Seorang Dosen Kampus Islam & Swinger

ilustrasi

Oleh : Illian Deta Sari

Aku punya pengalaman yang IYYUH di fb dengan seorang dosen. Tadinya kuanggep angin lalu, kuanggap curhatan yang aku harus menyimpannya karena aku bisa dipercaya. Tapi semalam kubaca tulisan Laeliya Almuhsin tentang pengalamannya dan baca komen-komennya ternyata banyak yang jadi targetnya. Eh kusebut korban ya, korban dia buat dengerin kelakuannya. Pelakunya sama. So kuputuskan menuliskannya untuk jadi pelajaran buat yang bisa jadi target berikutnya. Oya, mayoritas yang sudah speak up berjilbab dan sejauh yang kutahu alumni UGM semua.

Suatu hari pak dosen yang kerja di kampus Islam yang juga influencer di twitter, tampak kalem dan alim ini japri aku. Awalnya nanya soal pengalaman pengalamanku di ICW, kuliahku diluar negeri, tanya soal metodologi riset dan seputar dunia akademis.

Sungguh pendekatan akademis meski ada yang aneh. Dia tanya gimana kuliahku di Selandia Baru. hehe.. hellooo.. Melben mas, Melbeeen. Dia bilang japri aku karena baca soal postinganku suka meneliti. Kujawab dia salah, aku kerjaan utama adalah ibu rumah tangga dan gak pernah posting penelitian, tapi posting sabun kecantikan. (Saat itu aku lagi aktif-aktifnya jualan sabun muka Nu Amoorea. Eh aku masih jualan loh hehe. yuk dibeli dibeliii).

Aku sempat komen gini: “Btw njenengan jg gak pernah berinteraksi dgn aku. Bahkan tadinya juga gak tau aku kuliah di luar negeri. Mungkin gak tau backgroundku apa, siapa. Kok tiba-tiba nanya soal penelitian? Random?”

Berikutnya dia cerita mau riset soal sesuatu yang katanya tabu. Kujawab biasa aja selama memang ilmiah toh banyak hal tabu jadi bahan penelitian. Kujelaskan itu tergantung nulisnya, perspektifnya, dan tujuannya mau dibawa kemana.

Dia mau minta pendapatku dan nanya apa aku bisa jaga rahasia. Ya kujawab bisalah. “Mbak dijaga ya ceritaku,” katanya. “Aku curhat bisa kan dijaga.” ~> yah mungkin ucapan gini yang membuat yang dijapri pada diam menganggap jaga amanah.

(Ehem, aku orang yang khusnudzon ya, kuanggap dia serius mau riset.. Meski aku brasa aneh karena aku gak kenal babar blas dan dia juga gak tau aku).

Dia akhirnya cerita mau riset soal swinger, atau berhubungan seks tukar pasangan. Maksudnya ada 2 pasangan suami istri, ngeseks bareng di suatu tempat, dan saling tukeran pasangan.?. Kukatakan dengan tegas aku gak tertarik diskusi isunya, kalau soal teknis aku masih jawab.

(Betewe semua chat di fb messenger masih tersimpan. Gak kuhapus. Dia sempat kukasih WA dan chat di WA jg)

Oya, dia cerita milih tema itu, biar geger dan viral#eaaaa

Menurutnya untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari nara sumber swinger, dia perlu melakukannya karena ini sesuatu yang banyak dan ada jaringannya. Menurutnya lagi, untuk bisa mendalami riset dan tau jaringannya itu ya harus melakukan.

Cara mendekati aku dan target lain dengan modus riset itu dilakukan bertahap. Gak langsung sih.

Berikutnya dia cerita sudah meminta istrinya membantu risetnya. Whattt.. (((( Membantuuuu )))). Artinya dia dan istrinya nyewa kamar satu atau dua, dan tukeran pasangan di situ. Pak dosen dengan istri temannya dan si istri itu dengan teman swingernya. Katanya si istri menolak dan marah. Kubilang wajar istri marah karena dia ngawur.

Di awal percakapan itu, kubiarkan dia ngoceh sambil kusambi-sambi.. Dia cerita nikah lama 11 tahun dan tak punya anak.

Dia nanya pendapatku. Kujawab ketus dan pendek-pendek sih.

Buatku Itu peneliti yang bodoh. Mau meneliti soal pembunuh ya tak harus jadi pembunuh. Mau penelitian soal prostitusi ya gak harus beli dulu atau jadi PSK “Peneliti tak harus melakukan hal seperti yang diteliti,” jawabku tegas. Kupikir penelitian apa. Jebul kayaknya dosen yang butuh crita kemesumannya. Meh ah.

Tiba-tiba beberapa hari berikutnya aku dijapri dr akun itu.

“Mbak, aku istri mas X.. Ini dia lupa log out dan kubaca messagenya sama mbak. Aku bingung mbak harus gimana,” katanya.

Awalnya aku tetep mikir khusnudzon dia perempuan yang butuh kutolong dan kudengarkan.

Berikutnya makin aneh dan membuat aku yakin dosen itu juga yang japri, bukan istrinya. Rupanya mau modus pendekatan curhat sesama perempuan. Meh deh.

Kubilang bahwa itu tak benar. Kalau suami maksa ya tolak. Tapi sesembaknya bilang takut dicerai. “Ya tinggal milih mau diajak swinger, atau atau mau cerai,” kataku tetep dingin. Bukannya tanpa empati. Soalnya aku ngrasa itu ya si dosen itu.

Entah berapa hari kemudian si istri japri aku lagi. Katanya dia mau menuruti suaminya karena sudah janji cuma sekali. Mereka sewa hotel dan tukeran pasangan. Aku membayangkan istrinya yang wajah lugu itu melakukannya.

(((( Bah.. Cerita apapulak ini! Kayaknya pak Dosen kelainan dan butuh cerita fantasynya, kepuasannya, kebanggaannya dan kesenangannga melakukan swingger. Atau bisa jadi mencari yang sefrekuensi, mencari kemungkinan partner baru karena yang dijapri banyak. Gak kutanggapi )))

Beberapa hari lagi, masih berkedok istri japri lewat fb messenger suami yg gak log out, pura pura lagi sedih dan nangis. Emang aneh sih. Tapi ya blum kublok saat itu.

Dia cerita diajakin pak dosen itu lagi buat swinger lagi. Ini gembus banget. Kayak dia butuh banget tempat cerita tapi gak mau solusi. Kujawab kalau tanya pendapatku ya ceraikan saja.

“Aku gak mau ditanya lagi. Karena jawabanku akan selalu sama,” tegasku galak pada tanggal 13 Juli 2019.

Berikutnya aku gak dijapri-japri lagi. Eh jebulnyaaaaaaa semalam aku baru tau Pak dosen ini menjapri ke sana sini. Beberapa mengaku pernah dihubungi dengan modus penelitian swinger ini oleh si dosen ini.

So buat yang lain, hati-hati ya. Hentikan percakapan dari awal. Jangan diladeni!

Salam manis,
Tulisan ini ditulis dengan niat agar tak jatuh korban. Aku kepikiran mahasiswinya.

Illin..

Sumber : Status Facebook Illian Deta Sari

Saturday, August 1, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: