Seorang Jonan

ilustrasi

Oleh : Eddy Sinang Trenggono

Tanggal 21 Juni, selain ulang tahun Pak Jokowi, ternyata juga Ulang Tahun seorang yang hebat dimata saya;. Ignatius Jonan.

Bila seorang CEO mampu dan berhasil membenahi sebuah perusahaan yang revenue atau profitnya tinggi, atau asetnya besar atau Brand imagenya sudah bagus, atau para karyawannya banyak yang berpendidikan tinggi itu merupakan hal wajar.

Bagaimana kalau seorang CEO harus membenahi sebuah perusahaan milik negara yang usianya sama dengan usia kakek kita , sistim manajemenya birokratis birokratis bernuansa feodal, jumlah karyawan puluhan ribu, dengan budaya perusahaan yg sdh terbentuk sejak jaman Belanda, dengan rata rata usia pegawai yang "senior", tapi rata rata tingkat pendidikan terbanyak menengah kebawah, kondisi keuangan yang terbatas, tingkat dan sistim gaji pegawai negeri, tapi wajib melayani kebutuhan rakyat Indonesia

Banyak orang skeptis terhadap kemampuan seorang profesional " Bankers" membenahi perusahaan KAI. Karena puluhan tahun sejak jaman Belanda pun, tidak terlalu banyak perubahan.
Tidak ada yang sangka ternyata ia mampu dan berhasil melakukan perubahan yang spektakuler terhadap kondisi PT. KAI.

Jonan bukan saja mengubah aspek hardware dari KAI tetapi juga mengubah total aspek Software berupa ; Budaya kerja , Etos kerja, kebanggaan/Pride, dan Pelayanan , Ujung ujungnya kinerja prima dari para pegawai KAI.

Tapi seorang CEO hebatnya baru satu jempol bila mampu mengubah kinerja perusahaan yang ia pimpin. Masih wajar karena dia komandan tertinggi yang punya kuasa. Tapi seorang Jonan dimata saya harus diberi 4 jempol ( plus jempol kaki)

Karena ia juga mampu mengubah sikap, perilaku atau mungkin budaya masyarakat pemakai jasa KAI.
Bagaimana cara Jonan mampu mengubah sikap dan perilaku para pegawai KAI dan sekaligus sikap dan perilaku customer / masyarakat?
Jonan tidak menunggu "kesadaran " para pegawai dan masyarakat tumbuh . Terlalu lama dan terlalu mahal. Ia tidak melakukan seminar seminar dihotel mewah, atau melakukan training yang pake nangis nangis .Tidak banyak jargon jargon, tidak banyak poster nilai nilai budaya ditempelkan di dinding atau seremonial yang tidak efisien.
Saat memimpin KAI, Ia juga tidak banyak tampil konfrensi pers , kebetulan ia bukan perangkai kata yang baik dan bicara to the point gaya surabaya.

Ia lebih mengutamakan merekayasa dan memodifikasi SISTIM yang mau tidak mau memaksa berubahnya sikap dan perilaku baru.
Dalam teori psikologi Kurt Lewin Perilaku = fungsi dari Kepribadian dan Lingkungan.
P = fungsi ( Kepribadian, Lingkungan)
Ia tidak mengutak atik Kepribadian masing masing orang ( terlalu lama) tapi ia merekayasa /memodifikasi faktor Lingkungan

Kondisi interior dan eksterior stasiun dirombak menjadi lux dan bersih, kesemrawutan dihilangkan, warung2 liar diusir, sistim pembelian tiket via online dan cashless, proses masuk menggunakan card, peraturan disiplin ditegakkan secara ketat dan keras untuk internal maupun untuk masyarakat , termasuk juga sistim sistim penilaian kinerja, sistim reward & punishment , sistim penggajian dll di internal manajemen. Para pegawai dikirim melihat langsung sistim perkeretaapian di beberapa negara maju.

Apakah tidak ada protes internal atau masyarakat? Ya banyak termasuk demo2 mahasiswa . LSM dan masyarakat.
Hasilnya??
Seperti pelayanan PT. KAI yang kita rasakan saat ini. Semua masyarakat puas, para Turis pun puas, pegawai puas, yang tidak kalah puas tentu Menteri Keuangan. Laporan keuangan yang minus berubah jadi plus, tidak tanggung tanggung sejak 2015 keuntungan sudah mendekati 1 T. tahun 2019 sudah 1,9 T.

Hasil yang lain?
Ketika masyarakat menengah pengguna jalan tol masih protes karena harus berubah dari membayar uang kas ke pemakaian kartu, dan berebutan saat masuk jalan tol. Masyarakat menengah bawah pelanggan KRL Jabodetabek , sudah terbiasa tertib dengan sistim antri dan masuk stasiun dengan gesek kartu.
Ketika tempat tempat fasilitas umum lain masih kotor, bau, sampah berserakan dan asap rokok dimana mana.
Toilet2 di stasiun sudah bersih dan wangi.

Para pengguna KAI dan KRL sudah mampu tertib dan menjaga kebersihan seperti masyarakat Singapura.
Jonan bukan saja mampu mengubah perusahaan yg ia pimpin tapi juga mampu mengubah sikap, perilaku ( budaya) masyarakat.
Itu sangat keren, sampai saat ini sepengetahuan saya belum ada CEO sebuah perusahaan negara mampu melakukan seperti itu.

Ia seorang profesional murni yang tidak punya utang budi, sehingga ia bisa lempeng dan lugas.
Menurut saya tanpa banyak teori ia telah mengaplikasikan Revolusi Mental Jokowi, dalam realita..

" Kok elo muji muji Jonan terus sih? '
" Ya iyalaaah pan sebagai ANKER anak kereta gw wajar berterima kasih sama dia"

Sumber : Status Facebook Eddy Sinang Trenggono

Sunday, June 28, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: