan terasa mencekik. Kepingin rasanya gua gampar muka-muka mereka karena begitu gampang melupakan masa-masa gemilang gua. Ini gua, Franky, yang dulu membanjiri toko lu pade dengan order sebukit. Anjing.”

Saya menyela dengan meneguk teh.

“Tapi segera gua ingat bahwa perlakuan mereka wajar. Dulu gua mentereng, semua orang percaya dengan kesanggupan-bayar gua. Sekarang gua keré. Tentu mereka menyangsikan apa gua sanggup bayar tepat-waktu atau malah mundur 1-2 bulan. Gua putuskan untuk menerima perlakuan mereka dengan senyum.

Mertua gua lebih sadis lagi. Tahu bahwa puterinya hidup seperempat abad di dalam lingkungan mewah, dan menerus di 15 tahun berikutnya bersama kemewahan yang gua berikan, tentu mareka kuatir Nita sanggup menjalani kesederhanaan hidup hari ini. Mereka suruh gua jual mobil dan meminjamkan mobilnya untuk gua pakai.

Mereka paksa gua beli rumah sederhana yang jaraknya cuma seperempat kilo dari rumah mereka agar mereka bisa pastikan dapur kami terus berasap untuk memberi makan puteri dan 3 cucu mereka. Kadang ibu mertua gua datang ke rumah meriksa isi kulkas, meriksa dapur, pengen tahu apakah persediaan beras cukup, apakah telur tersedia paling nggak selusin, dan macam-macam inspeksi lain. Begitu beras tinggal 2 kilo, sopir mereka datang bawa beras Cianjur sekarung. Gua gak lagi punya harga.”

“Lu dihina mareka?”

“Secara langsung, nggak. Tapi repetan-repetan, yang menyindir kecerobohan gua berbisnis, gak pernah stop terdengar saban kami pulang bareng dari gereja.”

“Lu merasa terhina?”

“Ya, nggaklah. Gua dulu menerima pujian pas gua di atas, dan gua gak keberatan. Sekarang gua menerima hinaan pas gua berada di bawah, masak gua keberatan. You need to be fair, Sahat. Selega itu dulu elo menerima pujian, serela itu juga gua sekarang menerima hinaan.”

“Gak lu sesali keroyalan lu dulu pas lagi jaya?”

“Gak. Gua syukuri bahwa gua pernah mengalami itu. Makanya sekarang gua gak kaing-kaing ngadu ke Tuhan, protes kenapa gua miskin. Gak. Gua jalani kesederhanaan ini dengan hati girang, segirang gua dulu menikmati kemewahan.”

“Trus bagaimana lu berhadapan dengan mereka yang meremehkan lu sekarang?”

“Gua rendahkan diri gua serendah-rendahnya agar gak ada lagi ruang bisa mereka temukan untuk merendahkan gua. Selesai.”

“Ngapain lu ngundang gua makan siang ini?”

“Mau pamer.”

“Pamer apa?”

“Pamer kesiapan gua untuk berjaya di segala musim."

"Katanya mau merendahkan diri?"

"Ini buktinya. Di depan elo yang maha tinggi, gua bawa diri gua apa adanya."

"Bangsat lu."

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

 

Friday, February 1, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: