September Bulan Fitnah Soal Komunis

ilustrasi
Oleh : Buyung Kaneka Waluya
 
Kenapa daripada Soeharto pantas diduga sebagai dalang di balik G30S....?
Pada tanggal 21 September 1965..., Kapten Soekarbi mengaku menerima radiogram dari daripada Soeharto...; yang isinya perintah agar Yon 530 dipersiapkan dalam rangka HUT ABRI ke- 20..., pada tanggal 5 Oktober 1965 di Jakarta..., dengan perlengkapan tempur garis pertama.
Setelah persiapan..., pasukan diberangkatkan dalam tiga gelombang..., yaitu....: tanggal 25..., 26..., dan 27 September.
Pada tanggal 28 September..., pasukan diakomodasikan di Kebun Jeruk bersama dengan Yon 454 dan Yon 328.
Tanggal 30 September..., seluruh pasukan melakukan latihan upacara.
Pukul tujuh malam..., semua Dan Ton dikumpulkan untuk mendapatkan briefing dari Dan Yon 530..., Mayor Bambang Soepono.
Dalam briefing tersebut disebutkan..., bahwa Ibu kota Jakarta dalam keadaan gawat.
Ada kelompok Dewan Jenderal..., yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan RI yang sah.
Briefing berakhir pada pukul 00.00.
Pukul dua pagi tanggal 1 Oktober..., Kapten Soekarbi memimpin sisa Yon 530 menuju Monas.
Di kompleks Monas..., mereka berkedudukan di depan istana.
Pada saat itu..., karena kedudukan mereka dekat Makostrad..., pasukan pun sering keluar masuk Makostrad untuk ke kamar kecil.
Karena tidak ada teguran dari Kostrad..., berarti Kostrad tahu bahwa mereka ada di sana.
Pukul setengah delapan..., Kapten Soekarbi melapor pada daripada Soeharto tentang keadaan ibu kota yang gawat..., serta adanya isu Dewan Jenderal.
Namun..., Soeharto menyangkal berita tersebut.
Kapten Soekarbi sendiri mengaku..., bahwa ia tidak mengetahui terjadinya penculikan para Jenderal.
Ia tetap merasa aman..., karena Pangkostrad daripada Soeharto telah menjamin keadaan tersebut.
Namun ia berpendapat..., bahwa daripada Soeharto pasti lah tahu tragedi penculikan para Jenderal tersebut.
Daripada Soeharto diindikasikan tahu..., karena pada tanggal 25 September..., Kolonel Latief telah memberikanmasukan tentang keadaan yang cukup genting tersebut kepada Soeharto.
Jadi sebenarnya..., mustahil apabila daripada Soeharto tidak mengetahui tragedi tersebut.
Yang patut dipertanyakan lagi adalah...: mengapa daripada Soeharto tidak melakukan pencegahan terjadinya tragedi tersebut...?
Kebiasaan dalam militer..., apabila ada gerakan yang disinyalir akan membunuh atasan..., akan langsung dicegah.
Namun kenyataanya..., daripada Soeharto tidak sedikit pun mengambil sikap.
Padahal apabila ditelusur..., ia sangat mampu mencegah kejadian tersebut.
Pada saat itu..., mereka sedang mempersiapkan HUT ABRI.
Jadi seharusnya..., Kostrad lah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara tersebut.
Semua pasukan di Jakarta..., akan berada di bawah kendali Kostrad.
Seharusnya..., daripada Soeharto bisa memerintahkan pasukan untuk mencegahnya.
Dalam cerita versi daripada Soeharto dan Orde Baru disebutkan..., bahwa terdapat pasukan liar di sekitar Monas.
Kesaksian Kapten Soekarbi..., juga mematahkan pernyataan tersebut.
Daripada Soeharto sendiri yang mengirimkan radiogram pada Kapten Soekarbi..., untuk mendatangkan pasukannya ke Jakarta.
Tentunya ia mengenali..., pasukan siapa yang berada di Monas kala itu.
Kostrad pun mengetahui kehadiran Yon 530..
Namun pada kenyataannya..., daripada Soeharto membiarkan pernyataan yang mengatakan..., bahwa terdapat pasukan liar pada saat itu.
Kejanggalan lain tampak dalam beberapa pengakuan daripada Soeharto adalah...: pengakuan dan perkiraannya tentang kedatangan Kolonel Latief..., saat menjenguk anaknya, Tomy Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto.
Dalam versinya..., ia mengaku hanya melihat Kolonel Latief di zaal dimana anaknya dirawat.
Namun kejadian yang sebenarnya adalah..., mereka sempat berbincang-bincang.
Pada saat itu Kolonel Latief melaporkan..., bahwa besok pagi akan ada tujuh jenderal yang akan dihadapkan pada presiden.
Namun pada saat itu..., daripada Soeharto tidak bereaksi.
Ia hanya menanyakan siapa yang akan menjadi pemimpinnya.
Tapi dari hasil wawancara daripada Soeharto dengan seorang wartawan Amerika..., ia mengatakan...: ”…….Kini menjadi jelas bagi saya, bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukan untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rupanya ia hendak membuktikan kebenaran berita , sekitar sakitnya anak saya, ……”.
Sedangkan dalam majalah Der Spiegel (Jerman Barat)..., daripada Soeharto berkata...: ”Kira-kira jam 11 malam itu, Kolonel Latief dan komplotannya datang ke Rumah Sakit untuk membunuh saya, tetapi tampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum.”
Dengan demikian..., ada tiga versi yang dikeluarkan oleh daripada Soeharto sendiri tentang pertemuannya dengan Kolonel Latief.
Hal ini sangat lah memancing kecurigaan..., bahwa daripada Soeharti hanyalah mencari alibi untuk menghindari tanggung jawabnya.
Penyajian adegan penyiksaan ke enam jenderal dalam film G30S/PKI..., ternyata juga dapat digolongkan sebagai salah satu kejanggalan cerita versi darioada Soeharto.
Serka Bungkus..., adalah anggota Resimen Cakrabirawa.
Pada saat itu..., ia mendapat tugas ”menjemput” M.T Haryono..., dan ia turut menyaksikan pula penembakan keenam Jenderal di Lubang Buaya.
Ia menyatakan..., bahwa proses pembunuhan keenam Jenderal tidak melalui proses penyiksaan seperti pada film G30S/PKI.
Satu per satu Jenderal digiring ke pinggir lubang..., setelah itu ditembak dan akhirnya masuk ke dalam Lubang.
Serka Bungkus mengetahui adanya visum dari dokter..., yang menyatakan tidak ada tindak penganiayaan.
Namun sepengetahuannya..., darioada Soeharto melarang mengumumkan hal itu.
Selain itu..., salah satu dokter yang melakukan visum..., Prof. Dr. Arif Budianto juga menyatakan bahwa tidak ada pelecehan seksual dan pencongkelan mata seperti yang ditayangkan dalam film itu.
Memang pada saat dilakukan visum..., ada mayat dengan kondisi bola matanya ’copot’.
Tapi hal itu terjadi..., karena sudah lebih dari tiga hari terendam..., bukan karena dicongkel paksa.
Karena..., di sekitar tulang mata pun tidak ada bagian yang tergores.
Tentu kita tidak dapat menduga-duga..., apa tujuan dan motif daripada Soeharto menyembunyikan hasil visum.
Dalam hal ini..., ia terkesan ingin memperparah citra PKI..., agar dugaan bahwa PKI lah yang ada di belakang tragedi ini semakin kuat.
Kebencian masyarakat pada PKI..., pasti akan memuncak dengan melihat hal tersebut.
Satu hal yang paling menjadi kontroversi dari tragedi tersebut..., adalah banyaknya orang-orang yang dituduh mendukung PKI dan pada akhirnya dijebloskan ke penjara.
Itu antara lain adalah...: Kolonel Latief..., Letkol Heru Atmodjo..., Kapten Soekarbi..., Laksda Omar Dani..., Mayjen Mursyid,,,, dan masih banyak lagi.
Kebanyakan dari mereka..., ditahan tanpa melalui proses peradilan.
Orang- orang tersebut kebanyakan mengetahui..., bagaimana sebenarnya hal itu terjadi.
Seperti contohnya Kapten Soekarbi.
Ia ditahan..., setelah membuat laporan tentang kejadian yang ia alami pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965.
Penahanan tanpa proses peradilan ini..., dapat disinyalir sebagai sebuah upaya yang dilakukan daripada Soeharto..., agar saksi-saksi kunci tidak dapat menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada khalayak.
Ketakutan yang dialami daripada Soeharto ini tentunya justru semakin memperkuat anggapan..., bahwa dialah dalang di balik peristiwa G30S/PKI.
 
Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya
Tuesday, September 22, 2020 - 19:45
Kategori Rubrik: