Seperti Menegakkan Benang Basah

ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Dikisahkanlah di sebuah negara entah berantah yang ratusan tahun dijajah oleh beberapa negara secara bergantian. Namun ketika merdeka dan baru saja akan membangun negaranya, sang diktator yang gila kekuasaan menggulingkan sang proklamator yang dibantu oleh negara adidaya yang haus kekayaan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah.

Maka sang diktator pun berkuasa puluhan tahun dengan senyum manis dan bahasa santun penuh makna, tapi tak segan-segan menghilangkan keberadaan lawan-lawan politiknya yang mbalelo. Disinilah awalnya sebuah kisah dimulai. Negara yang dikenal sebagai satu-satunya yang memiliki kekayaan SDA terlengkap di dunia, namun satu persatu mulai terjarah negara-negara kaya, utamanya minyak dan emas tanpa smelter atau pemurnian, tapi kotor diangkut semua.

Lalu para raja besar dan raja kecil beserta kroni-kroninya ikut menikmati hasilnya dan mengabaikan bangsanya yang tetap miskin. Pembangunan sangat lambat dan hanya bertumpu pada pulau yang berdekatan dengan pusat kekuasaan. Masyarakat menjerit tapi hanya bisa dalam hati atau berbisik-bisik saja, karena takut dengan telinga yang berada dimana-mana yang bisa menculiknya setiap saat bila mereka berkehendak.

Korupsi merajalela tanpa bisa dicegah, dan nilai tukar uang pun terus bergerak mundur dengan perbandingan yang semakin tak masuk akal, dari 1 berbanding 200 lalu naik menjadi berbanding 500, naik lagi menjadi 1000 dan seterusnya naik dan naik terus tanpa bisa dicegah. Hingga suatu ketika terjadi krisis moneter yang berdampak pada krisis ekonomi global yang juga berdampak pula pada ekonomi negara entah berantah ini.

Mahasiswa pun mengambil peluang untuk melengserkan dinasti super power ini. Namun lucunya ada petualang politik yang sangat loyalis pada rezim penguasa yang tiba-tiba tampil paling terdepan menyuarakan reformasi total hingga masyarakat pun terkecoh lalu memberikannya gelar bapak reformasi, padahal dia yang memiliki ambisi besar menjadi raja diraja yang obsesinya terus tersimpan hingga masa sepuhnya, namun tak pernah direstui Tuhan YME.

Lengserlah seorang penguasa yang selama ini tak tersentuh siapa pun, lalu mengantarkan wakilnya yang berotak bak Albert Einstein dan memiliki kecintaan yang begitu tinggi pada bangsa dan negara lalu menahkodai bangsanya yang sedang sakit. Siang malam ia membuat rumus ekonomi yang sejatinya bukanlah bidangnya. Namun ia merasa bila rumus teknologi tercanggih nan rumit saja bisa ia pecahkan bahkan bisa ia ciptakan, maka hal nyata persoalan ekonomi pun ia mampu.

Benar saja, hanya dalam hitungan bulan ia telah menormalisasi ekonomi negara dengan sangat brilian dan sangat mengejutkan dunia. Sayang seribu kali sayang. Lagi-lagi si petualang politik ternyata menampakan keasliannya sebagai seorang sengkuni yang juga ikut melengserkan dengan cara yang sangat tidak beretika. Bahkan ketika sang nahkoda negeri akan memberikan laporan kepada tuan-tuan parlemen yang terhormat, isinya hanya cacian selain menolak isi laporan dan berakhir dengan diangkatnya sosok ulama besar yang kemudian ia lengserkan kembali.

Namun sosok ulama yang juga sangat cerdas ini pun sempat diberikan ultimatum sebelum lengser bahwa sang nahkoda dari ulama ini bisa terus memimpin negara, asalkan sebagian besar kabinetnya harus diganti oleh rombongan sengkuni beserta partai warisan rezim lama, serta kebijakan negara harus bertumpu pada kelompok yang berkuasa di parlemen. Namun karena sang ulama menolak demi cinta negara, maka tak dapat dicegah lagi mandat pun dicabutnya.

Munculah untuk pertama kalinya seorang ibu bangsa yang menjadi orang nomor satu di negeri yang konon sedang mereformasi diri. Dimulailah pembangunan berbasis modern yang walau belum nampak signifikan, hingga perubahan pada sistem pemilihan pemimpin negara secara langsung oleh rakyat. Kali ini ibu bangsa yang semula sangat percaya kepada salah satu jenderal dalam kabinetnya yang mengatakan tak maju, namun kenyataannya menjadi seterunya pada kontestasi saat itu.

Sejak itulah keduanya mengambil jarak dan tak pernah bertegur sapa lagi. Singkat cerita, sang jenderal pun menang karena dinilai gagah dan berwibawa. Negeri yang sejatinya sangat indah itu pun untuk kedua kalinya dipimpin oleh seorang militer selama 10 tahun lamanya, serta meninggalkan banyak hasil yang berguna bagi rakyatnya, sekaligus meninggalkan warisan candi selain puluhan proyek yang mangkrak. Dengan kata lain bahwa negeri itu masih entah akan dibawa kemana.

Yang pasti banyak para elite yang teriak anti korupsi tapi terciduk untuk dipindahkan ke kamar VIP di Hotel Prodeo. Sedangkan yang lainnya, baik yang baru maupun yang sepuh masih menari-nari menikmati kenduri nasional dengan bancakan berupa proyek nasional atau jatah fee dari berbagai kesepakatan nasional antara negara dengan para pengusaha hitam. Luar biasa negara yang kaya, tapi tetap dinikmati dalam persentasi yang kecil, karena rakyatnya sebagian besar tetap miskin.

Hingga tiba saatnya seperti kata seorang prabu yang lahir di bawah lereng gunung di masa negeri itu belum lahir. Ia mengatakan: "Ana ratu kinuya-kuya, mungsuhe njaba njero, ibarate endhog ingapit sela gampang pecah." Yang artinya: "Akan ada pemimpin yang difitnah, dicaci maki dan dicari-cari kesalahannya. Lawannya ada di dalam dan di luar lingkaran istana. Ibarat telur di antara dua batu besar, mudah pecah.

Iya dia adalah sosok sipil yang berbadan kurus tinggi, berhati lembut kepada rakyatnya, tapi keras pada keinginannya. Ia pun segera bergerak membenahi negerinya yang sudah terlalu lama tertinggal bangsa-bangsa lainnya. Ia bangun dari ujung satu hingga ujung lainnya semua tempat di negeri itu. Lalu yang selama ini telah puluhan tahun dikuasai asing ia tarik satu persatu. Hal ini memicu kemarahan para bromocorah politik yang zona nyamanya merasa terganggu oleh program kerjanya.

Sehingga semua isu berbalut SARA yang tak berdasar dilemparnya untuk menciptakan opini buruk kepada rakyat. Sialnya, rakyat yang memang memiliki kualitas literasi yang sangat rendah, sangat mudah dihasut, dibodoh-bodohi, dan mudah diadu domba, hingga terjadi polarisasi yang berkepanjangan entah sampai kapan. Namun semua itu tak membuatnya ciut, bahkan semakin lebih gila lagi, hingga dunia pun mengakui kehebatannya. Tak heranlah bila kemudian negeri itupun dikeluarkan dari statusnya sebagai negara berkembang.

Walau sangat mungkin ini merupakan strategi politik luar negeri dari negara adidaya dalam upaya mempertahankan hegemoninya sebagai negara yang ingin menguasai dunia, dan kemudian menekan para negara yang memiliki utang luar negeri untuk menaikkan suku bunga. Namun terlepas dari itu semua, bahwa sosok pemimpin yang bak satria paningit ini telah menancapkan pondasi yang luar biasa bagi bangsa dan negaranya, hingga negara lain ikut hormat dan memperhitungkannya.

Sayangnya di dalam negeri sendiri, sang satria justru dihantam hoax, dan ujaran kebencian akibat doktrin busuk dari lawan politiknya, bahkan walau beberapa tercontohkan hingga ada yang dipenjarakan, mereka tak jera-jeranya. Berbagai isu bohong terus disebarnya. Dari anti agama, anti ulama, komunisme, ijazah palsu, korupsi, dan lain sebagainya, tapi semua gagal total. Maka para lawan politiknya pun semakin gusar dibuatnya, terlebih ketika ternyata kembali menang pada pemilihan berikutnya.

Maka lawan-lawan politiknya semakin tidak rasional, terlebih ketika nyata-nyata mulai merambah pada perusahaa-perusahaan negara yang dibersihkan, karena banyak bercokol mafia yang puluhan tahun mengais dolar sambil ongkang-ongkang kaki. Akhir cerita semua berkonspirasi untuk menjatuhkan, atau setidaknya pada pemilihan berikutnya negara bisa dikuasai mereka dengan alasan pada penanganan keamanan dan keadilan.

Sibuklah mereka melempar isu bahwa negara sudah jauh dari penerapan dasar negara, dan dua isu yang sengaja mereka ciptakan, yakni "Isu Intoleran" yang dibuat secara masiv, dan "Isu Sang Penguasa Ibukota" yang mbalelo.

Sehingga sang satria pun dihadapkan bak buah si malakama. Di makan ibu mati, tak dimakan bapak mati. Disikat, dibilang otoriter lalu akan digulingkan, dirangkul penuh bijaksana dibilang lemah tak ada ketegasan. Hal ini yang lalu menumbuhkan menumbuhkan kekecewaan yang mendalam dari pendukungnya sendiri, utamanya dari kalangan minoritas yang merasa tak terlindungi atau kurang mendapat keadilan. Namun sayangnya ada segelintir yang sok ingin terkesan kritis, bahkan melempar caci maki tanpa solusi.

Padahal agar tidak terjadi perpecahan yang lebih mengerikan, sang satria memilih menerapkan strategi yang tak diketahui rakyatnya. Ia mengabaikan bila kebijakan ini tak populis. Semua ini demi rakyatnya. Ia pun tak merasa risi walau para pendukungnya mulai tak simpati dan mulai menghujani kritik pedas kepada dirinya. Ia hanya berfikir agar rakyatnya tak menyesal bila suatu saat nanti terjadi tragedi yang mungkin tak kalah gaharnya bak Covid-19 ala kecoa politik.

Sebenarnya bila semua bersatu, tak perlu harus menunggu 2050 untuk menjadi negara terdepan dengan kekuatan ekonomi 5 besar dunia. Cukup di tahun 2035 saja, semua bertekuk lutut. Sayang kue-kue negeri ini telah melupakan sumpah-sumpah yang pernah mereka bacakan, karena nafsu yang membutakan diri bahwa negeri tersebut harus dibangun bersama dengan segala daya.

"Sejatinya justru saat inilah sang satria membutuhkan dukungan semua pihak untuk melawan para mafia dan penghianat negeri, terlebih serangan sudah terjadi dari segala penjuru, termasuk dari dalam tubuh sendiri. Sayang banyak yang tak jeli. Akhirnya ruwetnya negeri ini akan semakin sulit dibenahi seperti sulitnya menegakkan benang basah, terlebih terlalu banyak bromocorah politik yang ingin ikut menguasai seisi kekayaan negerinya."

Akhir kisah, sang sengkuni pun jadi gelandangan politik, dan ada boneka berambisi jadi presiden, agar para bromocorah bisa kembali berpesta pora. Negara lain pun sibuk memainkan kipas dengan dolar-dolar yang tiada henti, dan sang kreator terbahak-bahak melihat rakyat mulai makin menyerang sang kesatria ini. Masihkan kita sibuk melamun lalu cakar-cakaran sendiri? Lalu apa kabarnya para partai pengusung yang saat ini membisu?

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Saturday, February 29, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: