Seperti Yahudi

ilustrasi

Oleh : Uster B Kadrisson

Ada status di Facebook tentang makanan yang membuat riuh di media massa dengan mendapatkan 18 ribu komentar yang diposting sekitar seminggu yang sudah. Status yang telah dishare 27 ribu kali ini dilengkapi dengan satu photo hidangan sepiring gulai cumi dengan warna kuah yang menghitam dan tampak lezat menggugah selera. Sayang, si penyestatus memberikan label dengan tulisan haram dengan dua tanda seru yang berwarna merah. Postingan disertai dengan menuliskan dalil dalam bahasa Arab dan terjemahan yang mengutarakan tentang pendapat seorang ulama.

Di kolom komentar banyak terjadi silang sengketa dan cukup lumayan juga yang memberikan pernyataan kalau mereka baru tahu tentang hal itu. Entah mereka memang malas membaca, padahal yang dimaksudkan dalam status tersebut adalah tinta yang membuat hidangan berwarna hitam sedikit membiru. Cumi-cuminya sendiri adalah tergolong makhluk laut yang sudah dinyatakan halal, sehingga tidak perlu berpendapat yang keliru. Yang sedang dipermasalahkan adalah cara memasak dengan mencampurkan tinta yang diproduksi oleh binatang tersebut yang sebenarnya merupakan alat pertahanan diri yang berguna untuk mengelabui pemangsa supaya bisa lari menjauh.

Memang sedikit disayangkan adalah kerjaan si pembuat postingan yang langsung menaruhkan label haram dengan hanya memberikan data dari satu pihak. Padahal silang sengketa tentang hal ini sudah berlangsung selama ribuan tahun sejak agama Islam mulai merebak. Para ulama umumnya terbagi dua antara yang setuju mengatakan cairan tinta itu haram untuk dikonsumsi dan sebagian lagi berpendapat tidak. Sehingga memberikan sebuah kesimpulan yang langsung mengonta buta tanpa ada menyertakan perbandingan yang lain adalah sebuah kesalahan yang mutlak dan sangat tidak bijak.

Al Qur'an memang telah sangat jelas menuliskan tentang makanan yang diharamkan untuk dikonsumsi seperti binatang yang sudah pasti dinajiskan serta yang tidak lazim untuk dimakan. Juga binatang yang mati atau sudah menjadi bangkai atau yang tidak disembelih dengan mengucapkan nama Tuhan. Tetapi Islam itu adalah agama yang easy going sebenarnya, tidak ingin menyusahkan ummatnya dan selalu ada pengecualian dalam keadaan darurat atau keterpaksaan. Misalnya saja binatang yang mati digigit oleh anjing pemburu kepunyaan sang majikan, padahal sudah dobel haram tetapi masih bisa dikategorikan halal asal mengikuti syarat dan ketentuan.

Sedang makanan yang antara ragu-ragu dan tidak jelas, selalu diputuskan dengan melihat hadith nabi atau dalil-dalil yang mengikuti pendapat para ulama-ulama. Tetapi sayangnya, mereka jarang mengatakan kata sepakat dalam satu suara dan selalu ada dua atau tiga pendapat yang berbeda. Sehingga rata-rata semua makanan yang meragukan ada unsur halal dan haram tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Roti yang dibeli dari uang hasil korupsi lebih haram dari pada babi yang sebagian unsurnya dijadikan bahan dalam membuat vaksin demi kesehatan manusia.

Tradisi mengharam-haramkan makanan ini membuat saya menjadi teringat akan kebiasaan dari orang-orang Yahudi. Mereka suka sekali mengutak-atik makanan dan memperhatikan secara keseluruhan dari semua segi. Bukan hanya unsur yang terdapat di dalam makanan yang membuat mereka menolak untuk mengkonsumsi. Tetapi juga dari segi pengolahan yang tidak boleh bercampur yang harus mengikuti hukum Torah dan harus terlabel seperti Kosher dan banyak macamnya lagi.

Padahal Al Qur'an sudah memperingatkan supaya jangan mengharamkan makanan yang sudah Allah nyatakan suci. Yang penting tidak keterlaluan dan bersih dalam pembuatan serta menjaga diri dari keraguan hati. Masalah silang pendapat antara paham ulama, ikuti saja mana yang merasa baik dan jangan pula menuding yang lain salah dan melakukan hal yang tidak terpuji. Jangan menyusahkan diri sendiri dengan selalu melabel sesuatu menjadi barang yang haram dengan bertindak seperti menjadi agen Yahudi atau Wahabi.

Dulu sangat susah bagi saya untuk mencari makanan yang halal sehingga harus sedikit memilih dan berhati-hati. Walaupun sudah berusaha untuk teliti tapi sekali-sekali masih juga masuk ke dalam mulut yang namanya daging babi. Dengan mengucapkan bismillah sebelum makan, saya hanya berserah diri kepada Allah untuk terhindar dari makanan yang merugi. Pernah sekali saya hanya menyisihkan sosis yang ada di spaghetti ke tepi dan memakan sisanya, karena saat itu saya sangat kelaparan dan tidak mempunyai uang lagi untuk membeli.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

 

Wednesday, May 27, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: