Serangan Sayap SBY - Prabowo Gagal Jepit Jokowi

Oleh : Assaro Lahagu

Sejak Mei 2008 lalu, SBY-Prabowo ganti strategi. Kalau sebelumnya masing-masing menyerang garis pertahanan Jokowi dari tengah, maka kini melebar ke sayap. Serangan dari sayap ini sempat membuat kubu Jokowi wanti-wanti. Namun seiring dengan irama permainan, serangan itu berhasil digagalkan.

Sejak Muldoko dan Ngabalin masuk ke dalam tim Jokowi dan ditopang oleh Panglima TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Tito, benteng pertahanan Jokowi dari bek hingga ke tengah, sangat kuat. Kolaborasi SBY-Prabowo didukung penuh Amin Rais, tak bisa menembus sisi tengah pertahanan Jokowi.

Serangan SBY-Prabowo yang langsung menusuk ke jantung istana kerap digagalkan oleh Ngabalin dan Muldoko. Demikian juga serangan Amin Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah ditangkis dengan tangkas oleh seorang Ngabalin.

Melihat serangan dari tengah gagal, SBY-Prabowo ganti strategi. Keduanya berkolaborasi menyerang kedua sisi sayap pertahanan Jokowi. Sayap kanan Jokowi yang dipercaya kepada Golkar-PKB punya kelemahan

Dengan cerdik SBY membaca celah ini. SBY kemudian mencoba bermain mata dengan JK. Dukungan JK kepada Jokowi berekor kalajengking dimanfaatkan dengan cerdik oleh SBY. Lewat JK, SBY ingin menarik Airlangga Hartato masuk koalisi kerakyatan ala SBY.

JK sempat bertemu dengan SBY, AHY dan Airlangga. Inti pertemuan mereka adalah menjadikan Golkar-Demokrat berkoalisi untuk mengusung capres dan cawapres sendiri.

JK bermanufer agar Anies Baswedan diusung sebagai capres dan AHY sebagai cawapres. Sebagai kompensasi, Golkar akan diberikan jabatan-jabatan menteri strategis. Dalam kalkulasi JK, Anies berpeluang besar mengalahkan Jokowi.

Dukungan JK kepada Jokowi hanya sebagai basa-basi. Intinya sebenarnya, JK dengan cerdik bermain di dua kaki. Artinya dengan menggembar-gemborkan dukungan kepada Jokowi, ia terlihat gentlemen. Namun di belakang, ia diam-diam mengusung capres dan cawapres sendiri.

Melihat gelagat JK, Luhut Pandjaitan yang punya pengaruh kuat di Golkar segera melobi Aburizal, sang kompetitor JK. Aburizal diminta Luhut agar tidak mendukung langkah JK. Luhut kemudian memberi peringatan keras kepada Airlangga agar tidak bermanufer. Jika salah mengambil langkah, maka taruhannya nyawa Golkar.

Tekanan keras Luhut membuat Airlangga berbalik arah. Tiba-tiba saja Airlangga bertemu SBY dengan mengkonfirmasi batalnya duet Anies-AHY sebagaimana maunya JK. Golkar berpandangan bahwa, jika Anies-AHY gagal, maka Golkar akan semakin terkubur. Kegagalan Golkar di tahun 2014 yang berakibat fatal adalah contohnya.

Setelah merenun keras, Airlangga akhirnya lebih memilih Golkar tetap berada di kubu Jokowi. Pernyataan Airlngga bahwa tetap mendukung Jokowi walaupun tidak menjadi cawapres mengkonfirmasi hal itu. Dalam pertemuannya dengan SBY, Airlangga kemudian merayu SBY agar Demokrat bergabung dengan koalisi Jokowi dengan iming-iming jabatan menteri kepada AHY dan satu kursi lagi yang lain.

SBY pun dilanda kegalauan. Di satu sisi ia ingin menjegal langkah 2 periode Jokowi. Tetapi di sisi lain ia harus melihat realita politik yang ada.

Tekanan internal kader Demokrat untuk memberikan dukungan kepada Jokowi begitu keras. Hal itu semakin membuat posisi SBY justru berbalik terjepit.

Dukungan spektakuler TBG, kader Demokrat, kepada Jokowi memaksa SBY menurunkan target ambisinya. SBY kemudian tidak lagi keras kepala mengorbitkan AHY menjadi cawapres. SBY hanya mengajukan syarat-syarat yang umum bagi siapapun yang maju sebagai capres dan cawapres.

Serangan SBY lewat Muhaimin Iskandar juga gagal. Wacana duet Muhaimin-AHY tak laku di pasaran. PAN yang diminta mendukung pasangan Muhamin-AHY menolak. PAN ragu karena pasangan Muhaimin-AHY berpotensi menjadi pasangan penggembira di bawah bayang-bayang Jokowi. PAN menawarkan ide Anies-Aher kepada Muhaimin.

Jelas Muhaimin tidak mau mendukung skenario pasangan Anies-Aher yang mengesampingkan dirinya. Itu sama saja menjual brand partai orang lain. Muhaimin kemudian cepat-cepat berbalik arah setelah melihat realita. Sambil tersipu malu, ia kembali ke kubu Jokowi dan langsung mengumumkan dukungan.

Manufer Muhaimin yang sempat meninggalkan kubu Jokowi menembak dua hal. Pertama, negosiasi jabatan menteri strategis dan kedua pancingan agar dipilih Jokowi sebagai cawapresnya. Akan tetapi strategi Muhaimin ini sangat mudah dibaca oleh Jokowi.

Jokowi membiarkan Muhaimin wara-wiri promosi dan merengek setengah mengancam. Bagi Jokowi, setelah Muhaimin capek, dia akan kembali juga ke kubunya. Dan benar saja, lewat satu sentuhan dengan diajak bersama meninjau persiapan Asian Games 2018 di Jakabariang sport center, Palembang, sudah cukup membuat hati Muhaimin bergetar-getar. Hasilnya, Muhaimin langsung mengumumkan dukungan kepada Jokowi.

Dengan gagalnya SBY menunggangi Golkar dan PKB untuk menjepit Jokowi, praktis koalisi kerakyatan tinggal mimpi. Tadinya SBY, ingin menjepit Jokowi lewat penarikan dukungan dari Golkar dan PKB, tetapi gagal total. Kini SBY terpaksa melirik Prabowo dan menjajaki kemungkinan mengusung Prabowo-AHY.

Lalu bagaimana serangan sayap kiri yang dilancarkan Prabowo? Serangan-serangan sayap kiri yang dibangun oleh Prabowo-Amin Rais-Rizieq dengan konsep koalisi keummatan malah menjadi blunder. Halusinasi Amin Rais yang ingin seperti Mahatir Muhammad di Malaysia, merusak hubungan ketiganya.

Tadinya Prabowo ingin menunggangi massa Rizieq khusunya massa PA 212 untuk menjepit Jokowi. Tetapi strategi Jokowi yang meng-orang-kan para petinggi PA 212 pada pertemuan Istana Bogor, sudah cukup membungkam habis Amin Rais.

Koalisi keummatan yang dibangun poros Prabowo-Amin Rais-Rizieq berantakan. Dukungan dari kalangan internal partai juga terpecah-pecah. Masuknya pendiri PKS Yusuf Supendi dan pengacara Riziq Kapitra Ampera nyaleg lewat PDIP semakin membuat kubu Gerinda-PKS-PAN gigit jari.

Serangan-serangan Faisal Assegaf ditambah cakar-cakaran di internal PKS membuat partai yang getol mempublikasi tagar ganti presiden semakin terancam tenggelam. Pernyataan Fahri Hamzah yang memprediksi PKS akan menjadi dinosaurus, sudah merupakan warning keras kepada Sohibul Iman.

Saat ini Prabowo hanya mempunyai dua pilihan. Pertama, maju terus dengan berpasangan Prabowo-AHY, Prabowo-Aher atau Prabowo-Anies atau pilihan kedua mengusung pasangan Anies-Aher. Kedua pilihan itu sama-sama beresiko. Lalu bagaimana dengan SBY?

SBY juga hanya punya dua pilihan. Pertama, memaksa AHY harus berpasangan dengan Prabowo atau kedua, berbalik arah mendukung Jokowi. Hal yang tidak mungkin bagi SBY adalah mendukung ide Anies-Aher.

Kini garis pertahanan Jokowi sudah teruji kokoh. Ke depan kubu SBY-Prabowo hanya pasrah menunggu celah pada kesalahan Jokowi dalam memilih cawapresnya. Jika Jokowi salah dan kemudian menimbulkan perpecahan di internal koalisinya, maka SBY-Prabowo kembali bereaksi.

Jokowi tentu sangat paham hal itu. Karena itu ia sengaja tidak mengumumkan lebih cepat siapa nama cawapresnya. Ia hanya memainkan game dengan memamerkan banyak kantongnya berisi cawapres. Tujuannya agar kawan dan lawan tetap penasaran hingga last minute pendaftaran di KPU.

Siapa cawapres Jokowi? Jokowi menjawab ada di berbagai kantongnya yang di depan, belakang dan bawah. Mendengar itu, SBY-Prabowo-pun ngamuk dan mati penasaran.

 

Sumber : facebook Muhanta Hatta

Thursday, July 19, 2018 - 19:45
Kategori Rubrik: