Senyuman Si Koppig

Oleh: Denny Siregar

Kata Koppig itu dari bahasa Belanda yang artinya keras kepala. Kata ini dulu disematkan Bung Karno kepada Bang Ali Sadikin karena keras kepala dalam membangun Jakarta. Bang Ali adalah sosok kontroversial yang membangun jalan2 di Jakarta dari uang judi. Dia tidak pernah mundur sedikit pun dari langkahnya meski ditentang di mana-mana. Bahkan pada masa itu, tempelengan Bang Ali kepada bawahannya yang tidak becus kerjanya menjadi momok yang menakutkan.

Dan sekarang kata Koppig terangkat lagi, sesudah isi rekaman Freeport terbuka dan di situ pengusaha Reza Chalid bercerita bagaimana koppig-nya Presiden Jokowi. Sejak lama saya tahu bahwa beliau ini Koppig. Sikap keras kepala-nya yang terkenal adalah saat ia menjadi walikota Solo dan melawan Gubernur Jateng waktu, yaitu Bibit Waluyo. Gemasnya Bibit kepada Jokowi karena orang ini tidak bisa diperintah. Koppig itu bukan seperti Ahok yang frontal beradu argumen dengan sesuatu yang tidak disukainya. Koppig itu adalah keras kepala yang tersembunyi di balik senyuman, tidak banyak berkata dan membantah, tapi juga tidak mengerjakan apa yang diperintahkan.

Maka meledaklah Bibit Waluyo dengan sikap Jokowi. Ia sampai mengatakan di depan media bahwa Jokowi bodoh saking gemasnya. Dan ciri khas orang Koppig itu selalu menjawab dengan tanpa emosi. Jokowi senyum-senyum saja ketika dikonfirmasi wartawan bahwa, ia dimaki bodoh oleh Bibit.

"Iya, saya ini bodoh. Masih harus banyak belajar kepada orang. Dibilang begitu juga ndak apa-apa." Ngeselin kan?

Karena membaca latar belakangnya itulah yang membuat saya memilih dia sebagai Presiden pada waktu pilpres. Karena buat saya, seorang pemimpin haruslah koppig. Jika tidak koppig maka ia mudah diperintah oleh orang lain. Dan saya pun tertawa gelak ketika banyak meme yang menggambarkan bahwa Jokowi adalah boneka Megawati. Kurang baca mereka itu.

Koppig-nya Jokowi, seperti yang dikatakan Reza Chalid, terlihat saat ia bersama Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI. Tidak banyak ngomong, langsung bekukan. Jelas saja PSSI kelabakan.

Belum pernah PSSI mendapat perlakuan seperti ini. Biasanya mereka selalu di atas angin dengan ancaman "akan mendapat sanksi dari FIFA". Ancaman klasik yang selalu berhasil di pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Ketika akhirnya Jokowi membekukan organisasi mereka, PSSI bukan hanya seperti ditabok pantatnya tetapi juga digebuk dengan rotan sampai memerah.

Mereka sampai harus memanggil FIFA, induk organisasinya, supaya datang ke Indonesia utk meyakinkan Jokowi akan sanksi yang akan didapatkan Indonesia. Bukannya berhasil, PSSI malah tidak boleh masuk ke ruang pertemuan. Itu penghinaan besar buat PSSI yang selama ini jumawa dan merasa menjadi "bule" di Indonesia. Mental mereka langsung jatuh diperlakukan seperti itu sehingga yang bisa mereka lakukan hanya melolong kepada media. Bahkan, sekelas Agum Gumelar cuma bisa mengumpat tanpa bisa berbuat apa-apa.

Inilah yang ditakutkan kelompok "Papa Minta Saham" dalam rekaman itu. Koppig-nya Jokowi. Maka dari itu, mereka terus mencari jalan berputar dengan mencoba melibatkan Luhut, JK, Sudirman Said dan banyak lainnya. Ketika rekaman terbongkar maka cara paling bagus adalah mengadu domba Luhut, Sudirman Said dan JK dengan mengeluarkan artikel-artikel bertema "membongkar kedok", karena tidak mungkin menyerang Jokowi wong orangnya koppig.

Siapa lagi yang pernah merasakan koppig-nya Jokowi? Budi Gunawan sudah, apalagi petinggi-petinggi partai KIH sudah pasti pernah merasakan koppig-nya. Pun KMP yang dulu pernah merasa menang dengan menguasai parlemen, sekarang harus mulai menata celananya yang melorot ke tanah. Mungkin pas lagi meeting, di saat ada pejabat dan petinggi partai yang mencoba memaksakan kehendak mereka kepada Jokowi, dia hanya mengeluarkan senyumnya dari wajah yang tidak berdosa.

Pejabat dan petinggi partai yang sudah hapal bahwa senyuman itu berarti koppig-nya Jokowi keluar, mungkin di toilet langsung pada mengunyah tisu dan membentur-benturkan kepala ke kaca.

"Dia senyum ... dia senyum ... Lihat senyumnya itu.... Argghhhhhhh!!"

(Sumber: www.dennysiregar.com)

Wednesday, December 2, 2015 - 10:45
Kategori Rubrik: