Senjakala Kedamaian Jogjakarta?

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

"Pripun mas,Sinuwun kok mendel mawon?" Saya bertanya kepada karib mengenai reaksi masyarakat Jogya akan diamnya Sri Sultan Hamengkubuwono soal intoleransi yang menguasai Jogya.

Jawabannya mengejutkan. "Embuh mas.Kraton mboten keramat malih." Kraton Jogya,katanya, tidak ada wibawanya lagi. Tidak ada sinar mistis yang dahulu banyak masyarakat Jogya menyakini Sri Sultan adalah penguasa sekaligus pengendali Lautan Kidul dan Gunung Merapi.

Jogya dijajah oleh serbuan wisatawan domestik ketika liburan yang memaksa penduduknya tinggal dirumah karena jalanan sekitar Yogya macet seperti di Bandung. 
Kota inipun lantas seperti Bandung. Yang jalan sendirian tanpa kepemimpinan.

Rakyatnya berjuang sendirian disela-sela baliho dan papan reklame yang bikin sumpek. Malioboro hanya cantik ketika tengah malam ketika pedagang sudah kukutan. Saat sepi melintasi Gedung Agung dan duduk sementara didepan Benteng Vredeburg. Sambil mengenang sejarah ratusan tahun silam bahwa pertarungan elit Tanah Jawa lengkap dengan penghianatannya satu sama lain dengan Belanda meraih keuntungan terbesar pernah terjadi di Tanah Jogya.

Sultan dipandang sebagai sabdo pandita ratu. Suara Tuhan. Tidak layak rakyat jelata memprotes. Melihat wajahnyapun saru dan menghadap dia harus laku dodok dan ketika selesai rakyat jelata harus mundur karena pantang memantati Sultan. Jikapun penderitaan tak terperikan, jelata menjemur diri tanpa kata di depan kraton mengharap belas kasihan Sultan.

Pejah gesang melu Sultan. Adalah teriakan ketika Sultan tunjuk siapa partai yang dipilihnya. Tak heran jika Golkar terus mendominasi Jogya selama puluhan tahun. Dalam benak masyarakat Jogya, adalah keberkahan batin mempunyai seorang Sultan. Suasana kebatinan menyebabkan masyarakat Jogya lebih lentur dalam menerima cobaan. Mengalah dan mengalah pada kekuatan yang makin lama makin menjajah, termasuk radikalisme yang jahiliyah.

Masyarakat Jogya terus mengalah manakala organisasi Islam radikal membubarkan kirab lulusan SLTA di Tugu. Mereka diam melihat radikalisme mengancam kampus -kampus Kristen. Mereka diam ketika gerombolan radikal mencanangkan Daerah Istimewa ini sebagai Serambi Madinah padahal disini mereka berbudaya Jawa yang agung serta toleran.

Mereka juga tidak berdaya melihat rentetan perusakan gereja dan terakhir penganiayaan yang terjadi ditengah ibadah berlangsung di sebuah gereja Katholik. Mereka hanya berbuat semampunya, seperti menjaga gereja dan masjid.

Tidak terpikir sedikitpun dalam benak mereka, Sultan turun tangan. Sejak lama terjadi korosi kewibawaan manakala trah Hamengkubuwono dan Paku Alam berebut jabatan.

Sabdo pandito ratu tidak lagi keramat. Dia tamat dibalik kecurangan masif pedagang di Malioboro dan siasat licik para pengemudi becak serta pertarungan sengit taksi online di Adi Sucipto.

Sabda Sultan kalaupun ada menanggapi insiden pembacokan seorang pastur hanyalah dianggap sebagai basa basi belaka. Karena dia sudah kehilangan makna, seperti Kali Urang yang tidak dingin dan asri lagi ditelan penjajah.

Dan masyarakat Jogya seperti biasa. Diam. Pasrah. Menyerah.

Serasa patah hati melihat Jogya seperti ini.

Aku menyaksikanmu dengan setangkup haru tanpa rindu.

Tidak ada lagi senyummu yang abadi.

Seiring laraku kehilanganmu

Merintih sendiri

Di telan deru kotamu ...

Dan ketidakperdulian Sultanmu

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Wednesday, February 14, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: