Seorang Muslim dan Seekor Anjing

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Saat ini banyak kita temui fenomena di masyarakat..., khususnya umat Islam di Indonesia...; yang begitu memusuhi anjing...,bahkan tidak sedikit yang menyiksanya...; seolah binatang ini haram tinggal di bumi milik-Nya.

Kita tidak tahu..., ajaran dari mana yang merasuki dan membuat kalap sebagian kaum Muslim..., sehingga begitu memusuhi anjing.

Kalaupun anjing itu haram untuk dimakan..., bukan berarti halal untuk disiksa.

Yang najis dari anjing..., menurut kitab-kitab fikih hanya air liurnya.

Kalau kebetulan kena air liur anjing..., tinggal dibasuh 7 kali saja...; beres kan..., jadi tidak perlu sampai memusuhinya.

Menariknya..., Al-Qur'an tidak pernah menyebut anjing sebagai hewan yang haram dimakan.

Al-Qur'an..., hanya menyebut "babi" sebagai hewan yang haram untuk dikonsumsi (ingat...: haram dikonsumsi saja).

Ajaran ini juga sama dengan "ajaran Yahudi"...: sama-sama mengharamkan makan daging babi.

Menariknya..., Islam dan Al-Qur'an (misalnya Surat Al-Kahfi)..., bahkan sangat menghargai anjing.

Ingat cerita "anjing kitmir"..., yang menemani tujuh orang yang tidur di gua (disebut "ashabul kahfi") selama 300 tahun..., karena menghindari "persekusi agama" penguasa tiran...?

Konon..., anjing ini karena setia menemani dan menjaga mereka..., juga dijanjikan masuk surga sebagaimana "ashabul kahfi."

Anjing (maksudnya "kitmir") yang setia mengikuti ulama saja bisa masuk surga..., apalagi manusia...".

Jika Islam dan Al-Qur'an menghargai anjing..., kenapa sebagian umat Islam di Indonesia dewasa ini begitu beringas dengan binatang cerdas ini...?

Sebagian umat Islam..., karena memang tidak semuanya benci dengan binatang ini.

Coba kita jalan-jalan ke Turki..., kita akan menyaksikan anjing berkeliaran dimana-mana...: di kantor..., rumah..., dan bahkan masjid.

Di Turki..., anjing bukan hanya digunakan jasanya untuk menjaga rumah dan gedung-gedung perkantoran..., tapi juga masjid supaya aman dari tindakan kejahatan dan terorisme.

Kaum Muslim Turki..., memang dikenal sangat ramah dengan anjing..., dan banyak dari mereka yang memelihara berbagai jenis anjing.

Sebagai pengikut mazhab Hanafi..., umat Islam di Turki sangat fleksibel dan mengedepankan "rasio" dalam beragama.

Bukan hanya di Turki saja...; masyarakat Muslim di kawasan Arab juga sangat ramah dengan anjing.

Apalagi mereka mempunyai jenis anjing kesayangan..., namanya "Saluki" yang juga disebut "Arabian dog" atau "Persian Greyhound".

Anjing ini bercirikan tinggi kurus dengan kaki yang sangat panjang..., sehingga kuat berlari di padang pasir.

Selain itu..., mereka mempunyai "mata elang" yang tajam.

Oleh karena itu..., dulu dan sampai sekarang..., oleh masyarakat Arab (baik "Arab Bedouin" maupun "Arab kota")..., Saluki sering digunakan untuk berburu selain menjaga pertanian..., hewan piaraan..., dan tenda-tenda suku Arab Bedouin.

Bukan hanya itu..., Saluki juga sering dipakai untuk "karapan (lomba) anjing".

Popularitas Saluki sebagai "hunting dog" sudah populer sejak lama.

Para raja Bahrain..., sejak Shaikh Hamad bin Isa Al-Khalifa di era 1930an..., dan putranya Shaikh Salman bin Hamad Al-Khalifa...; dikenal sebagai penyayang Saluki dan selalu membawa rombongan Saluki..., khususnya kalau hendak berburu.

Karena masyhur..., Saluki juga sering disebut dalam berbagai teks-teks dan karya kebudayaan agung umat Islam klasik (buku..., puisi..., literatur..., lukisan..., dlsb).

Simak karya-karya agung Khaghani..., Kamaluddin Behzad..., Jamaluddin Abu Ishaq..., dan lain sebagainya.

Bukankah Islam adalah agama rahmat buat seluruh makhluk di alam semesta....?

Makhluk di alam semesta tentu saja bukan hanya manusia..., tetapi juga flora dan fauna.

Jika kita mengklaim atau mengaku mencintai Tuhan..., tetapi membenci ciptaan-Nya..., apakah kita benar-benar tulus mencintai-Nya...?

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

 
 
Sunday, December 8, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: